PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 51 Bekerja Lagi


__ADS_3

Pagi ini Qonita terlihat sibuk menyiapkan dirinya sendiri. Di dapur dia sarapan sendiri, jika menunggu suami dan anak-anaknya, tentu tidak akan sempat.


Setelah rapi dan membawa tasnya, dia masuk ke kamar Ichy.


"Assalamu'alaikum, Sholehah Bunda." Menyapa Ichy yang sedang memakai pakaian seragam TK nya.


"Wa'alaikum salam, Bunda. Bunda udah mau berangkat kerja?" tanya Ichy setelah memeluk bunda tercintanya.


"Iya, Sayang. Semoga hari ini Kakak semangat belajarnya. Senang bermain sama teman-teman. Bunda pergi duluan ya, Sayang."


"Iya, Bunda." Ichy menyalam Qonita. Qonita memberi ciuman di kening Ichy.


Setelah itu, Qonita memasuki kamar Fuad dan Nabil. Fuad terlihat sudah mandi. Sementara Nabil, walau sudah bangun tetapi masih bermalas-malasan di tempat tidur.


"Assalamu'alaikum, Sholeh Bunda."


"Wa'alaikum salam, Bunda."


"Bunda pergi kerja ya, Nak. Nanti ikut antar kak Ichy TK kalau mau ya, Sayang. Baik-baik, nurut sama Kak Vivi, ya. Nanti sarapan, oke."


"Oke, Bunda."


Fuad dan Nabil menyalam Qonita. Qonita pun mencium kening kedua putranya.


"Titip Fuad dan Nabil ya, Vi," ucap Qonita pada Vivi.


"Iya, Bu."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam, Bunda."


Qonita bergerak keluar. Ada suaminya di halaman depan rumah. Iman sedang berolah raga disana. Qonita menghampiri suaminya.


"Qonita pergi ya, Bang. Nanti sarapannya bareng anak-anak, ya. Sampai ketemu sore nanti, Pemilik hati Qonita." Iman tersenyum mendengar perkataan istrinya.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Jangan khawatir, InsyaAllah anak-anak aman. Hati-hati ya, Sayang."


"Iya, Bang. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam, Sayang."


Qonita menyalam suaminya takzim. Iman memberikuan c!uman di kening Qonita.


❤️❤️❤️


Setelah sarapan bersama anak-anak, mereka bergegas pergi. Ichy diantar oleh Fuad, Nabil dan Vivi, dengan Om Adi sebagai supirnya. Sementara Iman menaiki mobilnya sendiri.


Walau tidak ditemani oleh papi dan bundanya, Ichy terlihat senang karena ada kedua adiknya serta Vivi yang mengantar.


Setelah sampai dan berpamitan pada adik-adiknya, Vivi, dan Kek Adi, Ichy memasuki TK dengan semangat.


❤️❤️❤️


Sesampainya di kantor, Iman langsung menuju ruang kerjanya. Jamal yang melihat kedatangan Iman, langsung mendekati bosnya itu.


"Mau ke Kota sebelah gak hari ini, Bos?" tanya Jamal. Kota sebelah yang dimaksud adalah Kota Binjai. Rumah istri siri bosnya itu.


"Gak bisa, Aku harus pulang cepat hari ini. Atur jadwal biar Aku tetap bisa pulang seperti biasa, meski Aku kesana."


"Siap, Bos. Rabu sepertinya bisa, Bos," imbuh Jamal.


"Oke."


Setelah berdiskusi dengan Jamal, Iman melihat HP nya. Ia tersenyum melihat ada pesan masuk dari istri tercintanya


Assalamu'alaikum, Imam Qonita. Alhamdulillah Qonita udah sampai dengan selamat. Semangat mencari rezki yang berkah ya, Bang. Semoga Allah memudahkan dan melancarkan segala urusan Abang. Aamiin. Qonita Sayang Abang. 😘🥰😍


Iman tersenyum merekah membaca pesan dari bidadarinya itu. Ia pun mengetik balasan pesan.


Wa'alaikum salam, Bidadariku. Alhamdulillah Aku juga udah sampai di kantor dengan selamat. InsyaAllah Aku makin semangat kerja karena doa Kamu, Sayang. Kamu juga semangat kerjanya, ya. I love you too, my love. 😘😍🥰💝💘💏💋👄😎

__ADS_1


Iman terkekeh kecil setelah mengirim pesan tersebut.


"Ehem." Jamal berdehem kuat melihat temannya itu tersenyum-senyum sendiri.


Iman melirik Jamal dengan lirikan mautnya. "Iri? Gak pernah dapat pesan romantis dari istri Lo," ejek Iman.


Jamal mengernyit. Apa-apaan teman kerja sekaligus teman berantamnya itu menanyakan pesan romantis dari istri. Jelas bukan tipe Ria, istrinya.


Sebenarnya Jamal tahu, Iman mendapat pesan dari siapa. Hanya dengan Qonita, Iman bisa bersikap 'aneh' seperti tadi.


"Neh, lihat. Walau gak pernah dapat secara langsung, Lo seenggaknya bisa baca punya Gue. Jadi tahu nikmatnya itu seperti apa," ucap Iman membanggakan diri, menyerahkan HP nya pada Jamal.


Walau dengan rasa kesal dan malas, Jamal tetap mengambil Hp musuh bebuyutannya itu. Jamal penasaran apa isi pesan yang dikirim Qonita, hingga membuat bos laknatnya itu bahagia bukan kepalang.


Setelah membaca pesan dari istri bosnya, Jamal menelan ludahnya. Ia berfikir, apa istri orang lain juga mengirim pesan seperti ini. Memberi kabar, mendoakan suaminya dan menyatakan cinta. Oh sial, benar-benar membuat iri.


"Apaan pakai emo bibir segala. Cih!" Jamal berpura-pura jijik. Tidak mungkin ia berkata jujur, bahwa pesan dari Qonita memang mantap jiwa. Bisa berpongah diri bos terkutuknya itu.


"Gue tahu, dilubuk hati Lo yang terdalam, Lo memiliki rasa iri yang menggebu," cibir Iman.


"Penting amat sama beginian, Bro." Jamal mencebik tanda tidak setuju.


"Emang udah perlu ilmuan kita menciptakan sebuah 'alat kejujuran'. Biar Lo gak perlu menutup-nutupi isi hati Lo," serang Iman.


"Sepakat, Bos. Biar Bos juga gak puyeng bagi waktu kalau mau keluar Kota," sindir Jamal.


"S!al," gerutu Iman.


Pletak


Sebuah pulpen mengenai kening Jamal.


"S!al." Kali ini Jamal yang mengumpat.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2