PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 139 Mayang Kembali Menemui Qonita


__ADS_3

Jakarta


Setelah berfikir dan merenungkan kesalahannya, Mayang akhirnya berencana ke Medan. Dia hendak menjumpai Qonita. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan pada Qonita.


"Pa, Ma, Mayang mau ke Medan, besok. Titip Yuna, ya," ujar Mayang.


Pak Erlangga dan Bu Irma heran kenapa Mayang mau pergi ke Medan.


"Ada urusan apa Kamu mau kesana?" tanya papa Mayang.


"Ada sesuatu yang harus Mayang selesaikan." Mayang berucap pelan dengan raut wajah yang datar.


"Bukankah seharusnya urusan kalian udah selesai. Dia juga udah memberikan seluruh uang yang Kamu minta, kan?" tanya pak Erlangga.


"Mayang bukan mau menjumpai Iman, Pa. Mayang mau menjumpai Qonita," imbuh Mayang.


"Apalagi yang mau Kamu lakukan, Nak. Agil sekarang sudah tidak mau lagi datang kesini. Sekarang apa yang mau Kamu lakukan pada Qonita? Jangan berbuat nekat, Mayang. Qonita lagi hamil. Kalau terjadi sesuatu padanya, Iman pasti akan menuntut Kamu," ucap Bu Irma.


"Justru karna itu Mayang mau minta maaf sama Qonita, Ma. Mayang menyesal. Akibat niat Mayang ingin membuat sakit hati Qonita, malah Mayang sendiri yang menerima akibatnya," ucap Mayang sedih.


"Apa yang Kamu lakukan di puncak kemaren, Mayang? Hingga Agil mundur mendekati Kamu?" tanya mama Mayang.


Mayang diam. Tidak berani menceritakan kejadiannya.


"Sudah lah, Ma. Biarkan Mayang menyelesaikan urusannya." Pak Erlangga berbicara pada istrinya.


"Yang perlu Papa ingatkan pada Kamu, Mayang, jangan lagi melakukan kesalahan yang dapat merugikan diri Kamu, Nak. Ketahuilah, apa yang kami lakukan padamu adalah yang terbaik untuk Kamu dan Yuna," ungkap Pak Erlangga.


"Benar, Mayang. Gak ada orang tua yang akan menjerumuskan anak dan cucunya. Itu semua kami lakukan untuk kebahagiaan Kamu dan Yuna," sahut Bu Irma.


"Iya Pa, Ma. Mayang mengerti. Mayang gak akan lama. Tolong jaga Yuna ya Pa, Ma. Mayang akan berangkat besok."


❤️❤️❤️


Medan, Sumatera Utara


Qonita baru selesai mengajar. Dia menuju gerbang, seperti biasa,  om Adi pasti sudah menunggunya di luar.


"Qonita."


Deg

__ADS_1


Qonita terkejut karena melihat kehadiran perempuan cantik berambut sepundak itu.


Ini adalah kali kedua Mayang menemuinya di sekolah tempat dia mengajar. Untuk apa lagi Mayang menemuinya. Jika ditelaah, hubungan Mayang dan Qonita tidak pernah akur. Bukan Qonita yang tidak menyukai Mayang, tetapi Mayang sendiri yang sering membuat ulah pada Qonita.


"Assalamu'alaikum. Apa kabar, Mba?" seru Qonita setelah berada di hadapan Mayang.


"Wa'alaikum salam. Aku gak baik. Bisa kita bicara sebentar? Di tempat yang kemaren juga gak apa," ucap Mayang terlihat memohon.


Qonita menghela nafas. Sebenarnya dia malas berurusan dengan mantan istri dari suaminya itu. Tetapi melihat Mayang harus sampai datang ke Medan, Qonita merasa tidak tega menolaknya.


"Saya izin pada suami saya dulu ya, Mba," ujar Qonita.


Mayang mengangguk. "Silahkan."


❤️❤️❤️


Kantor Iman


Iman kedatangan teman lamanya. Iman, Jamal, dan teman mereka itu berbicara tentang kerja sama yang akan mereka lakukan. Sudah satu jam mereka berbincang bersama. Mereka juga bercanda bersama mengingat kejahilan saat-saat mereka kuliah dulu.


Hp Iman berdering. Dia tersenyum saat mengetahui istrinya yang menghubunginya.


"Dari siapa sampai senyum-senyum begitu? Biasa kalau dari istri gak akan sesenang itu, dari selingkuhan pasti, ya kan?" seru temannya bercanda.


"Setiap tikungan ada?" ejek temannya.


"Istrinya beda, Bro. Bidadari syurga dunia dan akhirat." Jamal menyahuti temannya karena Iman sudah mengucap salam pada istrinya.


"Kamu mau kemana, Sayang?" Terdengar Iman berbicara dengan istrinya.


Entah apa yang dikatakan Qonita tetapi Iman berteriak setelah itu.


"Apa? Mau apa lagi dia?" Iman langsung terlihat panik.


Jamal dan temannya mengernyit.


"Gak bisa, Sayang. Kalau mau bicara sama Kamu harusnya pas lagi ada Aku. Kamu lagi hamil. Aku gak mau terjadi apa-apa pada kalian. Aku gak izinkan," seru Iman.


Entah Qonita berbicara apa. Yang pasti Iman menghela nafas panjang.


"Oke, Kamu harus ditemani sama om Adi. Cari tempat yang ramai. Aku nyusul kesana, ya," ujar Iman.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam, Sayang." Iman pun mengakhiri panggilan dengan istrinya.


"Maaf, Aku harus pergi. Emergency. Lanjut sama Jamal aja, ya," seru Iman pada temannya.


"Oke, Bos. Hati-hati."


Iman dan temannya bersalaman. Jamal mengikuti Iman keluar ruangan.


"Ada apa, Bro?" tanya Jamal pada bosnya tepat di depan pintu ruangan Iman.


"Mayang datangin Qonita. Tolong hubungi om Adi, suruh jaga Qonita dari dekat." Iman sudah langsung berlari tanpa menunggu jawaban asisten pribadinya itu.


"Siap," teriak Jamal agar Iman dapat mendengarnya.


Jamal pun langsung menghubungi om Adi lalu kembali ke dalam ruangan menemani teman kuliah mereka.


❤️❤️❤️


Sementara Qonita yang sudah mendapat izin dari suaminya langsung menyampaikan pada Mayang agar bertemu di Rainbow cafe. Qonita sendiri akan kesana diantar supir.


"Maaf, Bu. Pesan Pak Iman, Saya harus ikut turun agar bisa mengawasi Ibu. Saya akan duduk di meja yang lain, tetapi yang dekat dengan meja Ibu," ujar om Adi pada Qonita saat Qonita sudah duduk di dalam mobil.


"Gak masalah, Om. Sekalian biar Om bisa cicipin makanan dan minuman disana. Kemaren gak sempat cicip kan?" imbuh Qonita.


"Belum, Bu. Sama pesan Bapak, Ibu harus hati-hati," ungkap om Adi.


Qonita tersenyum. "Iya, Om." Suaminya itu memang sangat khawatir padanya. Terlebih saat dia mendiamkan suaminya saat Mayang menc1 um Iman di puncak kemaren.


Karena jarak yang dekat dari sekolah, tidak berapa lama Qonita sampai di Rainbow cafe. Qonita turun dan melihat mobil Mayang pun juga sudah sampai.


Mereka masuk bersama. Om Adi mengikuti di belakang. Kala Mayang menatap meja kosong tempat mereka duduk dulu, Mayang teringat kejadian saat pertama kali mereka berbicara disini. Mayang menyadari kesalahannya dulu.


"Kita duduk disini aja," ungkap Mayang. Mayang tidak mau duduk di meja yang sama, takut kesalahan dulu terulang lagi.


Qonita mengangguk setuju. Mayang dan Qonita pun duduk di meja yang ditunjuk Mayang, sedangkan om Adi duduk di meja di samping meja mereka.


Pelayan cafe memberikan daftar menu, Mayang dan om Adi pun memesan minuman sedangkan Qonita memesan makanan dan minuman. Faktor sedang hamil membuat Qonita tidak bisa mengabaikan daftar makanan yang tersedia di cafe tersebut.


"Maaf Aku meminta waktumu. Ada yang ingin Aku sampaikan padamu," ucap Mayang pada Qonita.


"Gak apa, Mba. Mba ingin menyampaikan apa?" tanya Qonita.

__ADS_1


"Aku menyimpan dendam padamu. Rasa sakit hatiku kufikir Kamu lah penyebabnya. Aku gak rela Kamu hidup tenang bahagia sementara Aku menderita. Harusnya Iman memperjuangkan Aku, bukan malah nenikahi Kamu. Bahkan menceraikan Aku. Semua kebahagian yang Kamu rasakan sekarang harusnya menjadi milikku." Setetes air mata Mayang jatuh.


❤️❤️❤️


__ADS_2