
Qonita POV
Sebenarnya dari awal Aku heran, kenapa Bang Iman sama sekali tak pernah menanyakan berapa emas yang Aku minta sebagai mahar. Juga tentang jumlah uang kasih sayang.
Bukankah itu yang biasa dibahas antara calon pengantin sebelum mengumpulkan keluarga? Namun, entah kenapa Aku merasa tak kuasa untuk mengatakannya agar semua jelas.
Di pernikahan pertamaku, aku meminta 25 gram emas sebagai mahar. Seandainya dia menanyakan itu padaku, kemungkinan Aku akan mengatakan jumlah yang sama.
Pertama kali mendengar jumlah mahar yang telah disiapkannya untukku, sungguh Aku begitu terkejut. Bahkan untuk waktu yang agak lama. Aku tak bisa menutupi rasa terkejutku.
Tiga kg emas berbentuk hati. Ah, apa akan sangat berat mengangkatnya?
Tentu saja tidak, membawa kentang 1 kg, wortel 1 kg, ikan 1 kg, ditambah lain-lain, tentu saja bisa sampai 5 kg yang dibawa saat berbelanja.
Tetapi, 3 kg emas? Membayangkannya saja membuatku sakit kepala.
Kenapa dia sampai memuliakanku seperti ini? Bukankah aku hanya seorang Janda biasa yang tak memiliki keistimewaan lebih?
Seandainya dia meminta menurunkan mahar dari 25 gram pun, Aku akan menerimanya.
Belum lagi, uang yang diberikannya sebagai biaya untuk acara pesta nanti, sebegitu banyak. Untuk apa? Bukankah semua sudah diambil alih oleh keluarganya.
Mulai dari WO, catering, undangan, gedung, semua diurus oleh pihak Bang Iman, untuk membantu kami agar tidak capek, mengingat pernikahan kami akan diadakan 2 minggu kedepan.
Dan aku memang mengajukan, agar resepsi diadakan sekali saja.
Aku mengenakan gaun cantik yang pernah diberikannya dulu. Sudah pasti harganya sangat mahal.
Ditambah dengan jam serta anting yang pernah diberikannya. Tapi tentu saja ia tak dapat melihat anting yang kukenakan. Entah mengapa aku merasa menjadi seperti cinderella saja.
Uuh, pasti wajahku sudah sama warnanya dengan warna gaun yang kupakai, saat ia menggodaku dengan mengatakan bahwa Aku bidadari tanpa sayap, serta jauh lebih cantik dari gaun yang kupakai. Ah, rasanya seperti terbang ke angkasa.
Selesai acara kami mengantarkan keluarga Bang Iman ke depan. Dan wouw, mereka membawa 5 mobil. Bang Iman terakhir naik. Mungkin ia sengaja melakukannya.
Setelah 4 mobil berlalu, keluargaku sengaja masuk, mungkin menyadari kalau ada yang ingin disampaikan Bang Iman padaku.
Mengingat tadi kami sama sekali tak berkesempatan untuk berbicara. Hanya bisa saling menatap dan melempar senyum. Ah, tapi seperti itu saja, sudah sangat menyenangkan hatiku.
Mobil terahir, Bang Jamal yang membawa. Istri dan anak bang Jamal sudah masuk di belakang supir. Tinggallah aku dan Bang Iman berdua yang sedang berdiri diluar, pas disamping mobil.
"Terima kasih untuk hari ini, Sayang. Kamu sangat cantik. Terimakasih udah mau pakai barang yang Aku kasih," ucapnya lembut.
"Sama-sama, Bang. Qonita juga pakai anting yang Abang kasih," ucapku keceplosan. "Eh..." Aku menunduk malu.
"Hahaha... Aku udah gak sabar melihatnya, Sayang." Dia makin menggodaku. "Akhirnya cincinya Kamu pake, Sayang."
Aku mengangguk. "Kenapa sebanyak itu?" Akhirnya aku bisa menanyakannya.
"Karna Kamu memang seberharga itu, Sayang."
__ADS_1
"Tapi itu terlalu besar, Bang."
“Kamu pantas mendapatkannya." Ia mengucapkannya sambil terus menatap ke arah bibirku.
Apel fuji, dia biasa mengatakan bibirku seperti itu. Eh, kenapa malah Aku yang teringat akan hal itu. Huffft.
"Disitu, ada orangnya?" Bang Iman menunjuk rumah paling ujung yang membuat gang ini menjadi buntu. Gang ini tidak lebar, hanya bisa dilalui oleh satu mobil.
"Gak ada, Bang. Orangnya udah pindah. Kenapa, Bang?" tanyaku.
Dia tersenyum. "Baguslah."
Aku bingung ia mencari apa atau siapa. Tak ada orang. Lalu ia menarik tanganku dan berjalan ke arah belakang mobil. Lalu ia melihat ke arah depan.
Reflek Aku mengikuti apa yang dilihatnya Tidak ada siapa- siapa.
Cup
Aku tak menyadari apa yang terjadi, semuanya berjalan dengan sangat cepat. Yang aku tau ada sesuatu yang menyentuh puncak kepalaku.
Aku kaget, jarak kami masih sangat dekat. Ia memegang rahang kiriku dengan keempat jarinya. Lalu ibu jarinya menyentuh bibirku.
"Sebenarnya Aku sangat tergoda melihat ini. Tapi aku akan menahannya. 2 minggu lagi. Aku akan sabar menunggu," ucapnya parau.
Aku tak mampu berbuat atau berkata apapun. Sekali lagi, ia berhasil menghipnotisku.
"Aku pulang Sayang, salim dulu," ucapnya sambil tersenyum menggoda.
Apa pernah aku menolaknya. Sepertinya tidak.
Aku pun mencium tangannya.
Ia tersenyum bangga.
❤️❤️❤️
Iman POV
"Cih! Bisa-bisanya berbuat kayak gitu," ucap jamal tak lama setelah mobil meninggalkan rumah mamanya Qonita.
"Memanfaatkan kesempatan yang ada." Aku tersenyum menaikkan sebelah alisku.
“Uek." Jamal seolah-olah mau muntah.
"BTW, gak sampe jatuh miskin kan, Bos?" tanya Jamal.
"Hahahaha..." Aku tergelak. "Miskin seh enggak, aset masih ada. Tapi uang tunai dan tabungan kosong. Hahaha..." Aku menggeleng tak percaya mengingat sisa uang di tabungan dan brankasku.
"Akhirnya bucin juga ya, Bang," ucap Ria istri Jamal, ikut menimpalidari belakang.
__ADS_1
"Saling mencintai," ucapku.
"Helleh..."
"Cih!"
Ucap Ria dan Jamal bersamaan.
"Tapi beneran, Ria pangling lho liat Kak Qonita tadi. Make up nya simpel banget, tapi keren abis. Nikah sama Bang Iman, bisa ngalahin cantiknya Nana kalo Kak Qonita rutin perawatan wajah" ucap Ria.
Nana, adik Iman memang memiliki paras yang sangat cantik, tak jauh beda dengan Iman yang juga sangat ganteng.
"Ya cantiklah, semua yang dipakenya mendukung. Ada harga ada rupa, Dek," ucap Jamal menyahuti perkataan istrinya.
Tak lama suasana di dalam mobil terasa sunyi. Tak ada lagi yang memulai pembicaraan.
Aku sendiri tak percaya bisa melakukan itu padanya. Menc!um puncak kepalanya, dan menyentuh bibirnya dengan jariku, di depan rumah orang tuanya.
Yang Aku takutkan adalah jika tetangganya ada yang melihat, bisa jadi mereka akan berfikiran buruk pada Qonita. Padahal, Aku yang melakukannya.
Tapi karena Aku merasa aman, akhirnya Aku lakukan. Dari belakang tak akan ada yang melihat, karena tak ada penghuni disana. Sementara dari depan, tertutup oleh mobil. Ah entah mengapa selalu saja ada dorongan untuk menyentuhnya.
❤️❤️❤️
Qonita POV
Setelah memasuki rumah mama, Aku diserbu dengan banyak pertanyaan.
"Berapa uang kasih sayang yang dikirim Iman, Qonita?"
"Kog banyak kali, maharnya?"
"Itu uang papanya atau uang Iman?"
Pertanyaan beruntun yang terlontar. Dan tentu saja Aku juga tidak tahu jawabannya. Aku hanya bisa menjawab berapa uang kasih sayang yang dikirim Bang Iman.
Setelah menyampaikan jumlahnya, hampir seluruh keluarga kaget mendengarnya. Sama seperti reaksiku.
"Oh, sekaya itu Iman, Nak?" tanya Nanguda Linda.
"Qonita juga gak tahu, Nanguda. Qonita hanya pernah ke rumah mama dan adiknya. Sama-sama besar dan mewah," jawabku.
"Setelah menikah, kalian tinggal dimana, Kak?" tanya Puput.
"Sepertinya di rumah yang ditempati Bang Iman sekarang, Dek."
"Rumah itu ditinggali Bang Iman sama istri pertamanya dulu?" tanya puput kembali.
"Iya."
__ADS_1
"Hati-hati aja, Kak. Nanti Kak Qonita dibanding-bandingi sama istrinya dulu," ujar Puput.
Aku hanya menanggapi dengan tersenyum.