PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 80 Menemani Istri


__ADS_3

"Bro," ucap Jamal setelah melihat Iman di ruang keluarga. Mereka berkumpul disana, termasuk Qonita.


"Wa'alaikum salam," sindir Jamal.


"Gue udah ucap salam pas mau masuk tadi. Udah dijawab ART Lo kog."


"Ucap salam lagi, Om. Biar berkah." Fuad yang mendengar perdebatan papi dan aspri papinya yang baru datang itu ikut nimbrung.


"Tuh, putra mahkota Gue aja ngerti." Iman menyeringai.


"Ampun." Jamal mengangkat kedua tangannya ke atas tanda menyerah. "Om ulang, ya. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Jamal berucap kuat dengan nada dibuat-buat.


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," ucap anak-anak serentak.


"Lo mau pidato?" Iman tersenyum mengejek. Sementara Qonita terkekeh kecil.


"Ck. Apaan seh, gak jelas gitu." Jamal menggerutu. "Eh, ada Qonita. Assalamu'alaikum Qonita," ucap Jamal lembut.


"Wa'alaikum salam, Bang Jamal." Qonita tersenyum manis.


"Masih sakit? Kalau demam kenapa pakai selimut gitu?" tanya Jamal karena melihat Qonita geletak di sofa tepat dibelakang Iman, dengan selimut tebal menutupi tubuhnya. Iman duduk di ambal, tangan kanan Qonita terjulur melalui bahu Iman, memeluk suaminya.


"Dingin, Bang," jawab Qonita.


"Udah Aku tebak. Suami Kamu emang sedingin itu. Gak mampu kasih kehangatan untuk istrinya. Bahkan selimut lebih hangat. Ya kan, Qonita." Jamal balas mengejek Iman.


"Ini bukan di kamar, Bro. Kalau di kamar jelas Aku yang hangatin. Ya kan, Sayang." Iman menoleh pada istrinya.


"Gak apa Bang Iman sedingin kulkas ke perempuan lain, Bang. Yang penting hangatnya ke Qonita seorang."


"Idih, kompak bener. Suami Kamu boleh Aku pinjam gak, Qonita?"


"Boleh, Bang. Gak pakek lama, ya."

__ADS_1


"Aduh, kalau itu Aku gak janji. Soalnya Aku udah dapat bonus rumah. Harus ningkatin kinerja, donk."


"Ha? Bang Jamal dapat rumah juga, Bang?" tanya Qonita pada suaminya.


"Rugi banget Aku beliin dia rumah, Sayang."


"Lho, Qonita gak tau. Sori, Aku keceplosan. Tapi Kamu gak cemburu kan, Qonita?" tanya Jamal bercanda.


"Emang siapa aja seh yang Abang kasih rumah?" tanya Qonita penasaran.


"Hahaha...." Jamal tergelak. "Suami Kamu nggak sekaya itu, Qonita."


"Syukurlah. Asal jangan Abang beliin untuk perempuan lain aja." Qonita melirik suaminya. Suaminya balas melirik lalu menghela nafas.


"Hahaha..." Jamal kembali tergelak.


"Udah-udah, ngomong ama dia gada abisnya, Sayang. Aku ke ruang kerja dulu, ya." Iman mengelus kepala Qonita.


"Semangat kerjanya, Bang"


"Emang disini ada paparazi?" tanya Jamal sambil berjalan mengikuti Iman.


"Maksud Lo?"


"Kalian kog kayak yang lagi pencitraan gitu. Mesra bener."


"Disini aja Lo udah bilang mesra, gimana kalau di kamar." Iman tersenyum bangga.


"Ck." Jamal berdecak.


Iman dan Jamal berdiskusi di ruang kerja. Hingga masuk waktu Sholat Magrib mereka baru keluar. Selesai Sholat, Jamal ikut makan malam bersama.


"Alhamdulillah, Gue udah kenyang. Waktunya kembali ke keluargaku. Kasian mereka banyak kutinggal demi ngurus perusahaan orang lain," sindir Jamal.

__ADS_1


"Ck. Perusahaan yang Lo maksud bakal jadi aset buat ponaan-ponaan Lo."


"Idih, baik bener Gue. Mikirin aset ponaan Gue. Bener juga Lo, udah waktunya Gue mikirin aset buat anak cucu Gue nanti."


"Hust, berisik. Pulang sana!" Usir Iman bercanda.


"Anak-anak, Om pulang dulu, ya. Rajin-rajin belajar biar pintar kayak Bunda. Jangan kayak Papi, oke."


"Memang kenapa, Om?" tanya Ichy.


"Papi kan pinter juga, Om," ungkap Fuad.


"Ya Papi pinter juga. Lebih baik kayak Bunda aja biar lebih lurus." Jamal menyeringai melirik Iman.


"Jangan Lo sesatin anak-anak Gue," sungut Iman.


"Memang Papi belok-belok ya, om." tanya Nabil dengan polosnya.


"Hahaha... Pinter banget seh, ponaan Om." Jamal menggendong Nabil sebentar lalu ia turunkan lagi. "Om pulang dulu, ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam, Om."


"Qonita, makasi ya untuk makan malamnya. Cepat sembuh ya, biar Aku gak kerja keras sendiri lagi. Hahaha..." Jamal tertawa.


"Sama-sama, Bang. Siap Bang, Alhamdulillah Qonita udah mulai enakan, kog."


"Bro, Gue pulang ya."


"Hem. Makasi."


"Hahaha... Manis banget Lo."


"Ck." Iman berdecak mendengar tawa dan ejekan Jamal.

__ADS_1


"Hati-hati, Bang."


"Yo'i."


__ADS_2