
Setelah menghubungi istri dan anak-anaknya, Iman tersenyum merasakan kehangatan pada keluarga kecil mereka. Ada rasa bahagia yang membucah mengingat keluarganya, terasa damai dan hangat. Baru sehari berpisah dari mereka, ia sudah merasakan rindu yang teramat sangat.
Iman mengambil HP yang diberikan Jamal sebelum ia berangkat. Ya, sedari dulu masih bersama Jihan, setiap Iman keluar Kota, HP itu selalu diberikan Jamal pada Iman.
Iman menekan panggilan pada nama yang tercantum dengan sebutan 'Perusahaan Citra Mandiri'.
"Halo," terdengar sapaan dari sana.
"Ini, Aku," ucap Iman datar.
"Im," terdengar agak lirih, Mayang terkejut karena dia fikir Jamal, ternyata Iman yang menghubunginya.
"Aku lagi di Bandung. Yuna mana?"
"Ada, nanti Aku panggil. Em, Im... Aku minta maaf." Mayang menunggu reaksi dari Iman.
Hening
Tidak ada yang bersuara. Terdengar tarikan nafas Iman.
"Maafin Aku, Im." Mayang memohon lirih.
"Sedari awal Kamu tahu posisiku, Yang. Bahkan kita sudah buat surat perjanjian hitam di atas putih." Iman terpaksa mengingatkan perjanjian yang dulu dibuat atas saran Jamal.
"Iya, Aku tahu. Maaf," sesal Mayang.
"Hem. Aku mau ngomong sama Yuna."
__ADS_1
"Sebentar, Aku panggil."
Tak lama terdengar suara anak kecil.
"Papi," ucap Yuna riang.
"Assalamu'alaikum, Sayang." Iman meralat sapaan anaknya.
"Wa'alaikum salam, Papi. Maaf Yuna lupa lagi, Pi," ceringis Yuna.
Iman tersenyum, tidak bisa dilihat Yuna karena mereka sedang melakukan panggilan biasa. "Gapapa, Sayang. Ini Papi alihkan ke video call, ya."
"Iya, Pi." Tidak lama terlihat Yuna di layar HP Iman. Anak perempuan cantik itu tersenyum merekah.
"Papi rindu, Sayang."
Iman tergelak mendengar ucapan putrinya. "Belum tahu, Sayang. Tapi nanti Papi usahakan pulang ya, Sayang."
"Kalau pulang nginap lama ya, Pi."
"Papi juga maunya gitu, Sayang. Tapi nanti kita makannya dari mana, kalau Papi gak kerja? Uang sekolah Kamu dari mana bayarnya?"
Iman dapat melihat Yuna merengut mendengar penuturannya.
"Jangan sedih gitu donk, Sayang. Nanti Papi gak semangat kerjanya. Kerjaan Papi gak selesai, trus Papi gak jadi pulang, deh," bujuk Iman.
"Kapan Papi pulang?" tanya Yuna lemas.
__ADS_1
"Mungkin 2 atau 3 minggu lagi, Sayang. Kamu mau oleh-oleh apa?"
"Yuna mau boneka lumba-lumba yang besar kayak punya Alea, Pi," ungkap Yuna mengingat boneka milik temannya.
"Hem, iya nanti Papi cari dulu ya, Sayang."
"Oke, Pi."
"Ya udah tidur ya, Sayang. Mimpi indah. I love you. Assalamu'alaikum, Sayang."
"I love you too, Pi. Wa'alaikum salam."
Setelah selesai melalukan video call bersama Yuna, Iman melihat HP miliknya. Ada pesan masuk dari istrinya.
Assalamu'alaikum Abang, Imam Qonita. Qonita mohon maaf ya Bang, walau Abang sedang tidak bersama Qonita, Qonita mau Abang ridho 100% pada Qonita. Abang disana jaga diri, jaga kesehatan. Qonita sayang Abang, sangat 😘😍.
Iman tersenyum membaca pesan dari Qonita. Ia ingin langsung menghubungi istrinya itu, namun harus ia urungkan. Jika nanti ia keluar kota lagi dan menginap di rumah Mayang, tentu saja ia tidak bisa sering-sering melakukan video call.
Sudah tiga kali ia menikah. Tetapi entah mengapa, bersama Qonita semuanya terasa berbeda. Padahal kalau difikir-fikir, Mayang adalah pacarnya, perempuan yang ia cintai.
Sementara Qonita, baru saja ia kenal. Tetapi bersama Qonita membuatnya kehidupannya begitu sempurna, sangat bahagia. Belum genap mereka berpisah 24 jam, ia sudah merindukan perempuan berhijab itu.
Iman terpaksa menahan diri walau ia sangat ingin menghubungi istrinya. Ia harus memastikan semua berjalan lancar untuk kedepannya. Akhirnya ia memutuskan membalas pesan Qonita.
Wa'alaikum salam, istriku. Ridhoku untukmu 100%, Sayang. Aku sangat merindukanmu. Aku seperti kehilangan arah disini, tanpamu. Oh, Aku sungguh mencintaimu, bidadariku. 😘🥰🌹💋🍎.
Ditempat lain Qonita tersenyum membaca pesan masuk dari suaminya. Ia terkekeh kecil melihat gambar apel dan bibir yang dikirim suaminya. Apel fuji, seperti itu suaminya selalu menyebut bibirnya.
__ADS_1
Qonita menggigit bibirnya pelan, teringat bagaimana wajah mesum suaminya saat melihat bibirnya. Ia tersenyum sambil memeluk bantal, rindu mengingat suaminya.