
Jakarta
Yuna sedang bermain bersama Rangga. Mayang memperhatikan sekeliling rumah Agil. Rumah yang cukup mewah dan besar. Mayang sampai berfikir, laki-laki kaya dan tampan seperti Agil, harusnya tidak sulit mendapatkan pengganti istrinya.
"Suka sama rumah ini?" tanya Agil pada Mayang.
Mayang mengangguk. "Bagus, Mas."
"Mau kan nanti tinggal disini?" tanya Agil.
"M... mas," seru Mayang kikuk.
"Setelah menikah, nanti kita tinggal disini, ya," imbuh Agil.
Mayang pun mengangguk pelan. Agil tersenyum melihatnya.
"Mas Agil punya berapa saudara?" tanya Mayang.
"Aku anak pertama dari 3 bersaudara. Nomor 2 dan 3 perempuan. Keduanya udah menikah. Mereka tinggal di Bali, begitu juga dengan kedua orang tuaku," ungkap Agil.
"Bali?" tanya Mayang.
Agil mengangguk. "Nanti kita kesana sekalian honeymoon," tutur Agil sambil tersenyum.
Wajah Mayang berubah merah.
"Mas Agil kenapa belum nikah lagi? Mas Agil mapan dan tampan, pasti banyak yang suka." Mayang menoleh pada Agil.
Agil terkekeh kecil. "Mungkin karena jodohku adalah Kamu. Jadi Aku nunggu Kamu sigle dulu."
Mayang menggeleng geli mendengar jawaban Agil. "Udah ah, gabung sama anak-anak aja."
"Mami, kog papa ditinggal seh." Agil sengaja menggoda Mayang. Memanggil Mayang dengan sebutan mami, dan dirinya sendiri dengan panggilan papa.
Mayang mencebik mendengarnya.
Mayang dan Agil bergabung bersama Yuna dan Rangga. Ada baby sitter Rangga yang menemani disana.
Masuk jam makan siang, mereka pun menuju meja makan untuk makan bersama. ART di rumah Agil yang menyiapkan hidangannya.
__ADS_1
"Mas, ini mau makan untuk berapa banyak orang? Kog banyak banget," seru Mayang heran karena jumlah hidangan yang menurutnya terlalu banyak.
"Kan Aku udah bilang tadi, Aku udah siapin untuk nyambut Kamu," sahut Agil.
"Mas cuma merintah doank, yang ngerjain kan ART." Mayang mengejek Agil.
Agil tergelak mendengar protes Mayang. "Sama aja, bos kan tinggal ngatur. Bukan begitu?" Agil menaikkan alis matanya sambil tersenyum memandang Mayang.
"Siap, Pak Bos." Mayang mengangkat kelima jemarinya ke arah sudut mata kanannya, tanda menghormat pada Agil.
Hal itu tentu saja membuat Agil kembali tergelak. "Bu Bos, ayo makan," ajak Agil. Agil mencondongkan tubuhnya ke arah Mayang. "Atau Kamu yang mau Aku makan?" bisik Agil, ada seringai licik yang dipertunjukkan Agil.
Mayang bersungut mendengar ucapan Agil. Matanya memicing berpura-pura marah. Agil malah makin tersenyum melihatnya.
Setelah makan bersama, ternyata Rangga sudah tidur. Agil mengajak Mayang dan Yuna melihat album foto miliknya dan Rangga. Ada foto mamanya Rangga disana.
"Ini mamanya Rangga, Mas?" tanya Mayang pada Agil, dia menunjuk sebuah foto dimana perempuan berambut lurus sebahu sedang tersenyum, sangat cantik.
"Iya, istriku," jawab Agil dengan mata penuh cinta.
"Kamu pasti sangat mencintainya, Mas," imbuh Mayang.
Mayang terdiam mendengarnya. Pantas saja Agil belum menikah lagi. Mungkin dia belum bisa melupakan istrinya.
Agil melihat Mayang tampak diam setelah mendengar ucapannya.
"Jangan cemburu," ucap Agil pada Mayang.
"Nggak, Mas. Aku gak cemburu. Aku cuma khawatir Kamu nanti kecewa sama Aku karena Aku gak sesabar istri Kamu dulu," ungkap Mayang.
"Kamu gak harus seperti dia, Mayang. Jadi lah diri Kamu sendiri. Karena Kamu dan dia berbeda," imbuh Agil.
"Iya, Mas." Mayang tersenyum menatap Agil. Agil balas tersenyum pada Mayang.
"Eh, Yuna ketiduran, ya?" Mayang baru sadar kalau ternyata Yuna sudah tertidur sambil memegang beberapa lembar foto.
"Aku pindahin ke kamar Rangga aja, ya," seru Agil.
"Boleh, Mas."
__ADS_1
Agil pun mengangkat tubuh mungil Yuna ke kamar Rangga. Mayang mengikuti Agil dibelakangnya.
Setelah Agil meletakkan Yuna di tempat tidur Rangga, Agil menitipkan Yuna pada baby sitter Rangga.
Lalu ia menggenggam tangan Mayang. Dia tarik dan bawa keluar menuju sebuah kamar yang lain.
"Kita mau kemana, Mas?" tanya Mayang bingung.
"Ke kamarku," ucap Agi sambil terus berjalan.
Mata Mayang mendelik mendengarnya.
"M-mau ngapai, Mas?" Mayang berhenti begitu Agil sudah membuka pintu sebuah Kamar, yang kemungkinan adalah kamar Agil.
"Istirahat. Anak-anak udah tidur. Sekarang giliran kita," ujar Agil.
Agil menarik tangan Mayang agar Mayang mau masuk. Setelah masuk Agil mengunci pintu kamarnya.
"Kenapa dikunci, Mas?" tanya Mayang merasa khawatir.
"Aku kalau tidur biasa ngunci kamar, Mayang."
"Tapi kita berdua di kamar, Mas. Nanti apa kata orang," imbuh Mayang.
"Gak akan ada yang nanyak. Percaya sama Aku. Ayok tidur," ajak Agil. Agil kembali menarik tangan Mayang menuju tempat tidurnya.
"Tapi, Mas. Aku tidur di luar aja ya," seru Mayang.
"Duduk." Agil mendudukkan Mayang di tepi tempat tidurnya. Lalu Agil ikut duduk tepat disebelah Mayang, wajah mereka saling berhadapan.
"Kamu takut sama Aku? Gak percaya sama Aku?" tanya Agil pada Mayang yang sedang menunduk.
"Bukan gitu, Mas. Aku..." Mayang bingung harus mengatakan apa.
"Kamu masih ragu sama Aku?" tanya Agil lagi.
Mayang menggeleng.
"Mayang, Aku cinta Kamu."
__ADS_1
❤️❤️❤️