PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 40 Kesedihan Mayang


__ADS_3

..."Bukan kemewahan....


...Keluarga yang utuh,...


...jauh lebih membahagiakan."...


Mayang POV


Dulu, tujuh tahun yang lalu, Aku juga merasakan hal seperti ini. Pernahkah kalian merasa hati sesak dan perih? Layaknya luka yang disiram air garam. Walau belum pernah mengalaminya, tapi kita tahu bukan, kalau rasanya akan sakit sekali.


Merelakan suami yang sangat Aku cintai, menikmati indahnya kebersamaan, bersama anak dan istri barunya.


Pesta yang meriah, dihadiri dan didoakan banyak orang, direstui oleh kedua belah pihak keluarga, siapa yang tak menginginkannya? Aku pun sangat ingin. Tetapi tak akan pernah Aku dapatkan.


Dulu, hatiku sedikit terobati, karna Aku tahu Iman tidak mencintai Jihan. Tapi sekarang? Siapa yang bisa memastikan itu?


Walau Papi dari anakku itu menyanggahnya, tapi naluriku berkata demikian. Iman mencintai perempuan itu.


Terkadang sempat Aku berfikir, ini adalah keputusan terbodoh yang pernah Aku buat. Demi laki-laki yang Aku cintai, Aku kehilangan segalanya. Keluargaku, cita-citaku, bahkan kebebasanku.


Yang paling menyedihkan lagi adalah, ketika putri kecilku selalu menanyakan keberadaan papinya.


Bukankan perkembangan teknologi memudahkan kita untuk berkomunikasi. Tetapi bahkan menghubungi saja, tidak bisa kami lakukan.


Iman, walau dia sangat mencintaiku, tapi dia juga sangat tegas. Aku tak mau membuat kesalahan hanya karena tidak kuat menanggung rindu. Kami sudah membuat kesepakatan, dan itu tidak bisa diganggu gugat. Mutlak harus dijalankan.


Jika ada hal penting yang harus Iman ketahui, tahukah kalian kemana Aku harus menghubungi? Jamal, jawabannya adalah HP Iman yang dipegang Jamal. Miris, bukan?


Entah kehidupan seperti apa yang Aku jalani selama tujuh tahun ini. Mengasingkan diri dari dunia luar, tersembunyi bagai katak dibawah tempurung.


Tapi pilihan sudah dibuat. Kesepakatan harus dijalankan. Sekali lagi, Aku kalah. Aku pikir, suatu saat nanti, Iman akan bisa membawaku kehadapan keluarganya. Setidaknya setelah kami memiliki anak. Tapi ternyata tidak. Tidak ada yang berubah sama sekali. Semuanya masih sama, bahkan setelah Jihan meninggal.


Saat Aku mengetahui Jihan meninggal, perang batin terjadi padaku. Antara senang dan sedih.


Sedih, sebagai manusia Aku ikut berduka.


Senang, karena Aku berharap setelah itu ada takdir baik bagiku dan anakku. Berharap Iman membawaku sebagai mami pengganti untuk anaknya, Ichy.


Setelah kepergian Jihan, Aku kerap menanyakan keadaan Ichy jika Iman datang. Menitipkan beberapa hadiah untuk Ichy pada Iman. Barang apapun yang Aku belikan untuk Yuna, selalu Aku belikan juga untuk Ichy.


Namun, harapanku sia-sia. Suatu ketika, Iman menyampaikan keinginan orang tuanya yang hendak menjodohkannya kembali.


Tak pernah sedikitpun terlintas difikiran Iman untuk membawaku ke keluarganya. Perhatian dan hadiah yang Aku berikan untuk Ichy, sama sekali tak membuahkan hasil.


Terkadang, fikiran negatif hadir di kepalaku. Siapa kami bagi Iman? Bukankah sesibuk apapun, sejauh apapun, keluarga merupakan tempat pulang. Kenapa kami tak pernah menjadi pulang yang ia tuju.

__ADS_1


Apakah kami hanya persinggahan saja baginya? Jika iya, sampai kapan akan seperti ini? Kenapa dulu, Aku tak memikirkannya?


Sampai akhirnya, Aku sudah terbiasa mendengar perjodohannya. Bersyukur, karena Iman mengabaikan mereka semua.


Namun sayang, Aku harus menelan pil pahit kembali. Saat ia menerima perjodohannya dengan seorang janda beranak dua.


Hari ini, dia sedang apa? Apa tadi malam dia melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami? Apa dia menikmati pernikahannya dengan istrinya itu?


Apakah Aku sangat jahat jika mengharapkan kegagalan rumah tangga mereka? Bukankah perempuan itu menjadi janda karena dia bercerai? Bolehkah Aku mengharapkan perceraian kedua untuknya?


Setidaknya, jika pernikahan mereka tidak berhasil, Iman mungkin saja tidak ingin menikah lagi. Lagi dan lagi Aku berharap dia mengakui Aku dan Yuna dihadapan keluarganya bahkan dunia.


❤️❤️❤️


Jamal POV


Aku terkejut saat memeriksa HP kantor. Ya, setidaknya itu yang Ria tahu, Aku mengatakan bahwa HP ini khusus untuk masalah pekerjaan saja. Bersyukur Ria bukan tipe istri yang gemar memeriksa HP suaminya.


"Maaf, Pak. Kalau boleh Saya tahu, kapan Bapak Sulaiman masuk kantor? Biar bisa saya jadwalkan meeting kita."


Sebuah pesan masuk dari Perusahan Citra Mandiri, membuatku sangat kaget. Apa yang terjadi?


Ini nomor ponsel Mayang. Jika terjadi sesuatu padanya harusnya pesan ini bukan dari nomornya. Apa Yuna sedang sakit?


Dia memang istri yang sangat pengertian, hari ini dia menyuruhku untuk beristirahat total di kamar, mengingat beberapa hari kedepan Aku akan mengerjakan tugas kantor tanpa Pak Bos.


"Halo," ucap Mayang karena Aku hapal suaranya.


"Halo, apa kabarnya, Bu?" ucapku. Serapat itu kami mengantisipasi segalanya.


"Apa semuanya aman, Pak?" Pertanyaan yang merupakan sebuah kode Aku sedang dimana.


"Untuk saat ini aman, Bu. Saya sedang di kamar, lagi istirahat. Ada yang bisa Saya bantu?"


"Kalau boleh Saya tahu, kapan Pak Iman pulang Honeymoon ya, Pak?"


Aku mengernyit, bukankah Mayang sudah tahu kalau Iman tidak pergi kemana pun.


"Maaf, Bu. Pak Iman tidak melakukan perjalanan sama sekali. Apa ada pesan, Bu?"


"Oh, tidak ada, Pak. Maaf mengganggu, saya hanya ingin tahu, kapan Pak Iman akan masuk kantor."


"Maaf, Bu. Saya belum tahu kapan masuk kantornya. Nanti jika Pak Iman sudah bekerja lagi, akan saya kabari, Bu."


"Baik, Pak. Terima kasih. Jika Bapak berjumpa dengan Pak Iman, tolong sampaikan jika bisa, tolong hubungi saya secepatnya."

__ADS_1


"Baik, Bu."


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama, Bu.


Ini bukan tentang hal penting. Iman benar, Mayang mencurigainya. Mayang sedang cemburu. Tak pernah dia senekat ini. Bahkan untuk hal yang tidak penting sama sekali.


Hem, sahabatku itu, kenapa harus terjebak dalam situasi mengenaskan seperti ini. Aku tahu, sampai kapanpun, situasi ini akan terlalu sulit untuk dilewati.


Apalagi ini menyangkut perasaan hati perempuan. Yang paling kutakutkan adalah, bagaimana jika Qonita mengetahuinya?


❤️❤️❤️


Author POV


"Maaf, Bu. Apa boleh Saya besok pulang ke rumah nenek?" tanya Vivi pada Qonita.


"Boleh, Vi. Menginaplah beberapa hari disana. Jangan khawatir. Disini ada yang bisa membantu Saya. Puas-puasin dulu disana, baru balek kesini, ya."


"Terima kasih, Bu."


"Sama-sama, Vi."


❤️❤️❤️


Qonita sudah berada di kamarnya. Ia memberitahukan kepada suaminya jika Vivi akan menginap di rumah neneknya untuk beberapa hari.


Iman beranjak ke lemarinya. Ada brankas yang cukup besar disana.


"Berikan pada Vivi, Sayang." Iman menyerahkan sebuah amplop.


Qonita mengangguk. "Makasi, Abang Sayang, Belahan Jiwa Qonita." Qonita memeluk Iman.


Iman tersenyum mendengar panggilan untuknya.


"Lho, kan untuk Vivi, Sayang," ujar Iman heran, seolah-olah Qonita yang baru saja diberi uang oleh Iman.


"Iya, Bang. Hadiah untuk kebaikan, Abang. Semoga Allah melapangkan rezeki Abang, memudahkan segala urusan, Abang. Aamiin."


"Aamiin. Makasi, Sayang," Iman balas memeluk Qonita lalu menc!um keningnya.


Sedamai itu ucapan istrinya.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2