
Medan, Sumatera Utara
Setelah mendapat pesan dari suaminya, Qonita membawa minuman ke ruang tamu. Dia menghidangkan 3 minuman yang sudah dibuat untuk tamu, suami dan dirinya sendiri, serta beberapa cemilan.
"Silahkan diminum," ujar Iman. Qonita sebelumnya memang sudah mengatakan pada suaminya bahwa dia malas berurusan/berbicara dengan mantan suaminya itu.
"Panggil anak-anak, Sayang," seru Iman pada istrinya.
"Iya, Bang," jawab Qonita. Qonita pun berjalan ke tempat dimana anak-anaknya berada.
"Nak, ayo temui ayah," seru Qonita pada anak-anaknya.
"Iya, Bunda," jawab Fuad dan Nabil.
"Kakak juga, Bunda?" tanya Ichy.
"Kakak mau ikut ke ruang tamu, Sayang?" tanya Qonita pada putrinya.
Ichy pun mengangguk. "Boleh, Bunda?"
"Boleh, Sayang," ucap Qonita.
Sesungguhnya Qonita tidak ingin mantan suaminya melihat Ichy. Dia khawatir mantan suaminya berbuat sesuatu yang dapat menyakiti anak-anaknya.
Hal itu disampaikan Qonita pada Iman. Tapi Iman mengatakan tidak apa-apa, itu cuma bentuk kekhawatiran Qonita saja. Efek sedang hamil membuatnya lebih sering merasa cemas.
Qonita dan anak-anak pun berjalan menuju ruang tamu. Begitu tiba di ruang tamu ketiga anaknya malah duduk disamping Iman.
"Salam Ayah kalian, Nak," ujar Iman pada Fuad dan Nabil. "Ichy juga." Iman melihat ke arah putrinya.
Fuad dan Nabil pun menyalam ayah mereka. Ayah Lutfi pun memeluk kedua putranya. Ada keharuan terlihat dari matanya. Sepertinya dia bangga melihat kedua anaknya sudah besar dan tumbuh dengan sehat dan ganteng. Sudah 2 tahun lamanya dia tidak bertemu dengan kedua anaknya.
"Sini duduk sama Ayah." Ayah lutfi mendudukkan Fuad dan Nabil di samping kiri dan kanannya.
Lalu Ichy menyalam Ayah Lutfi.
"Siapa namanya?" tanya Ayah Lutfi.
"Ichy," jawab Ichy. Lalu Ichy duduk kembali di antara ayah dan bundanya.
"Fuad udah sekolah?" Ayah Lutfi menatap pada Fuad.
"TK-B, Yah," jawab Fuad.
"Kapan-kapan nanti jalan-jalan sama Ayah, ya." Ayah Lutfi mengacak rambut kedua putranya.
"Iya, Yah," ucap Fuad.
__ADS_1
Sementara Nabil hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ayah pulang dulu, kapan-kapan nanti datang lagi," ujar Ayah Lutfi.
"Kenapa cepat sekali? Kita makan bersama dulu," sahut Iman.
"Makasih. Ada yang harus dikerjakan," seru Ayah Lutfi. "Ayah pulang, ya." Ayah Lutfi menyodorkan tangan pada putranya.
"Iya, Yah." Fuad dan Nabil pun mencium tangan ayahnya.
Ayah Lutfi lalu berjabatan tangan dengan Iman.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Setelah ayah Lutfi pulang, anak-anak kembali bermain di ruang tengah. Sementara Qonita dan Iman masih duduk di ruang tamu.
"Kog aneh seh, Bang. Katanya mau ketemu sama anak-anak. Eh, baru ketemu sebentar udah langsung pulang," seru Qonita pada suaminya.
Iman tertawa melihat istrinya. "Ya udah lah Sayang, ngapain diambil pusing, seh."
"Bukan gitu, Bang. Ya aneh aja. Apa Abang ada kasih uang?" Mata Qonita memicing menyelidiki suaminya.
"Kamu tuh selama hamil ini kog makin ceriwis gini seh, Sayang." Iman mencubit pipi istrinya. "Apa karna hamil kembar ya. Jadi yang ngomong 3 orang. Hahaha..." Iman terkekeh sendiri.
Qonita malah manyun. "Qonita cerewet ya, Bang?"
Membuat Qonita semakin malu. Qonita menutup wajahnya dengan bantal kursi.
Iman menarik istrinya ke dalam pelukannya.
"Kamu makin hot, Sayang. Aku ketularan dari Kamu," ujar Iman.
"Ketularan apa, Bang?" tanya Qonita bingung.
"Ketularan virus selalu ingin berc1n t4," bisik Iman ditelinga istrinya.
"Abang," gerutu Qonita. Wajahnya sudah merona.
"Yuk, Sayang," ajak Iman.
"Ha? Tapi udah sore, Bang. Gak lama lagi magrib."
Iman melihat ke arah jam. "Masih lama, Sayang. Cukup lah untuk kita bermain satu ronde." Iman mengerling pada istrinya.
"Anak-anak, Bang?" tanya Qonita.
__ADS_1
"Amanlah, mereka lagi main. Sekarang waktunya kita bermain sama si kembar." Iman tersenyum nakal.
Dia langsung menarik tangan istrinya. Membawa istrinya masuk ke dalam kamar.
Sedari tadi Iman memang sengaja mengalihkan perhatian istrinya. Dia tidak ingin berbohong pada istrinya tentang memberikan uang pada Lutfi. Tetapi mengatakannya pada Qonita dia juga enggan.
Iman khawatir jika Qonita diberitahu maka Qonita akan merasa malu dan bersalah padanya. Oleh karena itu dia lebih memilih mengalihkan perhatian istrinya itu, dengan mengatakan istrinya ceriwis dan mengajaknya bermain.
❤️❤️❤️
Jakarta
Hubungan Agil dan Mayang semakin dekat. Agil sudah mulai sering datang ke rumah Pak Erlangga.
"Sekali-sekali Kamu dan Yuna donk yang ke rumahku," ujar Agil pada Mayang.
"Ke rumah Mas?" tanya Mayang.
"Iya. Besok ke rumahku, ya. Besok kan hari minggu. Datang dari pagi, biar bisa lama di rumahku. Atau Aku jemput, ya," imbuh Agil.
Mayang terlihat berfikir. "Nanti Mayang izin dulu sama papa ya, Mas."
"Gak perlu. Biar nanti Aku yang ngomong," sahut Agil.
Setelah lama di rumah Pak Erlangga, Agil pun hendak pamit pulang.
"Pak, besok Mayang dan Yuna boleh Saya ajak ke rumah Saya?" tanya Agil pada Pak Erlangga.
"Boleh. Biar besok mereka diantar supir aja." Pak Erlangga merasa kasihan pada Agil jika harus bolak-balik menjemput dan mengantar anak dan cucunya.
"Trima kasih, Pak. Saya permisi pulang."
"Hati-hati," ucap Pak Erlangga.
Mayang dan Yuna mengantar Agil dan Rangga ke mobil. Rangga diserahkan pada baby sitternya.
"Besok Aku tunggu di rumah," ujar Agil pada Mayang.
Mayang mengangguk.
"Boleh minta kiss, gak?" bisik Agil pada Mayang.
"Mas..." gerutu Mayang.
Agil hanya tersenyum. "Om pulang ya, Sayang. Besok main ke rumah Om, ya." Agil berkata pada Yuna.
"Iya, Om. Besok Yuna datang. Hati-hati ya, Om."
__ADS_1
"Iya, Sayang."
❤️❤️❤️