
..."Perpisahaan memang tak akan pernah mudah karena sifat dasar manusia ingin memiliki bukan melepaskan."...
Jakarta
Iman sudah mentransfer sejumlah uang ke rekening Mayang. Hari ini dia mengajak Yuna dan Mayang jalan-jalan untuk memenuhi janjinya pada Yuna semalam.
Hari ini akan menjadi jalan-jalan terakhir baginya dan Mayang saat masih terikat dalam pernikahan. Dia ingin memberikan kenangan manis untuk anak dan istrinya itu.
Awalnya Mayang berat menerima permintaan Iman. Karena dia masih sangat mencintai Iman dan berharap ada secuil harapan agar mereka masih dapat terus bersama. Namun harapannya itu hanya sebuah harapan yang tidak akan pernah terwujud.
Iman menjemput Mayang dan Yuna di rumah Pak Erlangga. Yuna tentu saja senang. Anak kecil itu tentu tidak diberitahu bahwa kedua orang tuanya akan segera berpisah.
"Hari ini kita mau kemana, Pi?" tanya Yuna pada papinya saat mereka sudah di dalam mobil.
"Kemana pun Kamu mau Tuan Putri," jawab Iman pada putrinya itu.
Hati Mayang terasa teriris, walau Iman jarang berkumpul bersama mereka selama ini, tetapi Iman selalu memperlakukan mereka dengan sangat istimewa.
"Yuna gak perlu tahu, Im. Biar Aku yang memberi tahunya perlahan-lahan. Aku gak ingin menyakitinya," ucap Mayang pada Iman saat Yuna sedang bermain di wahana permainan anak.
Iman mengangguk. "Aku udah mengirimnya ke rekening Kamu, Yang."
"Aku tahu." Mayang memang sudah menerima sms banking nya.
Iman tidak ingin merusak suasana jalan-jalan ini sehingga dia menunda membicarakannya dengan Mayang.
Hingga sore hari Iman mengajak Mayang dan Yuna untuk pulang. Sesampainya di rumah Pak Erlangga, Iman menyuruh Yuna agar masuk terlebih dahulu. Ada hal yang harus dia bicarakan dengan Mayang.
"Maaf untuk setiap penderitaanmu, Yang. Maaf Aku nggak bisa lagi mendampingimu," ujar Iman pada Mayang setelah Yuna keluar dari mobil.
__ADS_1
"Apa Kamu udah gak mencintaiku lagi, Im?" tanya Mayang dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan menilaiku nggak lagi mencintaimu, Yang. Kamu istriku. Dan Aku masih sangat mencintaimu. Aku sudah melakukan semampuku untuk mempertahankan pernikahan kita, tapi keadaannya nggak memungkinkan untuk kita terus bersama, Yang," ungkap Iman.
"Kamu sangat mencintainya, Im?" tanya Mayang lirih.
Iman mengangguk. "Ya, Aku jatuh cinta pada Qonita, jatuh terlalu dalam. Maafkan Aku."
Mayang menangis mendengarnya.
"Yang, Kamu menjadi satu di antara orang terbaik yang pernah mengisi hari-hariku. Aku berharap kamu mendapatkan kebahagiaan meski nggak bersamaku," ujar Iman.
“Hatiku bukan nggak sakit dengan perpisahan kita, Yang. Akupun merasa hancur dan perih. Aku cuma bisa pasrah menerimanya," imbuh Iman.
Iman mengusap air mata di wajah Mayang.
"Kamu nggak ingin memelukku, Yang? Untuk yang terakhir kalinya. Karena setelah Aku mengucapkan kalimat itu, Aku udah nggak bisa lagi menyentuhmu."
Mayang adalah perempuan pertama yang dicintainya. Demi cintanya pada perempuan ini, dia mengambil keputusan yang sangat ekstrim. Iman mengusap sisa air matanya.
"Sangat sulit mengucapkan selamat tinggal padamu, Im. Aku sangat mencintaimu. Kenangan bersamamu nggak akan pernah Aku lupa." Mayang masih terisak.
"Jangan mencoba untuk melupakannya, Yang. Kamu nggak akan pernah lupa hingga Kamu lupa ingatan," seru Iman.
"Terima semua yang udah terjadi, ya. Ingatlah, dalam setiap pertemuan pasti ada perpisahan, tetapi dengan perpisahan tersebut bukan menjadi alasan untuk kita saling melupakan. Aku akan mendoakan semoga kamu mendapatkan yang terbaik di kehidupan barumu, Yang," sambung Iman sambil mengelus rambut Mayang.
"Terima kasih telah menjadi pendamping terbaik untukku, Im. Aku akan merindukanmu. Aku menarik kata-kataku untuk kita nggak ketemu lagi. Temuilah Aku jika Kamu ke Jakarta, Im." Mayang semakin memeluk erat Iman.
"Hem."
__ADS_1
Mayang mengurai pelukannya. Dia menatap wajah Iman. Disentuhnya pipi laki-laki yang masih menjadi suaminya itu. Dia dekatkan wajahnya. Untuk yang terakhir kalinya, Mayang ingin menikmati rasa manis dari bibir yang ia cintai.
Iman membalas setiap gerakan dari bibir istrinya, menciptakan sebuah c! u man indah dan mengesankan. Sebuah kenangan yang begitu indah.
"Maafkan, Aku. Maaf atas semua salahku. Aku mencintaimu," ungkap Mayang.
"Maafkan Aku juga, Yang. Aku pun mencintaimu," balas Iman.
"Kita turun," ajak Mayang.
Mayang dan Iman akhirnya turun. Sudah ada kedua orang tua Mayang di ruang tamu, sepertinya memang sedang menunggu mereka.
"Saya sudah mengirim sesuai permintaan Mayang, Pak. Sisanya akan Saya kirim dalam waktu dekat," ujar Iman pada Papa Mayang.
"Ya. Saya harap ini menjadi pelajaran bagi kalian. Nggak ada orang tua yang nggak menginginkan anaknya bahagia," sahut Pak Erlangga.
"Maaf untuk kesalahan Saya selama ini. Maaf karena telah memperlakukan putri Bapak dengan begitu banyak kekurangan," tambah Iman.
Pak Erlangga mengangguk.
Dan tibalah saatnya Iman harus menjatuhkan talak pada istrinya.
"Mayang, Aku jatuhkan talak padamu, mulai saat ini Kamu bukan istriku lagi," ucap Iman lirih.
Air mata Mayang mengalir deras. Walau sudah berusaha untuk menerimanya, namun terlalu sulit untuk menolak rasa sedih dan perih yang meliputi.
Iman akhirnya pamit undur diri. Sebuah pelukan dan ciuman dari putri kecilnya ia dapatkan sebelum kembali ke Medan, semoga mampu mengusir perih yang masih hinggap di dada.
Selamat tinggal kenangan. Berbahagialah, karena bahagiamu adalah bahagiaku.
__ADS_1
❤❤❤
...“Jangan serakah dan mencinta dua orang sekaligus, kamu hanya akan menyakiti keduanya dan dirimu sendiri. Kehidupan seperti itu tidak ada kebahagiaan di dalamnya.”...