PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 39 Kebersamaan Bersama Anak dan Istri


__ADS_3

..."Semua Keluarga Berbeda Dan Unik,...


...Tetapi Mereka Memiliki Satu Kesamaan,...


...Yaitu CINTA"...


Selesai sarapan, Iman, Istri serta anaknya berkumpul di ruang keluarga.


Bukan anak-anak namanya jika waktu mereka tidak dihabiskan dengan bermain. Ada saja jenis permainan mereka, bukan karena harus memiliki banyak mainan, bahkan sebuah kertas saja bisa dijadikan mainan.


"Mau ke rumah oma dan nenek, gak?" tanya Iman pada anak-anak dan istrinya, menanyakan apakah mau jalan-jalan ke rumah orang tuanya dan ke rumah mama Qonita.


"Mau," ucap Nabil dan Ichy senang.


Sementara Fuad hanya mengangguk-angguk.


"Gak lebih baik besok aja, Bang? Hari ini biar di rumah aja. Khawatir anak-anak kelelahan." Qonita memandang suaminya, tangan kanan nya berada di paha suaminya. Semanja itu memang Qonita.


"Besok? Boleh juga." Iman mengangguk setuju.


"Deal, putra mahkota 1 dan 2, serta putri raja, besok aja kita ke rumah oma dan nenek, ya. Hari ini kita quality time berlima dulu. Besok baru jalan-jalan, oke?" Iman bersuara agak keras, karena anak-anaknya sudah bermain berhamburan.


"Kakak besok gak sekolah TK, Pi?" tanya Ichy pada papinya.


"Gak usah juga gapa-" Kalimat Iman terputus ketika mendengar Qonita berbicara.


"Sekolah dulu, Sayang. Nanti pulang TK, kita baru pergi sama-sama, ya." Qonita menarik Ichy dalam pelukannya ketika Ichy sudah mendekat.


"Hahahaha, maksud Papi tadi juga gitu, sekolah dulu, Sayang." Iman menepuk-nepuk kepala Ichy. "Bisa dapat hukuman Papi, gak ikutin titah Permaisuri." Iman melirik pada Qonita.


Qonita mencebikkan bibirnya.


"Permaisurinya siapa, Pi?" tanya Fuad.

__ADS_1


"Kalo Papi yang jadi rajanya, berarti yang jadi permaisurinya siapa donk?" tanya Iman pada anak-anaknya.


"Bunda," teriak Ichy.


"Bunda, ya Pi?" tanya Fuad.


Ichy dan Fuad menjawab bersamaan.


Nabil menyusul mengikuti mengucapkan kata yang sama sambil tersenyum bangga. "Bunda."


Menggemaskan sekali, kan.


"Hahaha..." Iman dan Qonita tertawa bersamaan. Dia melipat keempat jarinya, hanya jempol yang diacungkan keatas, tanda anak-anaknya hebat dan pintar.


"Fuad senang gak, tinggal disini?" tanya Iman pada anak keduanya.


"Suka, Pi. Rumahnya besar. Rame lagi," ucap Fuad bersemangat.


"Kalo Adek, suka gak?" tanya Iman pada anak bungsunya.


"Hahaha..." Iman tertawa mendengar kejujuran Nabil.


Qonita tersenyum malu.


"Ya udah main lagi, sana," ucap Iman menurunkan Nabil dari pangkuannya.


Secara singkat, ketiganya sudah berkumpul, entah bermain apa. Yang pasti lego dan mainan masak-masakan sudah bertaburan di ambal.


Iman melihat pada Qonita. "Kalau Yang Mulia Permaisuri, suka gak di istana kumuh ini?"


Qonita mencebik. "Mana ada istana yang kumuh, Bang."


"Hahaha... Jadi suka tinggal disini?" Iman menatap Qonita dalam.

__ADS_1


"Suka. Tapi jangan harap buat hareem. Gak ada yang namanya selir. Raja Sulaiman yang disini, berbeda sama Raja Sulaiman yang dari Turki." Qonita menatap tajam pada suaminya.


"Hahaha..." Iman tertawa menggelegar. "Gak lah Sayang, satu aja gak habis-habis." Iman teringat ucapan papanya dulu. Kalimat papanya itu, dia pinjam sebentar. Tidak masalah, bukan.


Iman menaik-naikkan alis matanya menggoda Qonita. Qonita cemberut manja.


"Abang kapan mulai masuk kerja?" tanya Qonita menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


"Bebas aja seh, Sayang. Kalo Kamu masih mau Aku cuti, gak masalah. Mau samaan aja kita masuknya?" tanya Iman melirik wajah istrinya.


"Jangan Bang, ntar kelamaan. Kasian Bang Jamal."


"Lho, apa-apaan ini, Sayang." Iman menegakkan badan Qonita, mengarahkan wajah istrinya menghadapnya.


Pletak


Iman menyentil pelan kening istrinya.


Qonita merengut protes.


"Bisa-bisanya Kamu mikiri laki-laki lain, Sayang," protes Iman.


"Astagfirullah, Bang. Qonita itu mikirin perusahan Abang, bukan Bang Jamalnya. Kalau boleh milih ya, Qonita mau terus-terusan sama Abang." Qonita mengerjap manja.


"Beneran, Sayang?" Iman mengerling menggoda.


Qonita mengangguk. "Tapi gak boleh egois kan, Bang. Kita punya tanggung jawab, jangan ditinggalkan gitu aja."


"Kalau sekarang kita boleh berdua terus kan, Sayang?" Iman menyeringai nakal.


"Hem..." Qonita bingung mau menjawab apa, sudah dipastikan suaminya ini punya akal licik lagi.


"Ngamar yuk, Sayang."

__ADS_1


"Haa?" Qonita terkejut.


❤️❤️❤️


__ADS_2