PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 75 Memendam Rasa


__ADS_3

Binjai Sumatera Utara


Iman POV


Sudah jam 10 malam lewat. Qonita tidak juga menghubungiku. S!al. Ada apa ini. Aku benar-benar gak tenang.


"Halo," ucap Jamal setelah mengangkat telfonku.


"Tolong lihat jadwal penerbangan Bandung-Medan. Aku mau pulang," ucapku.


"Gilak. Ada apa?" umpatnya dari sana.


"Ada apa, Bang?" Terdengar suara Ria. Mungkin Jamal sudah tidur tadi.


"Gak ada, Dek. Ada bos lucknut yang gak tau jadwal istirahat orang. Bisa-bisanya ilangin data yang udah susah payah Abang buat. Untung di laptop Abang masih ada. Abang ke ruang kerja dulu, ya." Kudengar Jamal berbicara pada istrinya. S!al, dia ngatain Aku bos lucknut.


"Ria ngantuk, Bang. Gapapa kan Ria lanjut tidur."


"Gak apa, Dek. Tidur lagi aja, ya."


Ku dengar suara pintu. Mungkin Jamal sudah keluar dari kamar.


"Ada masalah apa?" tanyanya.


"Qonita ngehindari Aku. Aku gak tenang. Aku harus pulang."


"Bisa ceritain masalah kalian apa?"


"Aku juga gak tau. Aku telfon dia. Yang angkat anak-anak. Trus Aku bilang mau ngomong ama dia. Tapi dia lagi di kamar mandi. Dan bilang nanti mau hubungin Aku. Udah 2 jam Aku nunggu, sampe sekarang dia gak ada hubungin Aku."


"Trus gara-gara itu Lo mau pulang?"


"Atau coba Kamu yang kesana, ajak Ria."


"Apa? Kurang kerjaan banget malam gini Aku kesana. Ini malam woi, waktunya tidur. Bukan malah bertamu."


"Ck. Aku yakin pasti ada sesuatu."


"Lo udah telfon dia lagi?"


"Belum."


"Huft. Lo tuh kalok berhubungan ama Qonita jadi bod0h begini. Ya Lo telfon lah. Sekarang coba telfon dia. Gue tunggu. Ntar gimana Lo kabari Gue."


"Hem."


Saat hendak menghubungi Qonita, Hp ku berbunyi. Aku melihat ada satu pesan masuk dari istriku, Qonita.


"Assalamu'alaikum, Abang. Semoga Abang bahagia disana dan senantiasa dalam lindungan Allah. Qonita minta maaf ya Bang, untuk setiap salah dan khilaf Qonita. Qonita banyak kurangnya, semoga Abang Ridho pada Qonita."


Aku mengernyit heran. Kenapa isi pesan Qonita jadi berbeda seperti ini. Apa maksudnya berkata semoga Aku bahagia disini. Dan kenapa dia bilang dia banyak kurangnya. Ah, pusing jadinya. Lebih baik kuhubungi saja dia.


Agak lama baru dia mengangkat panggilan video ku.


"Assalamu'alaikum, Abang." Dia tersenyum tipis padaku.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam, Sayang. Kamu kenapa, Sayang?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Kenapa apanya, Bang?"


"Aku nungguin Kamu dari tadi, Sayang. Aku rindu." Kulihat dia tersenyum, wajahnya terlihat tidak bersemangat, apa mungkin karena mengantuk.


"Sama, Bang. Qonita juga rindu. Pengen Abang ada disini peluk Qonita."


"Andai ada jadwal penerbangan malam ini, Aku pasti pulang, Sayang."


"Bohong," ucapnya dengan manja.


"Beneran, Sayang. Untuk apa Aku disini kalau istriku menginginkanku disana."


"Kalau gitu Abang jangan keluar kota lagi."


Deg


"Kan demi kalian juga, Sayang. Aku juga berat pisah 3 hari dari anak dan istriku. Kalau boleh milih Aku pengen selalu sama kalian, Sayang."


"Kalau gitu Abang pilih kami, aja."


Deg


"Sayang..."


"Ya, Bang."


"Aku gak akan memilih kalian. Karna Kamu dan anak-anak adalah tujuanku, hidupku. Aku sayang sama kalian melebihi diriku sendiri. Sayang, tolong jangan ragukan itu."


Kulihat ia tersenyum.


"Gak apa, Bang. Gimana kerjaannya, lancar?" Syukurlah dia mengatakan tidak apa-apa. Andai dia mengangguk mengatakan sudah mengantuk, dapat kupastikan dia memang menghindariku.


"Alhamdulillah, Sayang. Berkat do'a Kamu. Gimana tadi ketemuan sama teman-teman Kamu?"


"Alhamdulillah Qonita seneng, Bang. Udah lama ngak jumpa mereka. Kami banyak cerita, Bang."


"Cerita apa aja, Sayang?"


"Cerita kehidupan kami masing-masing. Cerita tentang teman-teman kami." Tiba-tiba wajahnya berubah murung.


"Lho kog jadi sedih gitu, Sayang?"


"Soalnya ada temen kami yang suaminya selingkuh, Bang. Sama anak PKL di kantor tempat suaminya kerja."


Hem, apa karena ini Qonita jadi berubah. Apa dia mengingat masa lalu nya dulu. Sementara Aku juga sedang di luar kota. Membuat dia khawatir dan curiga.


"Jangan sedih, donk. Di kantornya suami Kamu kan gak ada yang PKL, Sayang." Aku sengaja merayunya.


"Kenapa seh laki-laki itu cenderung gak bisa setia, Bang?"


Deg


Entah kenapa Aku jadi merasa tersindir sendiri. Apa Aku juga termasuk kategori yang tidak setia? Tapi bukankah Mayang adalah istriku. Argh...

__ADS_1


"Jangan disimpulkan umum gitu donk, Sayang. Kasihan donk yang bener-bener setia jadi kena sasaran juga."


"Iya, iya. Yang penting suami Qonita tipe suami yang setia. Ya kan, Bang?"


"InsyaAllah, Sayang. Aku hanya Sayang sama istriku, aja. Perempuan diluar sana gak akan berarti apapun untukku."


"Harusnya Abang itu ngomongnya gini. Aku hanya Sayang sama yang namanya Qonita Yasmin Siregar. Tidak Qonita yang lain, atau perempuan selain dia. Gitu, Bang."


Dia memperagakan dengan sangat lucu. Pakai gaya lagi. Argh semakin membuatku rindu. Tapi apa yang salah dengan kalimatku. Bukankah dia, Qonita Yasmin Siregar adalah istriku. Kecuali dia mengetahui kalau aku memiliki dua istri.


"Iya, iya. Apa pun itu yang membuatmu senang, Sayang. Qonita Yasmin Siregar adalah hatiku, cintaku, tulang rusukku."


"Jadi tulang rusuk Abang ada berapa, Bang?" Suatu pertanyaan darinya yang membuatku diam membisu.


"Kan Abang menikah bukan hanya sekali. Jadi tulang rusuk Abang siapa?"


Aku bingung harus menjawab apa. Kenapa dia mengajukan pertanyaan yang sulit seperti ini. Tiba-tiba Aku tidak menyukai profesinya sebagai guru. Kenapa dia mengajukan soal HOTS seperti ini. Argh.


"Hahaha... Tulang rusuk itu cuma makna kiasan aja, Bang. Abang sampe ber-uban gitu mikirnya." Dia terkekeh melihatku terdiam.


Aku menghela nafas. "Sayang, Aku khawatir murid-murid Kamu pada ngumpat kalau Kamu kasih soal yang rumit kayak gini."


"Hahaha..." Perempuan yang kucintai itu kembali terkekeh.


"Sayang, udah malam. Kamu tidur, ya. Mimpi indah ya, Sayang. I love you, my queen."


"I love you too, my king. Maafin Qonita ya, Bang. Semoga Abang ridho 100% pada Qonita."


"Selalu, Sayang. InsyaAllah ridhoku 100% untukmu. Assalamu'alaikum, Sayang."


"Wa'alaikum salam, Abang."


Seenggaknya ini udah ngilangin rasa khawatirku. Aku sudah merasa sedikit lega melihatnya. Aku membuka pesan dari Jamal. Terlihat setelah Aku mengakhiri panggilan dengan Qonita tadi.


"Bro, jangan lupa kabari Gue. Gak pake lama, ya. Gue ngantuk berat, woiy."


Ck. Tidur melulu neh orang.


"Lama banget. Gilak, Lo ngerjain Gue." Dia terdengar kesal saat Aku menghubunginya.


"Ck. Aku baru selesai hubungin Qonita."


"Jadi gimana?"


"Entahlah. Sejauh ini aman."


"Br3ngsek. Gue kira dia udah tahu Lo sebrengs3k apa. Gue ampe nungguin Lo dini hari gini."


"S!alan. Lo nyumpahin Gue."


"Bye."


"Bye."


❤️❤️❤️

__ADS_1


Keterangan :


soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) yaitu soal yang membutuhkan kemampuan analisis tinggi untuk menjawabnya.


__ADS_2