
Medan, Sumatera Utara
"Kalau dirasa tidak ada jalan keluar dari permasalahan ini, silahkan saja bawa ke jalur hukum," seru Iman.
Deg
Ayah Lutfi terperangah mendengarnya.
Dia fikir Iman akan mengikuti apa maunya seperti saat pertama dia datang.
"Kalau bisa dimusyawarahkan, kenapa harus ke jalur hukum?" tanya ayah Lutfi terpaksa.
"Permasalahannya kita nggak menemukan jalan tengah atas permasalahan ini. Anda ngotot rumah itu milik bersama dan harus dijual, sementara Qonita berpendapat itu adalah rumah miliknya sendiri. Bukankah lebih baik biar Hukum yang berbicara?" imbuh Iman.
Deg
Ayah Lutfi terlihat tidak senang atas apa yang diucapkan Iman.
"Bukankah bisa dengan alternatif lain? Misalnya Anda yang menjadi penengah diantara kami," sahut ayah Lutfi.
Iman tersenyum sinis mendengarnya. "Dengan cara?"
"Kalau Qonita tidak ingin menjualnya, bukankah Anda bisa memberikan kompensasi pada saya sebagai penggantinya," ujar ayah Lutfi.
Qonita marah mendengarnya. Dia hendak protes, tapi Iman menahan tangannya. Hingga akhirnya Qonita urung berbicara.
"Yang pertama, Saya tidak ada sangkut pautnya disini. Yang kedua, Saya pasti akan mendukung istri Saya karena Saya tahu istri Saya benar. Yang ketiga, Anda tidak menepati janji untuk tidak mengganggu Qonita."
Deg
Qonita terkejut mendengarnya, dia bingung sejak kapan mantan suaminya itu berjanji pada suaminya, dan kenapa mantan suaminya itu berjanji tidak akan mengganggunya.
Ayah Lutfi juga terkejut, dia tidak menyangka suami Qonita yang awal mulanya menuruti permintaannya kini berubah tidak berpihak pada keinginannya.
"Saya hanya menawarkan jalan kekeluargaan saja. Sebagai contoh sudah banyak kita lihat diluaran sana, mereka yang sudah berpisah pasti membagi harta gono gini. Lagian untuk mengurus itu pasti memerlukan waktu yang lama. Kalau kalian kan sibuk bekerja," ujar ayah Lutfi.
__ADS_1
"Trima kasih sudah mengkhawatirkan kami. Tapi jangan khawatir, Saya akan mengutus pengacara Saya. Jadi kami tidak perlu mengurusnya sendiri. Dan jika memang Anda yakin akan memenangkan kasus tersebut, saran Saya segeralah buat laporannya."
Deg
Ayah Lutfi terperangah. Jelas bukan seperti ini yang dia mau.
"Bukankah menyewa pengacara harganya mahal. Kenapa tidak kita bicarakan saja masalah pembagiannya. Kalian bisa menawarkan harga yang cocok untuk diberikan kepada Saya," imbuh ayah Lutfi.
"Tenang saja, Saya akan memakai pengacara di kantor Saya. Masalah pembagian Saya serahkan kepada Qonita. Gimana Sayang? Mau dibicarakan disini atau di pengadilan aja?" tanya Iman pada istrinya.
"Di Pengadilan aja, Bang. Qonita siap dengan segala keputusannya nanti. Qonita pasti akan mengeluarkan apa yang bukan menjadi hak Qonita," sahut Qonita mantap.
"Maaf, mengenai masalah ini, sepertinya kita harus berjumpa di pengadilan. Mungkin para penegak hukum lah yang bisa memberi keputusan yang seadil-adilnya," seru Iman.
Ayah Lutfi menarik nafas panjang.
"Baik, kalau begitu Saya pulang dulu. Seandainya kalian berubah fikiran, Qonita tahu kemana harus menghubungi Saya," ucap ayah Lutfi.
"Ayah pulang dulu ya, Nak." Ayah Lutfi menyalam.dan menc1 um kedua putranya.
Setelah Ayah Lutfi pulang, anak-anak kembali bermain di ruang keluarga. Sementara Iman dan Qonita masih berada di ruang tamu.
"Bang, memangnya kapan dia berjanji untuk nggak ganggu Qonita?" tanya Qonita pada suaminya.
"Hem. Yang kemaren pas datang pertama kali, Sayang," jawan Iman.
"Emangnya Abang bilang apa sampai dia mau berjanji nggak ganggu Qonita?" tanya Qonita bingung.
"Bicara antar lelaki, Sayang. Ya udah srkarang gak usah Kamu fikirin, ya. Ingat ada 2 nyawa yang sedang bersama Kamu. Segala urusan nanti andai dia melapor, Aku yang akan urus. Paling nanti Kamu siapin aja bukti-buktinya," ujar Iman.
Qonita mengangguk. "Iya, Bang. Makasi ya, Bang." Qonita memeluk suaminya.
"Sama-sama, Sayang. Makasihnya mau dibayar pakai apa, Sayang?" Iman sudah tersenyum nakal.
"Lho, masa' di bayar di depan. Kerja aja belum. Dimana-mana kerja dulu baru dibayar," ejek Qonita.
__ADS_1
"Hahaha..." Iman tergelak mendengar penuturan istrinya. Istrinya ini sudah pandai membalasnya.
"Aku kan pakai tipe pra bayar, Sayang," imbuh Iman.
"Emangnya Abang kartu?" balas Qonita.
"Hahaha, beda dikit lah, Sayang." Iman tersenyum lalu menatap istrinya. "Aku gerah banget neh, Sayang. Mau nemani Aku mandi, gak?" Iman sudah tersenyum lebar.
Qonita menelan ludahnya. "Qonita udah mandi, Bang."
"Mandi lagi kan gak ada yang larang, Sayang." Iman menyeringai.
Dan pada akhirnya Qonita tidak bisa menolak permintaan suaminya.
❤️❤️❤️
Jakarta
Agil membawa Mayang dan Yuna kerumahnya. Ada yang harus dia bicarakan pada orang tuanya.
Poppy dan mamanya sedang ada di kantor Agil. Om Lucky kemungkinan berada di rumah Agil.
"Lho, Kamu kog udah pulang, Nak?" tanya Oma Shinta pada Agil.
"Om Lucky mana, Ma?" tanya Agil.
"Ada di kamar," jawab oma Shinta.
"Baguslah. Ada yang ingin Aku tanyakan pada Mama," ucap Agil pada oma Shinta.
"Mayang, Yuna. Kalian main sama Rangga dulu, ya," seru Agil.
"Iya, Mas," seru Mayang.
"Oke, Om," jawab Yuna.
__ADS_1
❤️❤️❤️