
Setelah makan malam mereka berkumpul. Sudah ada kue ulang tahun di tengah-tengah mereka. Mereka pun menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Yuna.
Yuna memotong kuenya. Yuna merasa sangat senang pada ulang tahunnya kali ini. Jika selama ini dia hanya merayakan bersama papi, mami, bik Yati, Mang Didi dan Mai, tapi kali ini berbeda. Kali ini dia berkumpul bersama papi, mami, opa, oma, dan keluarga lainnya.
Para lelaki berkumpul bersama. Terdengar antusias mereka saling menyahut. Mayang mendekati Qonita yang sedang duduk di kursi panjang.
"Hamilnya kembar? tanya Mayang pada Qonita.
"Iya, Alhamdulillah," ujar Qonita.
"Iman jadi biayai banyak anak, ya. Ichy, ditambah dua anak Kamu," imbuh Mayang.
Qonita hanya mengangguk, sambil berusaha untuk tersenyum.
"Berapa Iman kasih bulanan ke Kamu?" tanya Mayang.
"Maaf Mba, Saya gak punya keharusan untuk menceritakannya ke Mba. Masalah rumah tangga kami biarlah menjadi urusan kami saja," ucap Qonita tenang.
"Jangan lupa Iman masih punya tanggung jawab terhadap Yuna," imbuh Mayang.
"Maksud Mba diluar materi?" tanya Qonita.
"Iman juga masih punya tanggung jawab materi pada Yuna."
__ADS_1
"Bukannya Mba yang meminta 10 M pada Abang?" tanya Qonita
"Benar, tapi kalau uangnya kurang, tentu Aku bakal minta Iman lagi, kan."
Qonita hanya diam. Tidak ingin mendebat Mayang lagi.
"Kamu gak keberatan, kan?"
"Saya gak pernah mencampuri apa yang menjadi urusan Abang. Dan saya akan selalu mendukung Abang untuk memenuhi apa yang menjadi tanggung jawabnya."
"Baguslah. Kamu tentu paham bukan. Kedua anak laki-laki Kamu bukan lah tanggung jawab Iman."
"Mba juga tentu paham kan, bagian itu juga tidak ada sangkut pautnya dengan Mba."
"Aku cuma gak mau, apa yang harusnya menjadi milik Aku dan Yuna, kini berubah menjadi milik Kamu dan anak-anak Kamu."
Deg
"Harusnya Iman memperjuangkan Aku. Bukannya malah menikahi Kamu."
Kini Qonita mengetahui semuanya. Tidak ada guna dia meladeni Mayang. Mayang masih belum bisa menerima keadaan yang sudah terjadi.
"Kamu tahu Mas Agil, bahkan dia menunggu Aku sejak Aku belum berpisah dari Iman. Jika dilihat dari bibit, bebet dan bobotnya Mas Agil itu selevel sama Iman."
__ADS_1
"Kalau begitu bukannya Mba harusnya bersyukur?"
"Benar. Aku cuma kasihan sama Iman, gak mendapat pengganti yang selevel."
Qonita tertawa. "Tapi kenapa Mba malah seperti memperlihatkan posisi yang patut dikasihani dan bukan mengasihani?"
"Kamu..." Mayang marah mendengar ucapan Qonita. Tangannya mengepal. Ia ingin melakukan sesuatu pada Qonita tapi tidak mungkin.
"Selamanya Kamu akan hidup dibayangi oleh Aku dan Jihan. Mungkin saat ini Kamu bisa bahagia, tapi nanti lihat aja, Iman pasti akan membandingkan Aku dan Jihan dengan Kamu."
Qonita tersenyum. "Mba gak ada niat untuk menikah dengan Mas Agil?"
Mayang mengernyit. "Tentu aja Aku gak akan menolak laki-laki hebat seperti dia. Iman mungkin akan menyesal udah melepaskan Aku. Dan Aku malah dapat pengganti yang sama hebatnya dengan dia."
"Apa Mba gak takut hidup dibayangi oleh mantan istri Mas Agil?" tanya Qonita tersenyum.
Deg
Mayang menelan ludahnya.
Bukan seperti ini yang dia inginkan.
"Istrinya Mas Agil udah meninggal. Aku gak perlu mengkhawatirkannya."
__ADS_1
"Jadi tadi maksud Mba. Bahwa Saya akan selalu dibayangi oleh Mba dan Yuna? Bukan Mba dan Mba Jihan? Kalau itu Mba gak perlu khawatir. Saya sudah sangat paham akan keadaannya. Dan saya sudah siap untuk itu."
❤️❤️❤️