
Jakarta
Mendengar jumlah permintaan Mayang membuat Iman terkejut. 10 M bukan uang yang sedikit. Meski proyeknya sedang lagi banyak-banyaknya, namun dia juga sudah mengeluarkan cukup banyak uang.
Membeli sebuah rumah untuk Qonita serta mentransfer uang pada Qonita untuk membeli mobilnya nanti. Karena Qonita masih menunda membeli sebuah mobil, Iman mentransfer saja ke rekening istrinya itu.
Serta pemenuhan modal awal untuk beberapa proyeknya, tidak dipungkiri Iman menggunakan uang pribadinya. Sementara beberapa proyek masih berjalan, pencairan dana biasa menunggu proyek selesai dikerjakan dan membutuhkan waktu yang agak lama.
"Jumlah yang Kamu minta cukup besar, Yang. Aku cuma bisa kasih 2 M untuk saat ini," ujar Iman berterus terang.
"Apa? Kamu selalu menolak permintaanku, Im. Andai aja istri sah Kamu itu yang minta, 1 T pun pasti akan Kamu berikan. Ya, kan?" Mayang marah pada Iman.
"Uangku terpakai untuk modal ,Yang. Aku cicil oke?" seru Iman memohon pengertian.
"Nggak. Aku mau Kamu berikan sejumlah yang Aku minta baru Kamu boleh ceraikan Aku," imbuh Mayang.
Deg
Iman dan papa Mayang terkejut.
Iman tentu saja pusing. Mengumpulkan uang 8 M dalam waktu sebentar mau dicari dimana?
Pak Erlangga juga tidak ingin menunda perceraian Mayang, semakin lama mereka bercerai maka situasinya akan semakin rumit.
"Permintaan Kamu memang besar, Nak. Apalagi Kamu meminta sekarang juga," ucap Pak Erlangga pada putrinya.
"Tapi Iman lagi banyak dapat proyek, Pa," ujar Mayang.
"Makanya Kamu ikut kerja sama Papa, biar tahu dunia bisnis. Kalau lagi banyak proyek ya jelas modal yang dibutuhkan juga meningkat," ungkap Pak Erlangga kesal.
Mayang merengut mendengar omelan papanya. Semenjak dia di Jakarta, dia memang diajak papanya untuk membantu bekerja di perusahaan papanya. Tetapi Mayang menolak. Terbiasa menjadi ibu rumah tangga membuat Mayang malas harus belajar dari awal lagi.
"Oke, sisanya boleh dicicil. Aku mau kamu siapkan 5 M. Mencari 3 M lagi gak sulit bagi Kamu kan, Im?" ucap Mayang mengambil jalan tengah.
Iman menghela nafas. "Oke. Nanti Aku kabari Kamu," ujar Iman.
"Papi... Yuna udah siap mandi." Yuna langsung duduk dipangkuan papinya.
"Wanginya anak Papi. Cantik banget seh." Iman menci umi anaknya itu.
Yuna terkekeh geli akibatnya ulah papinya. Mayang menatap sedih pada suami dan putrinya. Entah kapan lagi mereka akan bertemu. Karena Mayang dan Yuna akan menetap di Jakarta.
"Sayang... Papi gak bisa lama. Ada pekerjaan yang harus Papi selesaikan." Iman menatap pada putrinya.
Yuna langsung cemberut. "Kog cuma sebentar, seh?"
__ADS_1
"Papi janji kalau pekerjaan Papi udah selesai, kita jalan-jalan Sayang," ucap Iman.
"Janji?" tanya Yuna menunjukkan jari kelingkingnya.
"Janji," sahut Iman. Menautkan jari kelingkingnya pada kelingking putrinya.
Setelah itu Iman pamit undur diri. Menyelesaikan misinya ke Jakarta harus segera ia lakukan.
Setelah sampai di hotel tempat Iman menginap, dia langsung mandi, berharap dapat menyegarkan tubuh dan fikirannya.
Jamal. Yang pertama kali terfikir adalah Jamal. Karena selama ini Jamal lah yang senantiasa membantunya.
"Ada apa, Bro?" tanya Jamal setelah menerima panggilan dari bosnya.
"Aku butuh uang 3 M sekarang. Bisa bantu?" tanya Iman tanpa basa basi.
"Astagfirullah. Kalau 3 juta Aku bisa bantu. Kalau 3 M Aku minta naik gaji dulu ke bos ku," ucap Jamal menggarai bosnya itu.
"Mayang minta 5 M sekarang juga. 5 M nya lagi Aku boleh cicil. Setelah Aku kasih yang 5 M baru Aku boleh ceraikan dia."
"Astagfirullah. Lo gak bilang ama dia, seluruh or g4n tubuh Lo aja dijual gak cukup untuk menuhi permintaannya," ujar Jamal kesal.
"Lo ada pegangan berapa?" tanya Iman memutus omongan aneh asisten pribadinya itu.
"2 M ada?" tanya Iman tidak menghiraukan ucapan sahabatnya itu.
"Yang bener aja, Bro. Lo gak kasih Gue gaji sebesar itu untuk Gue punya pegangan M M-an. 1 M cuma. Ntar Gue kirim," ucap Jamal sedikit protes.
"Oke, makasih. Lo ada rekom Gue pinjam ke siapa 2 M lagi?"
"Kalau masalah utang menghutang ini ya, semua kawan jadi lawan, Bro. Pinjam ke keluarga lah. Lebih aman." Jamal memberi saran.
Iman menghela nafas berat. "Gue coba pinjam ke Gagah."
"Oke, Bro. Good luck."
Dengan berat hati Iman menghubungi adik iparnya itu. Gagah hanya bisa meminjamkan 1 M. Iman pun berterima kasih pada adik iparnya itu.
Selang 30 menit kemudian, Nana menghubungi Iman. Tadi Gagah memang mengabari pada istrinya jika abang kandung Nana itu menghubunginya. Gagah pun menceritakan pada istrinya alasan abangnya meminjam uang.
"Halo, Abang Sayang," seru Nana terdengar riang.
"Dek. Ada apa?" tanya Iman singkat.
"Ck. Kayak kulkas banget seh. Adek kesayangan nelfon, romantis dikit napa?" protes Nana.
__ADS_1
"Abang lagi pusing, Dek."
"Ck. Makanya kalau pusing itu langsung hubungi adek kesayangan Abang ini. Nana kan bisa bantu Abang. Abang butuh uang 10 M juga Nana bantu," ungkap Nana.
"Ck. Ngapai seh Gagah pake kasih tahu Kamu."
"Ya karna dia tahu kalau istrinya ini bisa bantu Abang," sungut Nana.
"Kamu ada uang?" tanya Iman pada adiknya.
"Abang pikir cuma Abang yang punya uang? Enak aja. Nana ini juga anak dari Bapak Pras yang terhormat dan terkemuka. Jadi otomatis punya banyak uang juga. Ngerti?"
Tuut...
Ternyata setelah mengucapkan kekesalannya, Nana langsung mematikan sepihak telfonnya.
"S! al," umpat Iman.
❤❤❤
Medan, Sumatera Utara
Nana mendapat kabar dari suaminya bahwa abang tercintanya sedang membutuhkan uang.
Dia mengumpat saat mendengar bahwa abangnya harus memberikan 10 M pada Mayang.
Dia langsung menghubungi mamanya. Saat mamanya menjawab panggilan suara darinya, dia langsung bertanya pada mamanya apakah papanya sedang bersama mamanya. Ternyata tidak. Papanya sedang mengurus sebuah proyek karena mendapat laporan dari Jamal bahwa Iman sedang pergi ke Jakarta.
Ya, sejak ketahuannya Iman beristrikan Mayang, Jamal terpaksa memberikan laporan pada opa Pras.
Nana pun menceritakan pada mamanya bahwa abangnya membutuhkan 1 M lagi agar dapat menyelesaikan hubungannya dengan Mayang. Tentu saja mamanya menawarkan uangnya.
Dan mereka sudah sepakat mengatakan bahwa uang itu adalah uang Nana, dan opa Pras jangan sampai mengetahui masalah ini.
Akhirnya Nana menghubungi abangnya. Karena kesal Nana pun memutuskan panggilan tersebut.
Hp Nana berbunyi. Dia melihat ada sebuah pesan masuk dari abangnya.
"Dek, kirim ke no rek **********. Makasi ya Adek Sayang 😘."
Nana pun menjawab pesan dari abangnya itu.
"Maaf, Anda siapa? Kirain cuma mama minta pulsa aja yang ada. Rupanya abang minta uang juga ada, ya 😜."
❤️❤️❤️
__ADS_1