PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 121 Tersenyumlah Karena Kamu Mampu


__ADS_3

..."Selama ini cinta tidak mengenal kedalamannya sendiri sampai saat perpisahan." - Kahlil Gibran...


Qonita memeluk erat suaminya. Mencoba memberikan dukungan pada papi calon anaknya itu.


"Aku menyesal, Sayang. Keegoisanku menyakiti terlalu banyak orang. Termasuk Kamu." Iman berucap lirih.


Qonita mencoba tersenyum meski terlalu sulit. Ia tarik nafas dalam.


"Udah ya, Bang. Jangan sesali yang udah terjadi. Jadikan pelajaran aja."


"Aku minta maaf, Sayang. Gak jujur sama, Kamu. Kamu pasti terluka sangat dalam. Aku tahu permasalahanmu yang lalu, tapi Aku malah melakukan kesalahan yang sama padamu. Maafkan Aku."


Qonita mengangguk sekali. Dia biarkan suaminya mengeluarkan apa yang selama ini suaminya pendam. Menghilangkan sesak yang dirasakan.


"Aku gak mau kehilangan Kamu, Sayang. Aku bersungguh-sungguh mecintaimu. Maaf, Aku egois lagi padamu, Sayang tolong jangan tinggalkan Aku. Aku gak bisa kehilangan Kamu."


"Qonita gak akan meninggalkan Abang. Tapi jangan melakukan kesalahan lagi," ujar Qonita. Iman mengangguk.


"Sayang, Aku belum menceraikannya. Kasih Aku waktu, ya. Beberapa hari ini, Aku akan mengurus semuanya."


Qonita terkejut. "Mengurus apa, Bang?"


"Aku gak bisa terus bersamanya, Sayang. Semua akan terluka. Termasuk Mayang sendiri. Dulu Aku berfikir dengan diam-diam menikahinya adalah keputusan yang tepat, ternyata Aku salah. Aku malah menyakiti kalian bertiga sekaligus," imbuh Iman.


"Jihan bahkan meninggal karenanya. Kamu terluka dan memendamnya sendirian. Dan Mayang hidup dalam persembunyian," sambung Iman.


"Aku akan menemui Mayang dan orang tuanya di Jakarta. Izinkan Aku kesana ya, Sayang."


"Abang udah memikirkannya?" tanya Qonita.


Iman mengangguk. "Boleh Aku pergi, besok?"


Qonita kaget. "Besok?"


"Kalau dapat tiket. Aku pergi besok, Sayang."


"Ya udah, Abang hati-hati, ya. Qonita akan menyiapkan pakaian Abang."


Iman menahan tangan Qonita. "Disini aja, Sayang. Temani Aku. Aku butuh Kamu. Besok Aku akan menyiapkannya sendiri."

__ADS_1


Iman membaringkan dirinya. Ia tarik istrinya dalam dekapannya.


"Maaf udah menyakitimu. Maaf cintaku egois padamu. Jangan tinggalkan Aku, Sayang."


Iman dan Qonita pun tertidur bersama.


❤️❤️❤️


Jakarta


Mayang sudah kembali ke Jakarta semalam sore. Dia pulang dengan wajah sendu. Capek, itulah alasannya pada keluarganya.


Orang tuanya menebak-nebak apa yang terjadi. Karena hingga saat ini wajahnya masih saja murung, orang tuanya memutuskan menyuruh Agil dan Rangga untuk datang.


Kelucuan Rangga, selama ini memang bisa membuat Mayang tertawa. Meski dia masih bersikap sungkan pada Agil, papa dari anak menggemaskan itu.


Pukul 2 siang Agil datang ke rumah pak Erlangga. Mayang sedang menemani Yuna belajar. Tidak melanjutkan TK disana membuat Yuna meminta maminya untuk mengajarinya membaca.


Melihat Agil yang datang bersama Rangga, Yuna merasa senang. Sementara Mayang merasa kaget. Bukankah seharusnya Agil berada di kantor di jam kerja seperti ini?


Bu Irma yang mengetahui Agil datang langsung mengambil Rangga.


"Ayo Yuna kita main sama Rangga." Bu Irma mengajak cucunya.


"Eh, silahkan. Saya pamit ke dalam," ujar Mayang.


"Mayang..." Agil memanggil Mayang yang akan beranjak pergi.


"Ya?" seru Mayang.


"Bisa duduk disini sebentar?" pinta Agil.


Mayang tampak berfikir. Tidak butuh waktu lama dia duduk di hadapan Agil.


"Kamu lagi sakit?" tanya Agil membuka obrolan.


"Nggak, cuma kecapean aja," kilah Mayang.


"Baru balik dari Medan?" tanya Agil.

__ADS_1


"Iya." Mayang mengulas senyum tipis.


"Mayang, berbahagialah."


Deg


Mayang mengangkat wajahnya yang tadi sempat menunduk. Ia menatap Agil dalam.


"Bahagia itu pilihan. Kamu memiliki seorang putri. Hidup bahagialah bersamanya. Aura negatif itu mudah menular. Jangan tularkan kesedihanmu pada anakmu. Kamu dan anakmu berhak hidup bahagia."


Deg


Mayang merasa tertusuk oleh kalimat-kalimat Agil. Namun dia tidak marah. Karena apa yang dikatakan Agil benar semua.


Namun entah mengapa, mendengar Agil berkata demikian membuat setetes air mata Mayang jatuh. Entah karena memang merasa sedih atau karena belum pernah ada laki-laki lain yang seperhatian ini padanya sebelumnya. Entahlah... Yang pasti air mata Mayang menetes begitu saja.


Sejak menikah bersama Iman, dia menutup diri dari dunia luar. Delapan tahun lamanya, baru kali ini dia mendapat perhatian dari selain suaminya.


Agil berjongkok tepat didepan Mayang. Lutut kaki kirinya menyentuh lantai, sementara lutut kaki kanannya tegak menopang tangan kanannya.


"Sedang menangis pun Kamu memang terlihat cantik, tapi lebih cantik lagi jika tersenyum. Jangan nangis. Atau Aku akan ci um Kamu. Seperti itu kebiasaanku menghentikan tangisan Rangga."


Deg


Mata Mayang melotot seketika. Dia hapus sisa air mata di wajahnya. Laki-laki dihadapannya ini sedang membujuk atau sedang mengancamnya?


Melihat Mayang seperti itu, Agil malah mengacak rambut Mayang.


"Anak yang baik," ungkap Agil sambil kembali berdiri, hendak duduk ditempatnya tadi.


Namun tawa Agil setelahnya membuat Mayang merasa kesal. Mayang memanyunkan bibirnya.


"Hahaha..." Agil tergelak kembali. "Kamu sama persis seperti Rangga."


Mendengar ocehan Agil membuat Mayang semakin kesal. Namun hatinya kembali terdetak kala Agil mengucapkan sebuah kalimat sederhana namun terasa dari dalam hati.


"Tersenyumlah. Karena Aku tahu Kamu mampu." Agil menatap lembut pada Mayang.


Mata mereka bertemu, saling menyelami satu sama lain. Mayang yang biasa menunduk atau bahkan mengelak saat bersitatap dengan Agil, kali ini tidak melakukan demikian. Seolah sedang mencari sesuatu di dalam mata pria yang kadar ketampanannya itu selevel dengan wajah suaminya.

__ADS_1


❤️❤️❤️


"Biarlah jiwaku tersenyum melalui hatiku dan hatiku tersenyum melalui mataku, agar aku dapat menyebarkan senyuman di dalam hati yang sedih." - Paramahansa Yogananda.


__ADS_2