PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 96 Kemarahan Iman


__ADS_3

Medan, Sumatera Utara


Setelah beberapa hari, Qonita tidak juga menunjukkan kecurigaan pada suaminya. Iman sudah merasa lega, setidaknya dia yakin kalau istrinya memang mempercayainya.


Anting yang hanya sebelah itu masih dipajang di meja kantor Iman. Belum ada yang mengakui atau mempertanyakan tentang anting itu.


Hari ini Iman akan ke Binjai. Jika berangkat sekarang, sudah dapat dipastikan Yuna sedang berada di TK.


Dia mengajak Jamal ikut bersamanya. Saat hendak berangkat pergi, Iman mengambil anting tersebut dan meletakkannya di dompetnya.


"Dibawa?" tanya Jamal yang melihat bosnya membawa anting itu.


"Hem." Iman mengangguk.


❤️❤️❤️


Binjai, Sumatera Utara


Iman sampai di rumah Mayang. Jamal merebahkan diri di sofa, memanfaatkan waktu untuk beristirahat.


Mayang menyambut suaminya dengan bahagia. Iman menc!um dahi istrinya.


"Ck." Jamal berdecak melihat kedua insan yang sedang berpelukan itu.


"Ke kamar aja yuk, Im," ajak Mayang. "Nanti ada yang sewot." Mayang bercanda menyindir Jamal.


Iman dan Mayang masuk ke kamar. Mayang langsung memeluk tubuh suaminya.


"Aku kangen berat sama Kamu, Im." Mayang mengecvp singkat bibir suaminya.


"Aku juga, Yang." Iman menatap wajah istrinya. Mayang tersenyum mendengarnya.


Mayang langsung membuka kemeja suaminya. Dengan sangat rakus dia mencic!pi setiap lekuk tubuh suaminya.


Iman terheran karena kali ini Mayang bermain dengan sangat liar. Mayang terlihat bersemangat, gai rahnya kian memuncak. Mungkin karena sudah beberapa hari Mayang tidak mendapatkan jatahnya.


Iman membiarkan istrinya puas menikmati tubuhnya. Sesekali dia gantian membalas melakukan hal yang sama pada istrinya.


"Argh." Iman berteriak kala Mayang menggigit bagian di dadanya. Bukan masalah sakitnya, tetapi bekas yang akan ditimbulkan akibat gigitan itu.


Iman menjauhi istrinya. Menatap marah pada istrinya itu.


"Kamu sengaja melakukannya?" Teriak Iman marah.


"Im, Aku gak sengaja. Maafkan Aku." Mayang mendekati Iman. Dengan raut wajah menyesal Mayang memohon maaf pada suaminya.


"Aku udah gak mood, Yang." Iman memakai kembali pakaiannya.


"Im, Aku nggak sengaja. Tolong Kamu jangan marah." Mayang meneteskan air matanya. "Aku rindu Kamu, Im."


Iman menghela nafas berat. "Pakai kembali pakaianmu."


"Im..." ucap Mayang lirih.

__ADS_1


"Aku gak tahu rencana Kamu apa, Yang. Tapi satu hal yang harus Kamu tahu, membuat Qonita tahu hubungan kita hanya akan merugikan Kamu, Yang."


"Maksud Kamu apa, Im?" tanya Mayang heran.


"Ini, Aku kembalikan." Iman mengambil anting dari dompetnya dan meletakkannya di tangan Mayang.


"Im... Ini kenapa bisa ada di Kamu? Aku udah beberapa hari mencarinya," ucap Mayang memasang wajah lugu.


"Aku pulang, Yang," ucap Iman datar.


"Im, kalau Kamu gak percaya sama Aku, Kamu boleh tanyak Bik Yati dan Mai. Aku juga minta mereka mencari sebelah antingku yang hilang.


Iman mengabaikan ucapan istrinya. Dia merasa kecewa dan marah atas apa yang terjadi. Ternyata benar, Mayang sengaja melakukannya.


"Im... Im..." Mayang terus memanggil suaminya namun tidak dihiraukan. Iya tidak dapat keluar karena dia belum memakai pakaiannya.


Iman keluar dengan wajah marah. Jamal masih rebahan di sofa ruang tamu.


"Kita pulang," ucap Iman pada Jamal.


Jamal menghela nafas panjang. "Kita udah sampai disini. Seenggaknya jumpai dulu anak Lo."


"Pulang sekarang, aja."


"Jangan libatkan Yuna dalam pertengkaran kalian. Kasihan lah pada anak tidak berdosa itu. Keputusan yang kalian ambil udah cukup menyusahkannya sekarang." Jamal memberi saran pada Iman.


"Im, apa gak bisa Kamu mempercayaiku?" ucap Mayang menyusul Iman di ruang tamu.


"Aku keluar sebentar. Kalian selesaikan baik-baik masalah kalian." Jamal tidak mau ikut campur dalam permasalahan Mayang dan Iman.


Iman hanya diam. Tidak mau melihat pada istrinya. Tatapannya kosong memandang ke arah selain istrinya.


"Aku gak tau kenapa Kamu semarah ini sama Aku, Im. Aku gak sengaja tadi." Mayang kembali meneteskan air matanya.


"Kalau Kamu memang mau Qonita mengetahui pernikahan kita, ayok kita temui dia. Aku pun lelah membohonginya terus."


"Im, gimana caranya biar Kamu percaya sama Aku?" Mayang bertanya sambil terisak.


"Anakku yang pertama kali melihat antingmu di celanaku, Yang. Qonita mengetahuinya. Dan ada sehelai rambut di tubuhku. Dan sekarang, Kamu meninggalkan bekas di tubuhku. Apa semua itu ketidaksengajaan, Yang?" tanya Iman dengan raut wajah kecewa.


"Aku memang cemburu padanya, Im. Tapi Aku gak mungkin melakukannya dengan sengaja, Im."


Bik Yati yang baru pulang belanja memasuki rumah.


"Bik, tolong bilang sama Iman, beberapa hari yang lalu Aku minta tolong sama Bibik dan Mai kan, mencari sebelah antingku yang hilang?"


"Iya, Bu. Yang ada berliannya itu, kan?" tanya Bik Yati heran.


"Iya, Bik. Yang ini." Mayang menunjukkan anting itu pada Bik Yati.


"Lho ya Alhamdulillah udah ketemu, Bu. Kog malah nangis?"


"Antingnya ada dicelana Iman. Istrinya melihat anting itu. Dan Iman mengira Aku sengaja melakukannya." Air mata kembali menetes di wajah Mayang.

__ADS_1


"Bibik bukan bela Ibu, Pak. Tapi memang Bu Mayang meminta kami membantu mencari anting ini, dari kamar sampai ke sini, Pak. Soalnya itu anting baru dibeli, Ibu nyoba-nyoba pakai. Gak tahunya malah nggak nampak." Bik Yati menerangkan pada Iman.


"Sudahlah, kita jemput Yuna. Tapi Aku gak balik lagi kesini. Aku langsung pulang setelah berjumpa dengan Yuna."


"Im..." ucap Mayang lirih.


❤️❤️❤️


Iman dan Mayang menjemput Yuna di TK. Tadi Iman sudah menghubungi Jamal agar bertemu di TK Yuna, dan meminta tolong Jamal membelikan mainan untuk Yuna.


Sesampainya di TK, Yuna sangat senang melihat papinya.


"Assalamu'alaikum, Papi," ucap Yuna tersenyum lebar.


"Wa'alaikum salam, Sayang. Apa kabar tuan putri?" Iman memeluk dan menc!um putri kecilnya itu setelah Yuna menc!um tangannya.


"Sehat, Pi. Papi nginap ya, Pi?" tanya Yuna.


"Maaf, Sayang. Tiba-tiba Papi ada urusan mendadak, jadi harus balik kerja, Sayang. Besok-besok Papi datang lagi, ya." Iman menggendong putrinya itu dan membawa ke dalam mobil.


"Papi mau pergi lagi?" tanya Yuna sedih.


"Iya, Sayang. Maaf, ya. Ini Papi belikan mainan sebagai pengganti Papi, oke." Iman menyerahkan sebuah boneka besar dan sebuah kantung plastik berisi mainan.


Yuna menerima mainan itu dengan wajah cemberut.


"Jangan cemberut gitu donk, Sayang. Nanti Papi jadi sedih lho. Senyum donk," pinta Iman.


Yuna pun dengan berat hati tersenyum.


"Gitu donk, kiss dulu, Sayang." Iman menyodorkan pipinya ke depan wajah anaknya.


Yuna menc!um pipi kanan, kiri dan dahi papinya.


"Papi pulang ya, Sayang. Assalamu'alaikum, cantik."


"Wa'alaikum salam, Papi."


Iman berjalan mendekati Mayang, ia memutari mobil karena Mayang sudah duduk di bangku supir.


"Benar Kamu gak mau ikut denganku menjumpai Qonita, Yang?" tanya Iman berbisik pada Mayang. Mayang sudah keluar dari mobil.


"Aku gak tau lagi harus mengatakan apa, Im. Aku gak melakukannya. Sekarang terserah Kamu, bisa percaya Aku atau nggak." Mayang berbicara pelan.


"Aku pulang, Yang."


Mayang merasa sangat sedih. Biasanya Iman akan menc!um keningnya dan memeluknya terlebih dahulu. Tapi kali ini tidak.


"Da daag, Sayang," ucap Iman pada Yuna dari balik jendela mobil.


"Da daag, Pi."


Iman pun pergi menuju mobil yang dikendarai Jamal.

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2