PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 82 Menjenguk Mantu 2


__ADS_3

"Ayo ke ruang kerja, Man. Ada yang perlu kita bahas, teman Papa ada yang ngajak kerja sama." Opa Pras langsung berdiri dan menuju ruang kerja Iman.


"Iya, Pa. Sebentar." Iman menyahuti ajakan papanya. "Aku ke ruang kerja dulu ya, Sayang," ucap Iman pada Qonita.


"Iya, Bang."


Iman pun menyusul opa Pras ke ruang kerjanya. Opa Pras membahas masalah kerja sama yang ditawarkan temannya.


"Kamu buat salah apa?" tanya opa Pras pada Iman setelah mereka selesai membahas masalah kerjaaan.


"Maksud Papa?" tanya Iman bingung.


"Kenapa mantu Papa sampai sakit gitu?" tanya opa Pras dengan raut wajah datar.


"Astagfirullah, Pa. Emang Aku buat apa? Aku juga gak mau kali Pa, Qonita sampai sakit."


"Gak mungkin dia sampai kebawa mimpi gitu kalau gak ada apa-apa." Opa Pras menatap tajam mata putranya.


"Huft". Iman menghela nafas panjang. "Salah Aku kasih dia izin ketemu ama teman-temannya. Gak taunya mereka bahas tentang suami temannya yang selingkuh. Mungkin Qonita masih trauma ama perceraiannya. Mungkin takut gagal lagi."


Opa Pras mengernyit. Dia masih diam menunggu anaknya bercerita.


"Kemaren dia nanyak kalau seandainya Dia udah nggak ada, Fuad dan Nabil bakal tinggal ama siapa. Dia gak rela kalau mereka diambil ayahnya. Qonita bilang lebih bagus kalau tinggal ama Bang Fiqri."

__ADS_1


"Qonita sampai tanyak seperti itu?" tanya opa Pras heran.


"Kalau besok masih belum sembuh juga, bawa berobat lagi. Kamu harus lebih peka sama istri Kamu. Jaga dia. Kalau sampai mantu dan cucu Papa menderita karena Kamu, Kamu akan berhadapan sama Papa," ucap opa Pras penuh penekanan.


"Gak usah Papa bilang juga Aku bakal jaga dia," gerutu Iman.


"Yang lalu jadikan pengalaman, Man. Jangan sampai Kamu menyesal lagi." Opa Pras menggerakkan jari telunjuk kanannya, mengetuk-ngetuk kursi sebanyak tiga kali.


"Iya, Pa."


❤️❤️❤️


Jika di ruang kerja opa Pras bertanya pada Iman, maka di ruang tengah ada oma Herni yang bertanya pada mantunya, Qonita.


"Kamu kenapa, Sayang? Cerita sama Mama." Oma Herni menatap pada Qonita.


"Tentang mimpi Kamu?" tanya oma Herni menuntut penjelasan.


Qonita terdiam. Dia bingung harus mencari alasan seperti apa.


"Jangan dipendam, Sayang. Walau Mama bukan ibu kandung Kamu, mama bisa merasakan kalau ada yang lagi Kamu fikirkan, Sayang," ucap oma Herni lembut.


"Qonita cuma takut kalau kebahagiaan yang kami rasakan saat ini berakhir, Ma. Bukankah roda itu selalu berputar. Qonita juga gak tahu kenapa belakangan ini bawaannya melo, merasa takut kehilangan." Qonita tersenyum terpaksa.

__ADS_1


"Iman ada buat salah sama Kamu?"


"Nggak, Ma." Qonita menunduk lalu tersenyum tipis.


"Kalau ada apa-apa cerita sama Mama ya, Sayang. Jangan sampai ditutupin terus, khawatirnya menjadi bom yang sewaktu-waktu bisa meledak. Kalau sudah seperti itu, apa masih ada yang bisa diselamatkan."


"Iya, Ma. Ini cuma kekhawatiran gak berdasar aja kog, Ma. Mungkin karena Qonita takut gagal untuk yang kedua kalinya. Mungkin juga karena berkembangnya kasus perceraian sekarang ini."


Oma Herni mengangguk. "Pokoknya jangan sungkan sama Mama ya, Sayang. Mama sayang sama Kamu. Mama gak mau kehilangan mantu lagi, Sayang. Jangan banyak fikiran, biar cepat sembuh."


"Iya, Ma. Makasi, Ma. Qonita juga sayang sama Mama." Qonita menggenggam tangan oma Herni.


Sore hari opa Pras dan oma Herni pulang.


"Kamu jangan terlalu sibuk kerja, Man. Mantu dan cucu Mama butuh perhatian dan kasih sayang, Kamu." Oma Herni mengingatkan putranya.


"Iya, Ma. Bukan hanya perhatian dan kasih sayang yang Iman kasih. Semuanya, bahkan kalau perlu nyawa Iman rela Iman berikan untuk mereka."


"Ck. Kalau Kamu nggak ada, siapa yang jaga mereka. Kalian harus hidup bahagia bersama. Kalau sampai Mama tahu Kamu mengabaikan atau bahkan menyakiti mantu Mama, Kamu beli mama lain di minimart sana. Mama gak sudi jadi Mama Kamu lagi."


"Ha? Emang minimart ada jual 'mama'?" Iman terkekeh geli.


"Pokoknya ingat pesan Mama."

__ADS_1


"Siap laksanakan, Ma." Iman meletakkan tangannya ke dahinya, menghormat pada oma Herni.


❤️❤️❤️


__ADS_2