
Medan, Sumatera Utara
Di kantor Iman, Iman dan Jamal sedang membahas pekerjaan mereka. Dengan wajah yang serius kedua orang itu fokus membahas salah satu tender yang cukup besar.
"Huft, akhirnya selesai juga," ucap Jamal lega.
"Kayak kurang asupan gizi, aja," ledek Iman.
"Ck. Mentang-mentang sekarang dapat 4 sehat 5 kekenyangan dan 6 kenikmatan."
"Hahaha..." Iman tergelak mendengar ejekan asisten pribadinya itu.
Tentu saja ejekan itu bermaksud tentang kenikmatan yang didapat Iman setelah ia menikah dengan Qonita. Bukankah tema pembicaraan mesum tak bisa lepas dari obrolan para lelaki.
"Apa kata Qonita perihal kepergian Kamu keluar kota?" tanya Jamal mengalihkan keabsurdan mereka.
"Aku belum bilang, semalam Ichy bilang mau masuk pesantren, Qonita nangis gak kasih izin."
"Kog bisa?" tanya Jamal kaget. "Ku pikir Qonita yang bakal nyuruh, gak taunya dia yang gak ngasih. Kenapa?"
"Katanya Ichy masih kecil. Masih butuh kehangatan keluarga. Nanti pas mau masuk SMA dia baru izinin, karena usia segitu udah bisa dikategorikan mandiri."
"Kalau Aku jadi Qonita, ku izinin aja. Kalau perlu gak usah balik lagi. Biar papinya jadi hak milikku." Jamal menyeringai bangga mengatakannya.
"Bangs4t emang, Lo. Mana bisa Lo dibandingkan ama istri Gue. Qonita tuh ibu tiri rasa ibu kandung. Sementara Lo, bapak kandung rasa bapak tiri," sungut Iman.
"Hahaha... Lo tuh kalok udah bicarain Qonita, berasa Qonita tuh bidadari turun dari khayangan," sindir Jamal.
"Sori, gue ralat. Qonita tuh bidadari turun dari syurga," ucap Iman bangga.
"Ya ya ya. Lo dapetin Qonita tuh, mang harus bersyukur. Tapi Qonita dapetin Lo harus istigfar. Hahaha." Jamal tertawa puas karena bisa mengejek bosnya itu.
"S!alan. Lo kira Gue musibah?" sungut Iman.
"Hahaha, bisa jadi gitu, Bro." Jamal masih puas menertawai sahabat nya itu.
"Lo bisa langsung pastiin ke Qonita, beruntung gak dia dinikahin Gue. Kami itu saling mengisi, saling melengkapi, saling memberi cinta, dan saling memberi kepuasan, saling -" Kalimat Iman terhenti karena Jamal bersuara.
"Br3ngsek parah Lo emang. Ngomong gada benernya," sanggah Jamal menghentikan kalimat Iman. Jamal tahu arah pembicaraan Jamal akan menjerumus kemana.
__ADS_1
"Hahaha, Gue cuma mengungkap fakta."
"Terserah, gak urus."
"Lo cemburu karna gak ngerasain hal yang sama."
"Gak perduli."
"Lo kepengen kayak Gue, kan?" goda Iman.
"Sori, gak minat. Bisa puyeng kepala Gue. Jadi Lo tu bukan berarti lebih baik dari Gue. Lo sendiri udah ribet selama ini," ejek Jamal.
"S!al," umpat Iman karena mengerti maksud Jamal itu apa. Jamal mengejek masalah poligaminya, atau bahasa kasarnya pernikahan diam-diam Iman.
❤️❤️❤️
Malam hari di kamar, Iman sedang berpelukan di bawah selimut dengan istrinya, Qonita. Sudah Pukul 9 malam, mereka hendak tidur.
"Sayang, kalau senin nanti Aku keluar kota boleh, gak?"
"Abang mau kemana?" tanya Qonita kaget.
"Urusan kantor?" tanya Qonita dan Iman mengangguk.
"Berapa lama, Bang?"
"3 hari 2 malam. Tapi kalau bisa cepat dan ada tiket, Aku seh maunya cukup nginap semalam aja, Sayang."
"Tiketnya belum dibeli?"
"Belum, nanti diurus Jamal. Tapi kalau tiket pulang biasa kami gak langsung pesan, khawatir ada kendala. Jadi disitu beres semua, baru pesan tiket pulang."
"Abang pergi sama bang Jamal?"
"Kali ini nggak, Sayang. Aku bawa anggota yang lain. Jamal ada hal penting yang harus dia urus selama Aku gak ada."
"Ya udah, gapapa." Qonita mengeratkan pelukannya.
"Kamu mau ikut?"
__ADS_1
"Nggak lah, Bang. Kan, Qonita kerja."
"Kamu kayak yang berat, gitu."
"Qonita takut rindu," ucap Qonita manja.
"Hahaha..." Iman tergelak sekaligus bahagia mendengarkan ungkapan hati Qonita.
"Sayang, sayang. Kamu tuh ya, gemesin banget."
"Nanti disana Abang hati-hati. Ingat Kami disini, istri dan anak-anak Abang, merindukan Abang. Abang harus bisa jaga diri. Hindari yang namanya perempuan," ucap Qonita lirih.
"Sayang, hei. Aku masih disini. Perginya juga masih beberapa hari lagi. Ya udah Kamu ikut aja, Aku malah yang was-was ninggalin Kamu."
"Abang," Qonita merajuk.
"Kamu percaya kan, sama Aku?"
Qonita mengangguk.
"Ya udah, jangan sedih gitu."
"Iya, Bang."
"Iya, apa?"
"Gak sedih."
"Mana buktinya?"
Qonita malah menc!um bibir suaminya.
Iman tergelak sesudah Qonita melepaskan pautannya. Iman fikir Qonita akan memberikan sebuah senyuman sebagai bukti ia tak sedih lagi. Siapa sangka istrinya itu memberikan bukti dengan sebuah bukti cinta.
Gawat.
Ga!rahnya memuncak seketika. Sementara istrinya masih tersegel untuk beberapa hari ini.
Sungguh bahaya.
__ADS_1
❤️❤️❤️