
Setelah menginap 3 hari 2 malam di Bandung, Iman akhirnya pulang. Malam ia baru akan sampai di rumahnya. Saat ini ia bersama Jamal. Tentu saja Jamal yang menjemputnya.
Iman menyerahkan HP yang biasa disimpan Jamal. Mereka sempatkan membahas urusan pekerjaan.
"Gimana selama di luar Kota?" tanya Jamal pada sahabatnya, bertanya bagaimana reaksi Qonita selama suaminya jauh darinya.
"Qonita sangat pengertian. Dia enggak sedikitpun menggangguku. Malah Aku yang sangat merindukannya." Iman tersenyum menceritakan istrinya. Ada kedamaian di wajahnya.
"Cih! Lebay," sahut Jamal.
"Gak perlu cemburu," seloroh Iman.
"Apaan, males banget. Bukannya rindu ama anaknya malah rindu istrinya doank."
"Hahaha..." Iman tergelak mendengar protes asprinya itu. "Qonita itu berbeda. Dia sederhana banget, tapi daya pikatnya kuat." Iman tersenyum menyeringai.
Jamal menghela nafas lalu memutar bola mata malas.
"Dua minggu lagi, kita kesana. Aku akan bilang kita ke Semarang. Biar bisa agak lama. Seenggaknya 3 hari kita disana. Kasian Yuna," ucap Iman datar.
"Lo yakin? Qonita gak bakal curiga? Jaraknya terlalu dekat. Bukannya kemaren Lo udah janji ama dia ngurangin waktu berpergian Lo?" ucap Jamal khawatir.
"Makanya Lo ikut ama Gue, biar istri tercinta Gue gak bakal curiga." Iman melirik pada Jamal. Yang dilirik merasa jengah. "Yuna udah nuntut ke Aku. Nanti tolong kamu cari tempat yang bisa buat Yuna senang, kita nginap. Oh iya, sama boneka lumba-lumba yang besar."
"Busy3t dah. Udah kerjaan Gue nambah terus, sekarang dijadiin tumb4l lagi. Kalau Qonita itu istri tercinta Lo, jadi Mayang itu istri apanya Lo?" ketus Jamal.
"Istri tersayangku lah. Hahaha..." Iman tertawa puas melihat asprinya itu merasa kesal.
"Ck. Kalau Lo dihadapkan pada 2 pilihan, Qonita atau Mayang, Lo pilih yang mana?"
"Gue gak suka berandai-andai," ucap Iman datar.
"Tapi seenggaknya harus Lo fikirin. Biar kedepannya Lo gak terlalu pusing, harus mempertahankan yang mana."
"Ck. Bangs4t. Lo semakin nunjukin siapa Lo yang sebenarnya," kesal Iman.
"Emang, siapa Gue?" tanya Jamal menantang.
"Lo tuh bertingkah layaknya musuh. Sial. Lo buat Gue pusing tau gak."
"Gue cuma ingatin Lo! Sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga. Segimana pun Lo nutupin bangkai, baunya akan kecium juga."
"Lo nyumpahin Gue s!al?"
"Ck. Bukan gitu. Lihat Om Pur, di usia setengah abadnya, baru ketahuan punya istri lagi, akhirnya pisah sekarang. Lihat si Dandy, lagi digugat cerai istrinya karena ketahuan punya istri lain. Ujung-ujung pisahnya adalah sama istri sahnya," ungkap Jamal. Sambil menyetir, sesekali dia melihat orang yang sedang berada di samping kirinya.
"Dan sekarang, gue lagi ngingatin Lo, kalau seandainya Lo ketahuan punya Mayang, efek terburuknya adalah Qonita yang bakal gugat Lo, gak mungkin Mayang. Makanya gue harap Lo pikirin, seandainya kejadian buruknya terjadi, kira-kira langkah apa yang bakal Lo ambil nanti," lanjut Jamal.
"Gue gak mau kehilangan Qonita dan anak-anak. Sampai Gue menutup mata, Gue harus terus sama mereka," ucap Iman berat.
__ADS_1
"Artinya Lo lebih milih Qonita? Siap melepas Mayang dan Yuna seandainya Qonita menuntut itu? Qonita dari awal jelas gak mau dimadu."
"Argh. S!al. Kalau dari awal Gue bisa membiarkan Mayang sendiri, udah Gue lakuin dari dulu. Dan sekarang, Gue udah sesayang itu sama Qonita dan anak-anak. Mereka hidup Gue. Gue bahagia sama mereka."
"Gue berharap yang terbaik untuk Lo, bro. Makanya Gue dukung Lo nikah sama Qonita. Karena orang tua Lo juga bakal curiga kalau Lo sendirian terus pada akhirnya. Cuma Gue mikir aja, entah kapan pun itu, semua pasti akan terungkap."
"Gue akan jelasin ke Qonita keadaan yang sebenarnya, seandainya itu terjadi. Gue gak ada niat selingkuh. Gue terpaksa."
"Seenggaknya Lo harus punya anak sama Qonita. Dia sayang sama Ichy. Dan dia juga tahu Lo sayang banget ke dia dan anak-anak. Adanya anak akan membuat dia berfikir ulang untuk ninggalin Lo."
"Ck, bisa gak Lo tuh ngomong yang baek-baek," sungut Iman. "Kemaren Qonita datang bulan. Wajahnya sedih. Dia berharap hamil karena tahu keluarga gue ngarapin anak laki-laki. Gue gak mau dia terbebani karena itu."
"Cih! Bucin," ejek Jamal.
"Angek, Lo?" sindir Iman.
"Ck. Gue jadi mikir, sejak kapan sebenarnya Lo suka sama Qonita." Jamal melirik Iman, Iman hanya mengangkat bahunya. "Apa yang buat Lo cinta mati gini ke dia?"
"Semuanya," ujar Iman tersenyum, mengingat istrinya.
"Permainan r4njangnya?" seloroh Jamal.
"Br3ngsek," umpat Iman.
"Servicenya memuaskan?" goda Jamal.
"S!alan."
"Tutup mulut Lo itu!"
"Kayaknya tebakan Gue benar semua."
"Dasar bed3bah."
"Hahaha..." Jamal tertawa mendengar umpatan demi umpatan yang keluar dari mulut Iman.
❤️❤️❤️
Iman dan Jamal tiba di rumah Iman.
"Assalamu'alaikum," ujar Iman.
"Wa'alaikum salam," sahut beberapa orang dari dalam.
"Papi," teriak anak-anak berlari menuju Iman.
Iman jongkok memeluk ketiga anak-anaknya. Qonita tersenyum hangat melihatnya. Iman tersenyum lebar menatap istrinya.
Qonita mendekat pada suaminya setelah anak-anak selesai menyalam papi mereka, dan kembali ke ruang keluarga. Iman merentangkan kedua tangannya. Qonita menubruk tubuh suaminya. Iman memeluk erat istrinya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, bidadariku."
"Wa'alaikum salam, Pujaan hati Qonita."
Iman mengecup puncak kepala istrinya. Qonita menegakkan badannya, menatap lembut wajah suaminya.
"Rindu," ujar Qonita manja.
Iman tersenyum. Iman menggapai kedua telapak tangan Qonita yang berada di dadanya. Ia genggam jemari istrinya, lalu ia kecup jemari istrinya itu.
"Terlebih Aku, Sayang. Sangat sangat rindu," ucap Iman menatap dalam mata istrinya. Raut kerinduan yang penuh cinta tergambar jelas di wajah mereka.
"Ehem." Jamal berdehem kuat. Ia sengaja melakukannya. Hendak masuk ke rumah bosnya, malah melihat drama cinta ala anak remaja zaman now.
"Ck. Ganggu aja," protes Iman.
"Tolong dilanjut di kamar, Bro. Adegan dikategorikan 18 plus. Hahaha..." Sambil tergelak, Jamal berjalan terus menuju anak-anak berada.
Iman berdecak. Sementara Qonita tersenyum malu.
"Hai, bocah. Ada yang mau oleh-oleh, gak?" Iman dan Qonita dapat mendengar Jamal menyapa anak-anak. Terdengar riuh teriakan gembira anak-anak.
Iman melihat ke kiri dan kanan, hanya mereka berdua saja disana. Iman memberanikan diri mengecvp singkat bibir istrinya. Qonita sedikit terkejut. Namun ia hanya diam saja.
Kembali Iman mendekatkan wajahnya pada Qonita. Qonita fikir hanya kecvpan seperti tadi. Tapi ternyata tidak. Iman memberikan sebuah c!uman, melvmat bibir atas istrinya. Qonita menahan dada suaminya.
"Nanti ada yang lihat, Bang."
"Hem. Nanti kita lanjut di kamar ya, Sayang. Kita bareng anak-anak dulu, ya."
Qonita mengangguk. " Iya, Bang."
Iman menggenggam tangan istrinya, berjalan bergandengan menyusul Jamal.
Mereka bercanda tawa disana. Tidak lama, Jamal pamit undur diri. Iman dan Qonita mengantar Jamal ke depan.
"Salam sama Ria ya, Bang," ucap Qonita pada Jamal.
"Iya, nanti Aku sampaikan. Bibir Kamu kenapa?" tanya Jamal.
"Ha?" Qonita terkejut.
"Ck." Iman berdecak. "Pulang sana."
"Hahaha..." Jamal tergelak, lucu melihat wajah memerah Qonita serta rasa kesal bosnya bersamaan.
Setelah Jamal pergi, Qonita bertanya pada suaminya.
"Apa Bang Jamal lihat kita tadi, Bang?"
__ADS_1
"Nggak, Sayang. Dia goda kamu, aja."