
Medan, Sumatera Utara
Qonita akhirnya membalas chat dari mantan suaminya yang menanyakan alamat rumah mereka sekarang.
Mantan suaminya itu mengatakan sabtu sore akan datang ke rumah mereka untuk melihat Fuad dan Nabil.
Sepulang mengajar, Qonita berkumpul bersama ketiga anaknya di kamar Fuad dan Nabil. Nabil baru saja bangun dari tidur siangnya. Sementara Fuad dan Ichy tidak tidur siang.
"Fuad, Fuad masih ingat sama ayah kan, Nak?" tanya Qonita pada putra pertamanya.
"Ayah Lutfi?" tanya Fuad yang masih mengingat nama ayahnya.
"Bener, Sayang," ujar Qonita senang karena anaknya itu masih mengingat ayahnya.
"Kalau Adek Nabil, masih ingat gak sama ayah Lutfi?" tanya Qonita pada putra keduanya.
"Apa Bunda?" Nabil malah balik bertanya.
"Ayah Lutfi, ingat gak?" seru Qonita.
Nabil hanya menatap pada Qonita dengan mata yang membulat, bingung akan pertanyaan bundanya.
"Adek gak ingat, ya?" imbuh Qonita.
"Adek gak ingat," ujar Nabil dengan wajah menggemaskan.
"Adek udah lupa, Bunda," sahut Fuad.
"Iya, Sayang. Soalnya adek masih kecil, Nak."
__ADS_1
Usia Nabil memang baru 2 tahun lebih saat Qonita bercerai dengan ayah kandung dari anak-anaknya itu. Ditambah sejak dari bercerai itu, mereka tidak pernah bertemu lagi dengan ayah mereka. Dan sekarang ada sosok Iman yang menggantikan peran ayahnya, otomatis Nabil hanya mengetahui Iman saja sebagai papinya.
"Ayah Lutfi itu siapa Bunda?" tanya Ichy yang sedari tadi mendengar pembicaraan bunda dan adik-adiknya.
"Ayah kandung Fuad dan Nabil, Sayang. Katanya Sabtu sore mau datang kesini, Nak," ungkap Qonita.
"Oh, ayah mereka masih hidup ya Bunda?" tanya Ichy heran.
"Iya, Sayang," jawab Qonita.
"Ayah mereka dimana Bunda? Kog selama ini gak pernah datang?" tanya Ichy.
"Iya, ayah mereka ada di Medan juga, Nak. Mungkin baru sempat datang," ujar Qonita.
"Ooo, sibuk ya, Bunda?" tanya Ichy.
"Mungkin, Nak," seru Qonita. "Fuad, Nabil nanti kalau ketemu ayah harus sopan ya, Nak." Qonita melihat ke arah Fuad dan Nabil.
❤️❤️❤️
Jakarta
Sementara di dalam kamar, Yuna bertanya pada maminya.
"Mi, nanti om Agil jadi papanya Yuna ya, Mi?" tanya Yuna pada Mayang.
"Belum tahu, Sayang. Kamu seneng gak kalau om Agil jadi papanya Kamu?" tanya Mayang pada putrinya.
Yuna terlihat berfikir. "Nanti papi gimana, Mi?"
__ADS_1
"Mami udah berpisah sama Papi, Sayang. Makanya papi menikah lagi sama tante Qonita," seru Mayang.
"Jadi Mami juga mau menikah lagi sama om Agil ya, Mi?" tanya Yuna.
"Mungkin, Sayang. Kalau Kamu setuju dan senang, Mami akan menikah dengan om Agil," ungkap Mayang.
"Nanti papi gak datang lagi ya, Mi?" tanya Yuna.
"Sesekali akan datang, Sayang. Tapi gak bisa sering-sering. Soalnya papi kan tinggal di Medan, sementara kita tinggal di Jakarta. Jaraknya jauh, Sayang. Ditambah tante Qonita kan lagi hamil anak kembar, jadi papi gak bisa ninggalin tante Qonita," seru Mayang.
"Jadi ditelpon aja ya, Mi?" tanya Yuna polos.
"Iya, Sayang. Kalau Kamu rindu ama Papi, telfon aja, ya."
"Papi udah gak sibuk kerja ya, Mi? Udah bisa ditelfon?" tanya Yuna.
Deg
Mayang terkejut mendengar pertanyaan putrinya.
Selama ini yang Yuna tahu papinya itu tidak bisa dihubungi. Sedang bekerja menjadi alasan yang dibuat Mayang sejak masih bersama Iman dulu.
Wajar saja Yuna bertanya seperti itu, papinya yang selama ini tidak bisa dihubungi tiba-tiba dapat dihubungi kapan pun dia mau.
"Kerjaan papi udah gak sebanyak dulu, Sayang. Sekarang Yuna udah bisa hubungi papi." Mayang terpaksa mengatakan demikian.
"Nanti kalau Mami nikah sama om Agil, Mami hamil kayak tante Qonita ya, Mi?" tanya Yuna.
"Semoga aja ya, Sayang."
__ADS_1
❤️❤️❤️