
Medan, Sumatera Utara
Iman sedang berada di mobil bersama Jamal. Mereka baru saja rapat dengan perusahaan lain.
"Minggu depan keluar Kotanya, biar Aku yang pergi," ucap Iman pada Jamal.
"Gak salah, Bos? Minggu depan ke Bandung, lho," seru Jamal heran. Karena ia mengetahui istri Bosnya itu dulu berkeberatan jika Iman sering berpergian ke luar kota.
"Iya, Aku mau tes dulu, seprotektif apa Qonita kalau Aku lagi di luar Kota. Biar Aku ngerti selanjutnya seperti apa."
Jamal manggut-manggut mendengar penuturan Bosnya. "Kalau aman gimana, Bos?"
"Dua minggu kemudian baru Aku bilang kalau Aku mau keluar kota lagi."
"Oke, Bos." Jamal mengacungkan jempolnya.
❤️❤️❤️
Selesai makan malam bersama, Iman beserta istri dan ketiga anaknya, bersantai di ruang keluarga. Bermain sambil bersenda gurau guna meningkatkan kasih sayang dalam keluarga mereka.
Canda dan tawa terdengar, siapa lagi kalau bukan sang papi yang suka mengusili anak-anak dan istrinya itu. Qonita lama-kelamaan dapat memahami sifat jahil suaminya itu. Bagaimana pun juga, hal itu lah yang membuat ramai dan lucu suasana, memberi warna-warni dalam kehidupan mereka.
Sudah hampir satu bulan mereka bersama, Qonita mensyukuri keharmonisan yang tercipta ditengah keluarga mereka.
"Bunda, tadi di TK Susi bilang dia mau masuk pesantren kalau udah wisuda TK. Biar bisa jadi hafidzah." Ichy menceritakan tentang salah seorang temannya.
"Oh iya, Sayang," ucap Qonita.
"Iya, Bunda. Si Nurul sama Yuri mau masuk MIN."
"Yang masuk di SD tempat TK Kakak siapa aja, Sayang?" Qonita sambil mengelus-elus rambut Nabil yang berada di pangkuannya. Nabil sudah terlihat mengantuk, sudah beberapa kali ia menguap.
"Melati, Yudi sama Shella, Bunda. Kalau masuk pesantren bisa hafal Al-Qur'an ya, Bun?" tanya Ichy ingin tahu.
"Tergantung, Sayang. Cuma kalau di pesantren kan mereka pelajaran agamanya lebih banyak, Sayang. Hafalan surah nya pasti lebih banyak."
"Masuk pesantren itu nginap disana ya, Bun? Gak jumpa Papi, Bunda, sama adek-adek ya?"
"Iya, Sayang. Tinggalnya disana, sama teman-teman yang lain."
"Oh, gitu ya, Bunda." Ichy berjalan mendekati papinya. "Kakak boleh masuk pesantren gak, Pi?"
Deg
Qonita terkejut.
"Gak boleh," ucap Qonita agak kuat.
Iman sampai terkejut mendengarnya. Belum sempat ia menjawab pertanyaan putrinya itu, istrinya sudah langsung menjawab, sangat spontan.
Qonita mengambil bantal kursi, ia mengangkat kepala Nabil dari pangkuannya dan meletakkan bantal itu di kepala Nabil. Lalu Qonita mendekat ke arah anak perempuan dan suaminya.
"Kalau Kakak masuk pesantren, nanti kalau Bunda rindu gimana, Sayang? Kakak masih kecil. Bunda belum bisa melepas Kakak. Nanti kalau Kakak udah tamat SMP, Kakak boleh masuk pesantren, Nak," ucap Qonita sendu. Lalu ia memeluk Ichy. Matanya sudah terlihat berair.
__ADS_1
"Masuk pesantrennya nanti ya, Bun?" tanya Ichy. Qonita mengangguk.
"Nanti kalau Kakak masuknya pas udah tamat SMP bisa jadi Hafidzah juga ya, Bun?"
"Bisa aja, Sayang. Tergantung kemauan Kakak."
"Kenapa pengen masuk pesantren, Sayang?" tanya Iman pada Ichy.
"Biar bisa buat Bunda, Papi dan mami bahagia."
Deg
Qonita dan Iman sama terkejutnya.
"Bunda sering bilang kalau pengen Kakak dan adek-adek jadi Hafidz dan hafidzah. Bunda juga bilang, orang tua yang anaknya hafal Al-Qur'an akan mendapatkan mahkota, Pi."
Qonita langsung berlutut dan memeluk putrinya itu. Tanpa sadar air matanya mengalir. Ia mengusap air matanya.
"Makasih, Sayang. Udah buat Bunda bangga sama Kakak. Bunda senang Kakak dengerin kata-kata Bunda. Bunda juga selalu berdoa agar Kakak, Fuad dan Nabil kelak menjadi penghafal Al-qur'an. Tapi Bunda masih mau bersama Kakak, sampai Kakak bisa mandiri, Sayang." Qonita kembali memeluk Ichy.
"Bunda kenapa, nangis?" tanya Fuad yang sedari tadi memperhatikan kakak dan bundanya.
"Gapapa, Sayang. Bunda sedih karna Kak Ichy mau ninggalin Bunda."
"Kakak bukan mau ninggalin Bunda," ucap Ichy memperjelas.
"Udah-udah. Nanti Papi dan Bunda bicarakan ya, Sayang. Adek Nabil udah Bobok, kita bobok juga, ya." Iman memutus episode sedih malam ini.
Iman menggendong Nabil yang sudah tidur dan membawanya ke kamar. Iman dan Qonita kini sudah berada di kamar mereka setelah menidurkan Fuad dan Ichy di kamar masing-masing.
Iman menyentil kening Qonita.
"Aduh. Kenapa, Bang?" tanya Qonita masih memegang keningnya.
"Apaan seh, Sayang. Gak sakit juga kog. Orang Aku pelan tadi buatnya."
"Hahaha, kan akting, Bang." Qonita menjulurkan lidahnya mengejek suaminya.
"Kamu tuh makin nakal aja ya, Sayang." Iman mencubit pipi Qonita.
"Kan, belajar dari Abang," goda Qonita. Qonita menaikkan bibir sebelah kanannya.
"Kamu tuh menamatkan riwayat kisah kejamnya ibu tiri, tau gak Sayang."
"Maksufnya, Bang?" tanya Qonita tak mengerti.
"Yang ada ibu tiri buat anak tirinya nangis-nangis. Ini malah Kamu yang nangis. Nanti dikira orang Ichy nyiksa Kamu lagi."
"Astagfirullah, Bang. Ngomongnya, ih." Qonita mencubit pinggang suaminya.
"Aw, sakit Sayang."
"Biarin."
__ADS_1
"Nanti Aku izinin Ichy masuk pesantren, neh," ancam Iman.
Qonita langsung memeluk suaminya. "Jangan, Bang. Gak boleh," ucap Qonita manja.
"Bukannya Kamu yang bilang belajar agama itu dari kecil?"
"Iya bener, tapi bukan berarti harus dari SD juga masuk pesantrennya, Bang. Ichy itu masih kecil. Dia belum mandiri. Di usianya sekarang ini, masih harus didampingi keluarganya."
"Bukan karna takut Kamu rindu ama Ichy?"
"Itu juga," ucap Qonita manyun.
"Hahaha, Kamu tuh ya. Ngelebih-lebihi Ibu kandung aja."
Qonita terkejut mendengar perkataan suaminya. Wajahnya langsung berubah murung.
"Jangan salah paham, Sayang." Iman menangkup wajah istrinya. Lalu mengecup singkat bibir istrinya.
"Aku tuh cemburu tau gak, Sayang. Kamu tuh sayang banget ama, ichy. Ichy juga gitu ke Kamu. Sejujurnya Aku sangat senang. Tapi, Aku kog ngerasa tersingkir, ya?"
"Astagfirullah, Abang. Kog mikirnya gitu, seh. Apa rasa cinta Qonita ke Abang gak bisa Abang rasakan? Kalau gitu belah aja dada Qonita, Bang." Qonita memasang wajah datar, terlihat bersungguh-sungguh.
"Hei, hei. Aku cuma bercanda, Sayang." Iman membujuk istrinya.
"Abang bercanda?"
"Ya iya lah, Sayang," ucap Iman mantap.
"SA-MA Bang, hahaha." Qonita tertawa jahil.
"Sayang, Kamu tuh, ya." Iman menggelitiki pinggang istrinya.
Qonita tertawa geli dibuat suaminya. "Ampun, Bang."
"Nggak, nggak Aku kasih ampun."
"Hahaha..." Qonita masih tertawa geli karena suaminya masih saja menggelitikinya tanpa ampun.
"Udah, Bang. Ampun."
"Ampun?"
"Iya, ampun."
Iman akhirnya berhenti menggelitiki Qonita.
"Makasi, Bang." Qonita langsung memeluk suaminya. Lalu memberikan kecupan di kedua pipi dan kening suaminya.
"Kamu tuh, pinter banget sekarang, ya.
"Udah dibilang, kan belajar dari Abang."
Iman mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Besok ajalah, Aku bahas masalah ke luar Kotanya," guman Iman dalam hati.
Mereka pun tertidur dalam kondisi berpelukan.