PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 55 Manfaat Mandi Bersama


__ADS_3

Siang hari, Iman dan Jamal berada di ruangan Iman. Mereka baru selesai makan siang.


"Bos, gimana kabar Perusahaan Citra Mandiri?" tanya Jamal pada Iman. Sudah seminggu berlalu sejak bos dan istri siri bosnya itu ribut.


Iman mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.


"Mereka ada hubungi, Kamu?" Iman malah balik bertanya pada Jamal. Karena hanya pada nomor yang dipegang Jamal lah Mayang boleh menghubunginya.


"Gak ada. Aku tunggu-tunggu ternyata sama sekali gak ada hubungin."


"Ck. Ngapain Lo nungguin?" Iman berdecak mendengar kalimat Jamal.


"Kirain sekarang udah mulai membangkang. Rupanya nyali kembali menciut," ejek Jamal pada Perusahaan Citra Mandiri.


"Besok pagi ada jadwal penting apa?" tanya Iman.


"Gada, kenapa?"


"Besok kita pergi ke anak cabang PCM," seru Iman pasti.


"Ha? Oke." Walau dengan terkejut, Jamal mengiyakan perkataan bosnya.


❤️❤️❤️


Binjai, Sumatera Utara


Keesokan harinya, Iman dan Jamal pergi ke TK Yuna. Iman masih marah pada istri sirinya, namun tak mungkin marah pada anaknya. Sehingga ia lebih memilih untuk menemui anaknya pada saat bersekolah.


Mereka sampai 1 jam sebelum Yuna pulang sekolah. Sengaja Iman menemui Yuna di jam itu agar tidak berjumpa dengan Mayang.


Iman permisi pada guru TK Yuna, untuk bisa berjumpa dengan anaknya. Iman sedang menunggu di luar ruangan Yuna. Tak lama Yuna pun keluar.


"Papi," panggil Yuna saat melihat Iman.


"Assalamu'alaikum, Sayang, Si Cantik anak Papi." Iman memeluk putrinya erat. Lalu menciumi wajah anaknya itu.


Yuna tertawa senang. Ia tak pernah menyangka papinya akan menemuinya di tempat TK nya.


"Wa'alaikum salam, Papi. Maaf Yuna lupa, ucap salam dulu ya, Pi?" tanya Yuna dengan wajah polos dan imutnya.


"Iya, Sayang. Gak apa-apa. Tapi jangan lupa lagi, ya." Iman mengingatkan anaknya. Ia banyak belajar dari Qonita, istri resminya sekarang.


Bagaimana Qonita banyak merubah Ichy, menjadi lebih baik dari sebelumnya. Lebih pintar, lebih sholehah dan makin ceria.

__ADS_1


"Iya, Pi." Yuna tersenyum pada papinya.


Iman mendudukkan dirinya di depan kelas Yuna. Lantainya lebih tinggi hampir 0,5 meter dari tanah. Sehingga posisi duduk Iman seperti sedang duduk di sebuah bangku. Yuna berada dipangkuan papinya. Yuna tersenyum cerah sambil memeluk lengan papinya itu.


"Maaf ya Sayang, Papi gak bawa mainan, soalnya Papi buru-buru, khawatir gak sempat ketemu anak papa yang cantik ini." Iman mencubit manja pipi anaknya itu.


"Papi masih kerja?"


"Iya, Sayang. Yuna masuk lagi ke kelas ya, Papi liatin dari luar. Lima belas menit, Papi pulang ya, Sayang." Iman mengelus rambut putrinya.


"Papi mau kerja lagi? Gak pulang?"


"Iya, Papi nanti langsung kerja lagi, Sayang. Kalau udah siap kerjanya, nanti Papi pulang, oke."


"Kalau pulang kita jalan-jalan, kan?"


"Iya, Sayang, pasti donk."


"Ya udah, Yuna masuk ya, Pi."


"Iya, cantik."


Setelah Yuna masuk, Iman memang melihat Yuna belajar di dalam kelas. Sesuai janjinya, ia menunggu di luar selama 15 menit, setelah itu dia baru pulang. Namun ia tetap berpamitan pada Yuna sebelum pulang.


❤️❤️❤️


"Mami, tadi papi kesini," ucap Yuna senang.


"Papi?" tanya Mayang terkejut.


"Iya, Mi. Kata Papi kalau kerjaannya udah selesai baru bisa pulang. Terus kita jalan-jalan deh." Sambil berjalan ke arah mobil, Yuna menceritakan pada maminya.


" Papi sekarang dimana, Sayang?"


"Udah pulang, Mi. Mau kerja lagi."


"Papi bilang apa lagi, Sayang?" Mayang terlihat kecewa karena tak berjumpa dengan suaminya.


"Gak ada, Mi. Tadi papi nungguin Yuna belajar di luar, terus pulang."


"Papi gak ada nanyain Mami, Sayang?"


"Gak ada, Mi."

__ADS_1


Mayang kembali menelan kekecewaan. Ia mengerti, suaminya itu masih marah padanya. Menemui Yuna di Tk, sudah pasti bermaksud agar tidak berjumpa dengannya.


❤️❤️❤️


Medan, Sumatera Utara


Sore hari sepulang kerja, seperti biasa Iman disambut hangat oleh istri dan anak-anaknya. Setelah berpamitan untuk mandi pada anak-anaknya, Iman dan Qonita menuju ke kamar mereka.


Setelah mengambil pakaian ganti untuk suaminya, Qonita duduk di sebelah suaminya di atas tempat tidur.


Membuka kancing demi kancing kemeja suaminya. Sudah menjadi kebiasaannya selama satu minggu ini, ia memanjakan suaminya seperti itu.


Sejak peristiwa mandi bersama seminggu yang lalu, sudah menjadi rutinitas mereka untuk mandi bersama.


Tentu saja suami Qonita yang memintanya. Dengan dalil agama, bahwa mandi bersama pasangan merupakan sunnah romantis ala Rasulullah. Dengan mandi bersama, dapat menambah rasa kasih sayang, serta romantisme antara pasangan suami istri.


Serta dalil ilmu kesehatan, dimana mandi bersama dapat menyingkirkan sakit kepala bahkan stres. Saat mandi bersama, pasangan dapat saling membantu menggosok satu sama lain.


Bersentuhan fisik dengan orang yang dicintai, maka secara otomatis otak akan mengirimkan sinyal untuk memberitahu saraf agar tenang. Itulah kenapa kegiatan mandi bersama ini dapat membantu menyingkirkan sakit kepala.


Mandi bersama juga akan mengikat rasa cinta lebih kuat dan dalam. Sama seperti bercinta, mandi bersama juga dapat membantu menenangkan saraf.


Apalagi jika mandi bersama itu ditambah pula dengan berc!nta. Tentu saja nikmat dan manfaatnya akan berlipat ganda, bukan. Itulah alasan klise yang diberikan suaminya pada Qonita.


"Menjalankan sunnah yuk, Sayang," ucap Iman pada istrinya. Bermaksud mengajak istrinya untuk mandi bersama.


"Maaf, Bang. Nggak dulu, ya. Qonita lagi dapet," ungkap Qonita bersedih. Qonita mendapatkan dirinya sedang menstruasi saat di tempat kerja, bersyukur dia selalu menyediakan satu pembalut di dalam tasnya.


"Lho, harusnya Aku yang sedih, kenapa malah jadi Kamu yang sedih, Sayang? Hem, Aku tau, Kamu udah ketagihan ya, mandi bareng Aku," goda iman dengan senyum menawannya.


"Bukan gitu, Bang. Kalau halangan kan artinya..." Qonita tak melanjutkan kalimatnya, ia malah menatap wajah suaminya dengan wajah manyun.


"Kamu berharap hamil?" tanya suaminya blak-blakan.


Qonita menunduk. Iman mengusap rambut istrinya. Lalu mengangkat dagu Qonita dengan jari telunjuknya, agar istrinya itu melihat ke arahnya.


"Kita bahkan belum 1 bulan menikah, Sayang. Di luar sana, masih banyak pasangan suami istri yang sudah 5 tahun lebih menantikan buah hati mereka. Belum punya anak sama sekali." Iman mengingatkan istrinya.


"Jangan sedih. Jangan bebani diri Kamu. Gak ada yang mendesak Kamu atau Aku untuk segera menambah anak. Jalani santai aja. Syukuri apa yang Allah takdirkan untuk kita." Iman menasehati istrinya.


"Dan Kamu tau gak, itu artinya apa, Sayang?" tanya Iman pada Qonita.


"Apa, Bang?" tanya Qonita balik karena memang tidak mengerti apa maksud suaminya.

__ADS_1


"Itu artinya kita disuruh untuk berusaha lebih giat lagi. Kerja keras untuk menghasilkan anak, Sayang." Iman mengerling dan tersenyum nakal pada Qonita.


Qonita hanya mencebik mendengar ucapan suaminya.


__ADS_2