PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 58 Waterboom


__ADS_3

Minggu yang cerah ini, Iman membawa anak-anak berenang. Berhubung besok ia akan pergi keluar kota, ia manfaatkan weekend ini quality time bersama keluarga tercintanya. Vivi tentu saja ikut bersama mereka.


Iman membawa mereka ke salah satu waterboom yang cukup terkenal disana. Selain tempat yang luas, memiliki wahana permainan pemandian yang banyak, tempat ini juga selfinable. Sehingga menjadi pilihan yang tepat untuk mengabadikan moment-moment indah kebersamaan mereka.


Iman memesan gazebo tepat di depan kolam renang. Biaya yang lebih mahal dibanding gazebo yang letaknya lebih jauh dari kolam renang bukan menjadi masalah bagi Iman. Gazebo nya lebih privat karena bisa dikunci, sehingga bebas meninggalkan barang-barang disana tanpa takut kehilangan.


Anak-anak berganti pakaian di dalam gazebo. Sementara Iman pergi ke kamar mandi. Tak lama Iman kembali ke gazebo, ternyata Qonita dan Vivi sudah berganti pakaian. Mereka memakai celana panjang serta kaus berlengan panjang.


"Gak pakai baju renang, Sayang?" tanya Iman pada istrinya.


"Gini aja Bang, boleh kog," ujar Qonita.


"Kapan ganti bajunya, Sayang? Kog cepat banget."


Qonita tertawa kecil. "Dilapis dari rumah, Bang. Jadi tinggal buka gamisnya aja." Qonita masih tersenyum lebar.


"Kupikir istriku bakal pakai baju renang. Hampir aja mau kutempelin terus biar gak dilihat laki-laki lain."


"Alasan." Qonita mencebikkan bibirnya.


"Kalau gak dibolehin pakai baju gini, Kamu bakal renang juga, gak?"

__ADS_1


"Ya gak lah, Bang. Qonita kan gak punya baju renang."


"Kalau gitu, nanti kita beli ya, Sayang."


"Untuk apa, Bang? Setahu Qonita di Medan masih bebas, kog. Gak harus pakai baju renang," ungkap Qonita.


"Pengen lihat Kamu pakai baju renang aja, Sayang. Atau nanti kita foto berdua, kita belum ada foto dewasa, lho," bisik Iman pada istrinya, khawatir terdengar anak-anak dan Vivi yang sedang menonton. Gazebo itu memang dilengkapi TV dan AC.


"Aduh." Iman sedikit berteriak setelah Qonita mencubit perutnya.


"Untuk apa foto begitu seh, Bang. Udah dirasain juga tanpa sehelai benang pun." Qonita ikut berbisik.


"Ck. Seni apaan. Malah bahaya kali, Bang. Gak ah, gak mau," protes Qonita.


"Hahaha, iya iya. Kalo gitu praktek langsung aja, lah. Kamu udah bersih, Sayang?"


"Ehm, tadi seh masih ada bercaknya sikit, Bang. Nanti sore abis Qonita mandi, Qonita cek lagi."


"Kalau bisa nanti malam kita puas-puasin ya, Sayang. Sebelum Aku pergi, harus kenyang dulu, donk. Hahaha..." Iman terkekeh sendiri karena pemikiriran mesumnya.


"Iya, kalau pun Qonita belum bersih, Qonita tetap akan kenyangin Abang. Biar Abang gak tergiur oleh jajanan diluar," ucap Qonita sambil manyun.

__ADS_1


"Hahaha, Aku udah gak sabar lho, Sayang."


Qonita hanya mencebik.


"Anak-anak, ayok mandi. Udah makannya, kan?" tanya Iman pada anak-anak yang sedang mengemil sambil menonton.


"Udah, Pi," jawab anak-anak serentak.


"Kalau belum, kita balik pulang, aja. Masa' iya kita jauh-jauh kemari cuma numpang makan dan nonton doank, hahaha..." Iman tertawa-tawa.


Qonita dan Vivi tergelak mendengan ocehan Iman.


Mereka langsung menuju kolam renang yang di depan gazebo mereka. Iman memegang Nabil. Vivi dan Qonita memperhatikan Fuad dan Ichy yang sudah bisa dilepas bermain sendiri.


Pancuran serta seluncuran menjadi pilihan utama anak-anak. Terdengar teriakan anak-anak kala mereka meluncur pada seluncuran yang cukup panjang.


"Lain kali kita bawa pengasuh lebih," ujar Iman pada istrinya.


"Kenapa, Bang?" tanya Qonita tak mengerti.


"Biar bisa kita tinggal, Sayang. Ada wahana permainan untuk orang dewasa, cukup memacu adrenalin. Sekalian kita biar bisa pacaran. Kan pas, anak-anak mandi, kita juga ikutan happy-happy." Iman mengerlingkan matanya pada Qonita.

__ADS_1


__ADS_2