
Bab 6. Evaluasi Pertemuan
"Gimana, Bro? Cantik? Sexy?" Pertanyaan yg diajukan Jamal pada Iman saat berjumpa pagi ini di ruangan Iman.
Iman mengingat kejadian semalam. Sebenarnya ia semalam sudah sampai di Petualang Cafe 10 menit sebelum ia menjumpai Qonita.
Karena melihat ada laki-laki lain disana iya jadi duduk di meja lain yang tidak terlihat Qonita karena ada sekat pembatas.
Namun ia bisa mendengarkan pembicaraan mereka. Saat laki-laki itu seolah ingin berbicara serius pada Qonita, disitulah ia nenampakkan dirinya.
Pertama kali melihat Qonita, ia merasa perempuan ini terlihat biasa. Tidak jelek. Bahkan cenderung manis. Tapi jelas kalah saing dengan yang biasa dikenalkan oleh mamanya.
Kulitnya bahkan tidak putih. Sawo matang. Kulit kebanyakan orang Indonesia. Tubuhnya pendek. Ia masih memakai baju seragamnya, PDH coklat Khaki, serta jilbab yang warnanya senada dengan bajunya.
Sikapnya natural banget. Gak ada kesan jaim. Ada ketegasan. Ada keibuan. Ada kelembutan. Ada...
"Eh, kenapa jadi mikirin dia seh." Gerutu Iman dalam hatinya.
"Bro? Malah melamun," ucap Jamal.
"Hmm..." Hanya itu jawaban yang dikeluarkan Iman.
"Ck. Cantik?" Jamal menyeringai.
" Biasa aja. Gak sexy juga. Dia berhijab," jawab Iman dengan ekspresi datar.
"Trus?" tanya Jamal kembali.
"K"
"E"
"R"
"J"
"A"
"Kerja," ketus Iman.
"Ck". Jamal mendesah.
❤️❤️❤️
Sore hari masih di kantor
"Wah... kan bisa main cantik, bro. Kenapa harus bersikap kayak gitu seh." Sahut Jamal setelah selesai mendengar cerita Iman.
"Entahlah," jawab Iman.
"Ck. Lo nyesal kan?" tanya Jamal.
"Ck. Apaan?" ujar Iman.
"Sikap Lo tuh nunjukkin banget. Gak usah ngelak sama Gue. Ngaku aja Lo. Lo ngerasa bersalah, kan?" ungkap Jamal.
"Nggak!" tegas Iman.
"Iya," balas Jamal.
"Terserah!" Sudah mulai malas meladeni Jamal.
"Nah.. bener gue kan? Udah ketebak," sinis Jamal.
"Apaan Lo!" ketus Iman.
"Gue pastiin Lo bakal lanjut sama tuh cewek!" balas Jamal.
"Aneh Lo, ya. Sejak kapan Lo jadi baperan. Ganti kelamin jadi cewek, Lo?" balas Iman tidak terima.
__ADS_1
"Hahha... Lo tuh yang aneh. Gak pernah juga Lo kayak gini. Gak sikap Lo," ungkap Jamal.
"Jangan sok tau," sahut Iman.
"Gue tuh kenal Lo bukan setahun dua tahun, Bos. Jadi gak usah ba bi bu be bo ke Gue," ujar Jamal.
"Ck. Brengsek." Iman mulai frustasi.
"Ketemuan lagi. Minta maaf. Mulai dari awal dengan cara yang baik"
"Cih." Tak terima dengan usul Jamal.
"Huuffft. Susah dibilangin. Awas aja malam minta ditemanin." Makin sengaja menggarai Iman.
"Gak perlu. Makasi. Gue gak perlu ditemani sama Elo!" Membalas Jamal.
"Yakin?" tanya Jamal.
"Pasti. Gue minta ditemani Ichy." Iman menaikkan sudut bibir kanannya.
"Hahahha"
"Hahahha"
Iman dan Jamal tergelak bersama.
❤️❤️❤️
Di kediaman Iman
"Mama?" Iman terkejut saat melihat mamanya ada di rumahnya. Dia baru saja pulang kerja.
"Papi udah pulang?" tanya Ichy.
"Iya, Sayang," jawab Iman.
"Papi mandi dulu ya, Sayang." Ichy mengangguk.
❤️❤️❤️
Selesai makan malam. Mereka bersenda gurau. Tak lama Oma meminta Ichy untuk beristirahat di kamarnya.
"Gimana sama Qonita?" tanya oma Herni.
Iman menggerutu dalam hatinya. Ia jelas sudah tau akan maksud kedatangan mama tercintanya.
"Biasa aja, Ma." Iman menjawab seadanya.
"Ceritain donk. Mama kan pengen denger gimana perkembangannya."
"Gak gimana-gimana, Ma. Ketemu, minum, cerita gak penting, tukaran no HP. Udah. Pulang." Jawab Iman.
Ya, ia sempat meminta no Hp Qonita karena tau mamanya bakal mengintrogasinya.
"Ck. S!al." Umpatnya dalam hati kala mengingat kejadian saat ia meminta no HP Qonita.
Flashback On
"Berapa no HP kamu."
"081****9900." Dijawab dengan sangat cepat layaknya laju sebuat jet.
S!al
"Dia nguji Gue. Ck. Perempuan ini niat ngasih gak seh?" Umpatnya dalam hati.
"Arrgh. Gue lagi gak siap lagi. Berapa tadi nomornya. S!al. Gue tanyak ulang pasti dia ngeremehin Gue."
Iman menatap tajam pada Qonita yang sedang tertunduk karena sedang membaca sebuah pesan masuk di HPnya. Setelah selesai membaca Iman langsung mengambil HP dari tangan Qonita.
__ADS_1
"Lho, kenapa?" Qonita heran HP nya diambil begitu saja.
"Sebentar." Qonita terperangah mendengar jawaban Iman. Jawaban macam apa itu.
Iman mulai mengetik sesuatu di HP Qonita. Tak lama terdengar sebuah deringan dari HP Iman. Iman mengetik sebentar lalu menyerahkan HP Qonita.
Qonita mengerti atas apa yang terjadi. Ia tertawa dalam hati melihat tingkah pria didepannya itu. Serta tertawa atas sikapnya sendiri saat tadi memberi tau nomor HP nya dengan tanpa jeda. Hahah...
Flashback Off.
"Kog gitu seh, Sayang? Qonita itu beda. Jangan Kamu samain sama yang lain. Harus diperlakukan SPECIAL." Oma Herni menekankan kata terakhir di kalimatnya.
"Hufft." Iman menggerutu.
"Jadi gimana pandangan Kamu tentang Qonita?" Oma Herni semakin penasaran.
Iman menghela nafas. Saat ia akan mengutarakan sesuatu, papanya malah bertanya mendahuluinya.
"Kalian ribut?" tanya Opa Pras.
Skak mat
Iman menelan ludah. Papanya tentu lebih tanggap situasi. Oh no. Habislah dia.
"Bener kalian ribut? Mama akan tanya pada Qonita. Mama ma-" Belum selesai mamanya berbicara ia sudah langsung memotong.
"Maaf, Ma. Akan Iman perbaiki. Cuma salah paham aja. Nanti Iman ajak ketemuan lagi." Iman menjawab dengan cepat.
Lebih baik menjanjikan hal yang sebenarnya sangat tak diinginkannya daripada melihat mamanya mendadak dangdut. Eh, mendadak marah.
"Hahha..." Tawa papanya menggelegar.
S!al
"Jangan kasih ampun, Ma. Kesan pertama harusnya menggoda." Seringai papanya. "Lah ini malah ..." Papanya sengaja tak meneruskan.
"Pa, please." Iman frustasi.
"Hahah. Ambil alih, Ma. Papa juga pengen ketemu," ujar opa Pras.
Iman semakin frustasi mendengar perkataan papanya.
"Iya, Papa bener. Kalian gak bisa ketemuan kalo cuma berdua. Mama gak percaya sama Kamu!"
S!al
"Apaan ini. Sejak kapan mama lebih percaya pada cewek itu dari pada anak kandungnya sendiri. S!al." Iman lagi-lagi mengumpat dalam hatinya.
"Undang dia minggu pagi ke rumah Nana," ucap papa.
"Lho kenapa minggu, Pa? Kan acara ultahnya Gagah sabtu malam, Pa," ucap mama.
"Ya gak mungkin kan kita suruh Qonita yang berhijab nginap di rumah Nana yang bukan siapa-siapanya. Eh... maksud papa belum jadi siapa-siapa." Melirik kepada Iman.
Yang dilirik bagai kura-kura dalam perahu. Pura-pura padahal jelas tau.
"Kita semua nginap. Minggu pagi lanjut acaranya sampe sore. Haha..." Papa bahagia akan solusi bijaknya.
"Mama setuju. Nanti setelah mama bicarakan sama adek Kamu, Mama akan hubungi Qonita," ucap Oma Herni.
"Biar Iman yang bilang sama Qonita, Ma. Tanggung jawab donk. Cemen banget gini aja harus Mama yang turun tangan." Ejek Opa Pras.
Nyerah
Nyerah
Nyerah
Arrrgghhh
__ADS_1