
Sore hari, Iman dan keluarga nya sampai di rumah mereka. Sebelum pulang, terjadi drama di rumah oma Herni.
Oma Herni meminta mereka untuk menginap disana, sehingga Qonita menjanjikan di lain waktu akan menginap, karena mereka tidak memiliki persiapan sebelumnya.
Sementara Opa Pras meminta janji Fuad untuk menemaninya berkeliling.
Sampai di rumah, Qonita memandikan anak-anak. Mereka berkumpul di kamar Fuad dan Nabil.
Jamal datang ke rumah Iman. Sebelumnya Jamal memang menghubungi Iman terlebih dahulu. Sesuai kesepakatan, sepulang dari kantor, Jamal langsung menuju rumah Iman.
Sesampainya Jamal, Iman dan Jamal langsung menuju ruang kerja Iman. Disana memang Iman menghabiskan waktu jika sedang bekerja di rumah.
"Semalam, perusahaan Citra Mandiri menanyakan kapan Bos masuk kantor," ucap Jamal setelah Iman menyelesaikan beberapa berkas yang harus ditandatanganinya.
Iman terkejut. Kenapa Mayang menanyakan dirinya.
Walaupun mereka hanya berdua saja di ruang kerja itu, tetapi Iman dan Jamal tetap bersikap seprofesional mungkin, demi menghindari munculnya masalah.
"Ada keperluan apa?" tanya Iman datar.
Jamal menarik nafas. "Sepertinya Bos sudah bisa menebak kemauan perusahaan mereka. Sepertinya perusahaan itu sudah tidak seprofesinal dulu, Bos."
Iman melirik pada Jamal.
"Mungkin mereka pikir, perusahaan kita tidak boleh bekerja sama dengan perusahaan lain, hanya karena kita sudah menjalin hubungan dengan mereka."
"Apa yang mereka katakan?" tanya Jamal.
"Mereka meminta agar Bos, segera menghubungi mereka."
Iman terlihat tidak senang. "Ini gak sesuai perjanjian awal. Aku udah bilang gak bisa jumpa dalam waktu dekat. Paling cepat 3 minggu setelah pernikahanku."
"Bahkan mereka menanyakan sehari setelah Bos menikah," ujar Jamal.
"S!al." Iman tampak marah. "Tolong Kamu urus! Sampaikan Aku gak bisa memenuhi permintaan mereka. Aku gak mau diganggu 2 minggu ini."
"Siap, Bos."
"Mungkin Aku bakal cuti 2 minggu, tolong Kamu handle urusan kantor."
"Apa? Bukannya Bos bilang paling lama cuma 1 minggu?" tanya Jamal terkejut.
"Aku mau temani Qonita habiskan masa cutinya."
Jamal menelan ludahnya. "Bawa ke kantor aja kali, Bos."
Tiba-tiba Iman menyeringai. "Bisa siapkan kamar untuk Aku di kantor?"
"Astagfirullah. Apa lagi ini, Bro?" gerutu Jamal.
"Ck. Tinggal panggil tukang doank."
"Di rumah aja udah, mesti kali di kantor juga, cih." Jamal terlihat mengejek. Mengerti apa yang difikirkan Bos nya itu.
"Sensasinya, Mal." Iman menyeringai.
"Mau diletak dimana, Bro?" tanya Jamal kesal.
"Ya diruanganku lah, dimana lagi?"
"Di meja aja udah, di sofa juga bisa. Mesti ya pake tempat tidur? Ke hotel seberang kantor aja sekalian."
__ADS_1
"Ck. Ada CCTV. Qonita nggak akan mau walau CCTV nya dimatikan. Buat kecil aja, tempat tidurnya cukup 4 kaki. Aku gak butuh yang lebar." Iman tersenyum menyeringai.
Jamal menarik nafas berat.
"Sesekali Aku juga bakal bawa Fuad ke kantor. Papa suruh Aku ngelakuin kayak apa yang dulu papa lakukan ke Aku. Biar Fuad bisa istirahat disitu."
Jamal mengejek. "Fuad apa bundanya?"
"Hahaha... Dua-duanya." Iman tersenyum puas.
"Mau mempersiakan Fuad agar siap menduduki tahta? Apa Qonita gak marah?"
"Ck. Aku gak akan maksa Fuad. Setidaknya aku cuma mengarahkan aja." Iman menyeringai tipis.
"Terserah."
❤️❤️❤️
Sementara di kamar Fuad dan Nabil, Qonita mengajak Ichy bercerita.
"Kakak, seneng gak main sama Fuad dan adek Nabil, Nak?" tanya Qonita pada Ichy.
"Senang, Bunda," jawab Ichy tersenyum cerah.
"Seru, ya?"
"Iya, Bunda."
"Main sama teman-teman di TK seru juga, berarti, ya?"
Ichy terdiam.
"Pertama-tama kawan Bunda dulu, cuma dua orang, Sayang. Terus, Bunda lihatin teman-teman yang lain pada akrab. Main sama-sama, belajar sama-sama, seru lho, Sayang."
"Kalau temannya cuma sedikit kan, sepi," ucap Qonita dengan wajah sedih. "Terus, Bunda mulai dekatin teman-teman yang lain. Kalau jumpa, Bunda sapa mereka. Ikut gabung main sama mereka."
"Asyik ya, Bunda?"
"Iya, Sayang," ucap Qonita bersemangat. "Lama-lama teman Bunda jadi banyak, lho."
"Kakak, mau juga ah punya banyak teman."
"Wah bagus, Sayang. Bunda yakin pasti teman-teman Kakak senang main sama Kakak. Buktinya, adek Fuad dan Nabil selalu senang kalau main sama Kakak. Fuad dan Nabil, senang gak, main sama Kak Ichy?" tanya Qonita pada Fuad dan Nabil.
"Senang, Bunda," jawab Fuad dan Nabil kompak.
Mendengar itu, Ichy senang dan bersemangat. "Nanti dekatin teman-teman main ya, Bunda?"
"Iya, Sayang. Tapi yang diikutin yang baik-baik aja ya, Nak. Kalau ada teman yang suka gangguin teman yang lain, jangan diikutin ya, Sayang."
"Ada, Bunda. Si Eliana pernah dorong si Nayra sampai jatuh," ungkap Ichy.
"Yang gitu gak boleh diikutin ya, Nak." Ichy mengangguk mendengar ucapan Qonita. "Kakak, pernah diganggu gak, Sayang?"
"Gak pernah, Bunda."
"Kalau diganggu suka, gak?"
"Enggak, Bunda."
"Makanya kita tidak boleh menganggu teman ya, Sayang. Nanti kalau ada yang jahat sama Kakak, cerita sama Bunda ya, Nak."
__ADS_1
"Iya, Bunda."
Qonita mengelus sayang rambut Ichy.
❤️❤️❤️
Setelah makan malam, Iman dan keluarganya berkumpul di ruang keluarga.
"Besok kita ke rumah nantulang, Sayang?" tanya Iman pada Qonita. Yang Iman maksud adalah rumah mamanya Qonita.
"Em, gak usah aja ya, Bang. Ke rumah mama Sabtu aja, ya. Biar sekalian jumpa sama Bang Fiqri, disana."
"Oh, boleh," jawab Iman.
"Kalau besok kita ziarah, mau gak, Bang?"
"Ziarah kemana, Sayang? Makam papa Kamu?"
"Bukan, Bang." Qonita menggeleng. "Maminya Ichy."
Iman kaget mendengarnya. .
"Habis itu kita ke rumah opa dan omanya Ichy, ya."
"Orang tua Jihan?" tanya Iman terkejut.
Qonita mengangguk. "Mau kan, Bang?" tanya Qonita lembut.
Iman menelan ludahnya. "Iya, Sayang."
Iman tampak terdiam lama setelah itu. Raut wajahnya datar. Qonita menyadarinya. Ia menggelayut manja di lengan suaminya.
"Tadi mama nanyain, Abang."
"Hem," Iman tersadar dari lamunannya. "Nanyak apa, Sayang?"
"Nanyak Abang mainnya ganas, apa nggak?" Qonita menahan malu.
"Hahaha..." Iman tergelak seketika. "Jadi Kamu jawab apa?"
"Gak jawab apa-apa, kaget aja." Iman tersenyum mendengarnya.
"Tau gak, Bang. Masa' tadi Mama bilangnya gini." Qonita terdiam, merasa malu melanjutkannya.
"Apa?" tanya Iman lembut.
"Mama khawatir, soalnya burung Abang udah lama gak masuk sangkar." Wajah Qonita sudah merona menahan malu.
"Hahaha... S!al." Iman tergelak mendengarnya, apalagi ditambah Qonita yang malu-malu mengucapkannya.
"Aduh," teriak Iman kala sebuah cubitan terasa di perutnya.
"Abang ngomongnya yang bagus, ih," ujar Qonita kesal.
"Maaf, Sayang. Aku keceplosan."
"Ngomongnya yang baik-baik, Abang."
"Iya, Sayang, iya. Maaf, ya." Iman mengelus kepala Qonita. Qonita mengangguk. Ia menggenggam erat tangan suaminya.
Sebenarnya tadi Qonita tidak ingin membicarakan perkataan mama mertuanya itu. Hanya saja, melihat perubahan wajah Iman tadi ketika membicarakan Jihan dan ke rumah orang tuanya, akhirnya Qonita mencari jalan agar wajah suaminya kembali cerah.
__ADS_1
Benar saja, Bukan. Wajah suaminya berubah 180 derajat dalam sekejap.