PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 74 Menghindar


__ADS_3

Medan, Sumatera Utara


"Bunda. Kog belum keluar juga?"


"Bunda. Kog gak makan?"


"Bunda, Bunda."


Terdengar teriakan ketiga anaknya di depan pintu kamarnya.


Qonita membuka pintu, anak-anak langsung menyerbunya. Memeluk nya bersamaan. Qonita tersenyum. Anak-anak ini adalah kebahagiannya. Termasuk Ichy, anak dari suaminya.


"Anak-anak Bunda udah pada makan?" tanya Qonita. Qonita mengajak anak-anak menuju ruang keluarga setelah mengambil HP nya.


"Udah Bunda. Kata kak Vivi kita makan duluan aja, soalnya Bunda capek baru pulang," ujar Fuad.


"Bunda makan ya, kan Bunda belum makan," ucap Ichy.


Qonita tersenyum. "Iya, Sayang."


"Bunda makan banyak, ya. Tadi Adek makannya banyak," terang Nabil. Qonita tersenyum lalu mengelus rambut putra bungsunya itu.


Perasaan Qonita menghangat. Ketiga anaknya ini adalah karunia yang luar biasa yang ia miliki. Andai ia tak melihat langsung suaminya tadi sore, maka sampai detik ini suaminya pun menjadi sumber utama kebahagiaannya.


Cinta dan sayang suaminya begitu tulus. Bukan hanya pada ia dan anak-anaknya, tetapi juga keluarganya dan Vivi. Lihatlah bagaimana Iman bersedia membiayai uang kuliah Vivi karna inisiatifnya sendiri.


Serta perlakuan suaminya yang berbeda dari yang dikhawatirkan oma Herni. Tidak sedikitpun Iman cuek pada Qonita dan anak-anaknya. Bahkan Iman bisa dikatakan sangat perduli dan perhatian pada Qonita dan keluarganya.


Sambil menghabiskan makan malam, Qonita masih terus merenung dan berfikir. Tiba-tiba, Hp nya berdering. Ada panggilan video dari suaminya. Qonita terkejut, tumben sekali jam segini suaminya sudah menghubunginya.


"Vi, tolong kasih HP ke anak-anak. Suruh angkat, papi mereka nelfon. Kalau bapak nanyak Saya, bilang aja saya lagi makan," pinta Qonita kepada Vivi yang sedang mengambil air minum.


"Baik, Bu," ucap Vivi sambil mengambil Hp. Lalu pergi membawa HP untuk diserahkan pada anak-anak.


Qonita enggan menjawab panggilan dari suaminya, ia masih bingung harus bereaksi seperti apa. Lebih baik menghindar. Mungkin itu lebih baik.


❤️❤️❤️


Binjai, Sumatera Utara


Iman POV


Entah mengapa Aku rindu sekali pada Qonita dan anak-anak. Sejak bersamanya, hanya Qonita dan anak-anak yang menjadi tujuanku. Sehari tanpa mereka, terasa begitu hampa, ada yang kurang, terasa tidak lengkap, tidak sempurna.


Padahal disini juga ada istri dan anakku. Aku pun sama menyayangi mereka. Tetapi masih saja ada yang kurang. Ah, Aku rindu apel fujiku. Aku rindu manja nya saat berdua denganku.Ah, Aku rindu semua tentang nya, pujaan hatiku.


Aku pamit keluar sebentar. Yuna minta ikut. Tapi Aku beralasan ada pekerjaan yang harus Aku lakukan sendiri dan berjanji tidak akan lama. Akhirnya Yuna mengerti walau dengan wajah cemberut.


Aku keluar membawa mobil. Mencari tempat yang aman. Akhirnya Aku memilih sebuah Resto yang terlihat eksklusif. Tempatnya sangat adem dan tidak bising. Aku memilih di lantai 3. Pas untuk Aku menghubungi Qonita dan anak-anakku.


"Assalamualaikum, Papi." Aku dapat melihat wajah ketiga anakku. Mereka tampak bersemangat menerima panggilanku.


"Wa'alaikum salam, Sayang. Apa kabar pangeran dan tuan putri?" tanyaku.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, Pi."


"Sehat, Pi."


Jawab anak-anakku bersamaan.


"Papi rindu banget, neh. Gak ada kalian gak seru, Papi jadi gak semangat."


"Kakak juga rindu, Pi."


"Abang juga."


"Adek juga, Pi."


Aku tersenyum mendengar antusias mereka.


"Bunda mana, Sayang? Kog dari tadi gak kelihatan."


"Bunda masih di dapur. Lagi makan, Pi."


"Lho, kog lama? Anak-anak Papi udah pada makan, kan?"


"Udah, Pi." Mereka bertiga menjawab dengan penuh semangat.


"Tadi Bunda pulangnya lama, Pi. Jadi capek." Itu alasan yang disampaikan putriku.


"Bunda pulang jam berapa, Sayang?"


Anak-anak terdiam tampak berfikir. Akhirnya Aku mendengar suara Vivi. Ia menyahut mengajarkan pada anak-anak.


"Papi mau ngomong donk sama Bunda, Sayang. Papi kan rindu juga ama Bunda."


"Bunda... Bunda..." Ku dengar anak-anak memanggil istriku. Sepertinya mereka berlari ke arah dapur.


"Kog Bunda gak ada." Dapat kudengar suara Ichy dalam kejauhan.


"Kak, Bundanya mana?" Itu suara Fuad. Mungkin ia bertanya pada Vivi.


❤️❤️❤️


Medan, Sumatera Utara.


Qonita POV


Awalnya Aku sengaja makan berlama-lama. Agar ketika Abang ingin berbicara denganku, ada alasan untukku menghindar berbicara terlalu lama dengan Abang. Kalau biasanya Aku ingin berlama-lama berbicara dengan Abang, tapi kali ini tidak. Aku masih malas berbicara dengan Abang.


Hingga sampai Aku selesai makan, dapat kulihat anak-anak masih semangat berbicara dengan suamiku. Hingga Aku mendengar Abang menanyakan keberadaanku, kuputuskan untuk masuk ke kamar mandi.


Aku berdiam di kamar mandi. Tidak ada yang kulakukan. Hingga akhirnya Aku mendengar ketukan di pintu.


"Ibu, di dalam?" Ku dengar Vivi bertanya dari luar.


"Iya, Vi." Ku jawab saja daripada menimbulkan kecurigaan.

__ADS_1


"Bapak mau ngomong, Bu," seru Vivi.


"Bilang Saya masih di kamar mandi ya, Vi. Nanti Saya yang hubungi." Aku memberi alasan.


"Baik, Bu."


"Maaf, Bang. Maafin Qonita," ucapku dalam hati. Setetes air mataku jatuh. Rasa sakit ini masih bertahta.


❤️❤️❤️


Binjai, Sumatera Utara


Iman POV


"Papi, Bunda lagi di kamar mandi. Kata Bunda nanti Bunda hubungi Papi kalau udah siap." Itu yang disampaikan Ichy.


Entah kenapa perasaanku jadi tidak enak.


"Oke, Sayang. Kalian baik-baik, ya. Titip peluk dan cium untuk Bunda. Papi sayang kalian dan Bunda."


"Kakak juga sayang, Papi."


"Abang, juga."


"Adek juga, Pi."


Lagi-lagi ketiga buah hatiku membuatku tersenyum.


"Assalamu'alaikum, Sayang."


"Wa'alaikum salam, Papi."


Ku akhiri panggilan video itu. Ada sesuatu yang aneh. Kulihat lama panggilan video tadi, 28 menit. Qonita makan dan di kamar mandi dalam durasi itu. Terlalu lama.


Ada apa ini? Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini. Tidak mungkin Qonita menghindariku, kan.


Aku berharap dugaanku salah. Berharap semoga Qonita segera menghubungiku. 15 menit sudah Aku menunggu. Tidak ada juga panggilan darinya.


Akhirnya Aku putuskan pulang, kasihan Yuna menungguku. Semoga Qonita menghubungiku ketika Aku belum sampai dirumah.


Tetapi hingga Aku sampai di rumah. Tidak ada satu panggilan pun. Aku bermain bersama Yuna sebentar. Lalu menidurkan Yuna di kamarnya, dan masuk ke kamar bersama Mayang.


Setelah selesai menunaikan kewajibanku pada Mayang, Aku langsung mengambil Hp ku. Tidak ada panggilan atau pesan sama sekali.


Aku memakai pakaianku. Aku harus kembali keluar. Aku pamit pada Mayang, mencium bibir dan dahinya.


"Kemana lagi, Im?" tanya Mayang heran.


"Aku keluar sebentar, ya."


"Bukannya, tadi udah?"


Aku tersenyum. "Tidur aja, gak usah tunggu Aku."

__ADS_1


Aku pun keluar. Aku harus menghubungi Qonita lagi. Hatiku gak tenang, ada rasa khawatir menyelinap masuk ke sanubariku.


❤️❤️❤️


__ADS_2