
Malam hari setelah Qonita tidur, Iman masih memikirkan istrinya. Jika dibiarkan begitu saja, Qonita akan tetap larut dalam pemikiran negatifnya.
Iman mencari artikel terkait kehamilan kembar dari HP nya.
'Dampak stres pada ibu hamil bisa menyebabkan sakit kepala, napas jadi lebih cepat, jantung berdebar, nafsu makan berubah, sampai gangguan tidur.'
'Apabila tidak segera dikendalikan, stres pada ibu hamil bisa memengaruhi kesehatan ibu dan janin di dalam kandungan.'
Iman akhirnya keluar kamar dengan membawa HPnya. Dia menghubungi Fiqri berharap Abang iparnya itu belum tidur.
Harapannya terkabul, Fiqri menerima panggilannya. Iman akhirnya menceritakan permasalahan Qonita. Fiqri mengatakan akan membicarakan terlebih dahulu dengan istrinya, dan berupaya akan datang besok sore kerumah Iman untuk melihat adiknya itu.
❤️❤️❤️
Sore hari anak-anak Qonita sedang belajar mengaji. Zuraidah dan Fiqri datang dan dipersilahkan masuk menuju ruang keluarga. Fiqri dan Zuraidah merasa kasihan melihat Qonita yang sedang rebahan di sofa dengan tatapan mata kosong, berwajah sendu sambil mengelus perutnya sendiri.
"Assalamu'alaikum, Dek," sapa Fiqri dan Zuraidah bersamaan.
Qonita terkejut, dia tersadar dari lamunannya. "Wa'alaikum salam. Abang, kog gak bilang kalau mau datang?"
"Apa harus buat janji dulu untuk bertemu Kamu, Dek?" Fiqri memeluk adik satu-satunya itu.
Qonita terkekeh kecil. "Bukan gitu, Bang. Gimana kalau kami sedang gak dirumah," ucap Qonita manja.
"Kirain mentang-mentang udah jadi nyonya besar harus buat janji dulu," ejek Zuraidah bercanda.
"Kakak, apa seh." Qonita memanyunkan bibirnya.
Mereka pun duduk bertiga di sofa. Zuraidah duduk ditengah, diapit oleh suami dan adik iparnya.
"Gimana kabar Kamu dan calon ponaan Kakak, Dek?" tanya Zuraidah.
__ADS_1
"Baik, Kak. Alhamdulillah..." sahut Qonita.
"Kalau baik kenapa Kamu sampe melamun kayak tadi?"
"Biasalah, Kak. Bawaannya mual, pusing," ujar Qonita.
"Qonita, ada yang mau Kamu ceritakan, Dek?" tanya Fiqri.
Qonita sedikit terkejut. "Cerita apa, Bang?"
"Qonita, hilangkan segala fikiran burukmu itu, Dek. Kakak khawatir bukan pada apa yang Kamu takutkan, melainkan Kamu sendiri yang membahayakan diri Kamu dan calon anak Kamu karena fikiran-fikiran buruk Kamu itu," ungkap Zuraidah.
Deg
Qonita terkejut mendengar pernyataan kakak iparnya.
"Bang Iman menghubungi Abang?" tanya Qonita menatap ke arah abangnya.
"Dia mengkhawatirkan Kamu, Dek. Abang pun demikian setelah melihat kondisi Kamu seperti ini. Qonita, salah satu kunci hidup agar tenang adalah dengan menerima ketetapan Allah, Dek. Yakinlah apa yang sudah ditetapkanNya adalah yang terbaik bagi hambaNya," imbuh Fiqri.
"Dek, kematian dan apa yang akan terjadi nanti, kita gak ada yang mengetahuinya. Tugas kita hanyalah berikhtiar dan berdo'a, melakukan yang terbaik sebatas kemampuan kita. Berbaik sangkalah, karena Allah nggak memberi cobaan melewati batas kemampuan hambaNya," sambung Fiqri.
"Benar, Dek. Kamu mengkhawatirkan banyak hal hingga membuatmu setres. Padahal apa yang Kamu takutkan belum tentu terjadi. Malah sekarang setres Kamu itu yang kemungkinan menganggu kesehatan Kamu dan kedua calon anak Kamu."
Deg
Qonita merasa tertampar oleh perkataan kakak iparnya. Dia mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi hingga membuat hari-harinya sibuk dalam kesedihan. Hingga membuat orang-orang disekelilingnya merasa khawatir.
"Ingat Dek, bahaya stres saat hamil bisa mempengaruhi ibu dan janin. Kamu harus bisa mencari solusi untuk menghilangkan semua kekhawatiran Kamu. Jangan mengingat-ingat kejadian-kejadian buruk. Ingat ada Ichy, Fuad dan Nabil yang masih sangat memerlukan perhatian dari Kamu. Dan kami akan selalu ada untuk mendukung Kamu, Dek," imbuh Zuraidah.
"Qonita, Kamu ingin orang-orang di sekeliling Kamu bahagia, kan?" tanya Fiqri pada adiknya. Qonita pun mengangguk.
__ADS_1
"Kalau begitu, bahagiakan Kami dengan membahagiakan diri Kamu sendiri," seru Fiqri.
Deg
Qonita merasa terenyuh dengan ucapan abangnya.
Tidak lama Iman datang, dia baru saja pulang dari kantor.
Iman memeluk istrinya, menc1 um puncak kepalanya. Lalu menyalam istri, abang dan kakak iparnya.
"Abang kenapa nelfon Bang Fiqri?" tanya Qonita manja pada suaminya.
"Karena Aku sayang sama Kamu," ujar Iman.
Qonita mencebik.
"Bersyukurlah Dek, suami Kamu sangat memperhatikan Kamu. Nikmat mana lagi yang Kamu dustakan?" ungkap Fiqri.
"Astagfirullah... maafin Qonita ya Bang, udah larut dalam kesedihan yang nggak mendasar sama sekali. Tolong ingatkan Qonita kalau Qonita begini lagi ya, Bang," pinta Qonita pada suaminya.
"InsyaAllah, Sayang." Iman mengusap kepala istrinya.
"Tapi Aku sedih, Sayang. Ternyata sayang Kamu ke Bang Fiqri lebih besar dari pada sayang Kamu ke Aku. Buktinya harus Bang Fiqri dulu yang ngomong ke Kamu baru Kamu mau dengar." Iman menggarai istrinya.
"Enggak Bang, bukan gitu. Qonita sayang sama Abang. Sayang sekali. Qonita dengar kata-kata Abang, kog. Qonita akan dengar kata-kata Abang. Qonita janji." Qonita panik karena mengira suaminya benar-benar kecewa padanya.
Iman tersenyum menyeringai. Fiqri dan Zuraidah terkekeh kecil. Qonita yang baru sadar sedang dijahili oleh suaminya, mencubit perut suaminya.
"Aduh, Kamu KDRT, Sayang." Iman mengaduh.
Qonita yang merasa malu langsung menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
__ADS_1
Iman, Fiqri dan Zuraidah tertawa melihat tingkah menggemaskan Qonita.
❤️❤️❤️