
Keesokan harinya mama Qonita, bujing Jelia dan Yahya, Fiqri dan istrinya, Bujing Tika serta Qonita telah berkumpul di rumah uwak Mila.
Uwak Mila adalah kakak tertua mamanya Qonita. Sehingga uwak Mila dan suaminya, uwak Iful adalah orang yang dituakan dikeluarga mamanya.
"Semalam papa dan mamanya Iman, datang. Katanya Iman ingin segera menikahi Kamu Qonita. Meminta agar minggu ini bisa langsung hantaran, serta 2 minggu setelah hantaran langsung menikah." Bujing Jelia membuka pembicaraan.
"Wah, gercep," celoteh Bujing Tika.
"Gimana pendapat Kak Tari?" tanya Bujing Jelia pada mama Qonita.
"Gimana menurut keluarga yang baik aja," ucap mama Qonita.
Semenjak kepergian suaminya, papa dari Fiqri dan Qonita, Tari memang kerap tak berani mengambil keputusan. Selalu melibatkan pendapat dari kakak dan adik-adiknya.
Terutama Bujing Jelia, yang pendapatnya selalu dipertimbangkan, mengingat Bujing Jelialah satu-satunya keluarga mereka yang pendidikannya paling tinggi serta wawasannya yang luas.
Sementara mama Qonita dan Bujing Tika hanya tamatan SMA.
"Coba Yahya dulu Nak, sampaikan pendapat Yahya tentang Iman," ujar Bujing Jelia.
"Kalo menurut Yahya ya Wak, Bang Iman sepertinya laki-laki yang bertanggung jawab, mapan, dan gak neko-neko. Bawaannya fleksibel, bisa serius, bisa santai." Yahya berbicara melihat ke arah Tari, dia memanggil uwak pada kakak mamanya itu.
"Ya wajar, orang kayak Bang Iman itu cepat ngambil keputusan, udah biasa jadi pemimpin. Dan sepertinya Bang Iman udah ngerasa cocok sama kak Qonita. Makanya gak mau nunggu lama-lama lagi," lanjut Yahya.
"Sekarang pendapat Fiqri," ucap Bujing Jelia.
"Fiqri seh sama kayak Yahya. Iman laki-laki yang berani. Dia benar-benar menunjukkan keseriusannya pada Qonita." Lalu ia menatap pada Qonita.
"Cuma disini, Abang perlu ingatkan sama Adek, Iman itu sangat tampan, bibit bebet dan bobotnya jelas," ucap Fiqri.
"Perempuan yang menyukainya pasti banyak. Pekerjaannya juga memungkinkan untuk dia berjumpa dengan banyak perempuan diluar sana. Entah rekan bisnisnya, bahkan anak atau pegawai rekan kerjanya," sambung Fiqri.
"Sementara semenjak permasalahan Adek dan beliau itu, Adek cenderung khawatiran, bawaan curigaan. Jangan sampai nanti hal-hal kayak gini mengganggu keharmonisan rumah tangga kalian." Fiqri menyebut mantan suami Qonita dengan beliau.
Qonita menunduk sendu mendengar perkataan abangnya.
"Bener Dek, kalo Kamu siap menikah dengan Iman, artinya Kamu harus siap menerima semua resikonya. Salah satunya seperti yang dibilang Bang Fiqri," sahut Zuraida, istri Fiqri.
"Selain itu, Kamu juga harus siap menerima Iman yang sepertinya, basic agamanya juga tidak terlalu matang," lanjut Zuraida.
Keluarga Qonita memang bukan berasal dari keluarga agamis seperti pada keluarga kalangan kiyai, bahkan tidak ada satu pun dari mereka yang pernah belajar di pesantren. Tetapi mereka dibekali dengan basic agama yang lumayan kuat.
"Gimana menurut Kak Mila?" tanya Bujing Jelia.
"Kalau kelihatannya anaknya baik, ya Kak Mila setuju aja." Gimana, Bang?" Uwak Mila malah bertanya pada suaminya.
Uwak Iful malah terkekeh. "Tanyak anaknya dulu, mau apa gak. Nanti semua udah setuju rupanya anaknya yang gak maunya," ungkap uwak Iful.
“Iya Jel, dari tadi Kau sibuk nanyain pendapat, entahnya yang dilamar gak mau. Kalo gak mau, biar untuk anakku aja. Hahaha..." celoteh bujing Tika.
"Iya, Qonita gimana Nak, coba Qonita dulu yang ngomong sekarang."
"Qonita terserah gimana pendapat keluarga aja Jing, Qonita ikut," ujar Qonita.
"Jangan gitu! Karna Kau nanti yang jalani. Kalo kami kan cuma bisa mendukung dan kasih pandangan. Sekarang secara pribadi, mau apa gak nikah sama dia?" tanya uwak Iful.
Qonita terdiam. Bingung mau mengatakan apa. Mau bilang mau dia terlalu malu.
"Atau gini, Adek suka sama Iman?" Fiqri menengahi.
Qonita mengangguk.
"Siap menikah dengan Iman dengan segala konsekuensinya?"
Qonita mengangguk lagi.
__ADS_1
"Iya ya, kalo gini lebih jelas, ya. Yang punya badan setuju. Fiqri, uwak Mila, bujing dan Yahya setuju. Bang Iful gimana?" tanya Bujing Jelia lagi.
"Abang kan baru jumpa sekali itu aja. Cuma dari situ Abang bisa nilai anaknya bisa diandalkan. Kalo masalah agama, bisa itu sambil belajar," ucap uwak Iful.
"Gak pake ilmu agama pun, intinya kan dia tau bedakan mana yang salah mana yang benar. Tergantung Qonitanya nanti gimana mendampinginya, biar sama-sama belajar," ucap uwak Iful.
"Oke, berarti semua udah setuju. Masalah langsung hantaran gimana? Setuju, gak pake meresek dulu? Dan waktunya minggu ini?" tanya Bujing Jelia.
"Ya kalo udah gitu permintaannya, udah terima aja. Niat baik kan harus disegerakan," ujar uwak Mila.
"Kak Tari gimana? Setuju?"
"Iya, Kakak ikut aja. Tapi untuk menikah 2 minggu setelah hantaran, apa gak terlalu cepat itu. Persiapannya gimana? Pesan catering dan lain-lain kan gak bisa mendadak,” ucap Tari.
"Gampang itu, duit yang ngatur," sahut bujing Tika. "Kau minta yang banyak Qonita, dia kan kaya. Kalo ada duit beres itu semua."
Qonita menghela nafas.
"Jangan lupa kalian tanyak udak kalian. Udak kalian yang lebih berhak sebenarnya. Datang sama calonmu, jumpai udak kelen Qonita," ucap Uwak Iful.
"Iya, Wak," sahut Qonita.
"Iman udah nanyak mahar ke Adek?" tanya Fiqri.
"Udah Bang, Qonita minta emas," jawab Qonita.
"100 gram minta," ucap bujing Tika.
"Jangan memberatkan," ujar uwak Mila.
"Kecil lah segitu sama dia, Kak Mila," ujar bujing Tika.
"Minta yang banyak Qonita, uang kasih sayang nya juga minta yang banyak. Hahaha..." Bujing Tika tertawa karna usulnya sendiri.
Qonita sampai dirumahnya malam. Anak-anak sudah tidur. Sebelum tidur ia mengetik pesan pada Iman. Sebenarnya sore tadi Iman ada melakukan panggilan video padanya, tetapi Qonita menolak panggilan itu, karena sedang diskusi dengan keluarganya.
Tetapi Qonita mengirimkan pesan pada Iman, mengatakan jika sedang tidak bisa mengangkat telpon darinya, dan menjelaskan alasannya dengan sejujurnya.
Dan Iman membalas dengan memintanya mengabari jika sudah selesai.
"Assalamulaikum, Bang. Udah tidur? Maaf baru ngabarin, Qonita udah di rumah. Ini mau tidur." Tak butuh waktu lama, pesan berubah menjadi ceklis biru dua.
HP Qonita berbunyi. Seperti biasa, Iman melakukan panggilan video. Qonita sudah mempersiapkan diri, dia sudah mengenakan jilbab instan rumahannya.
"Assalamualaikum, Bang."
"Waalaikum salam, Sayang. Capek ya? Udah makan?"
Qonita tersenyum. "Capek dikit,Bang. Udah makan kog. Abang sendiri gimana? Jangan suka telat makannya."
"Iya Sayang, Aku udah makan. Telat dikit doank. Hehe..." Iman menyengir.
Qonita cemberut.
"Jangan cemberut gitu, Sayang, apel fujinya godain Aku terus." Iman tersenyum jahil.
"Ck. Abang!"
"Iya... iya, bercanda Sayang. Jadi gimana tadi hasilnya?"
"Kita disuruh jumpain udak, Bang."
Iman mengernyit. "Udak siapa?"
"Adek almarhum papa. Tapi di Medan cuma ada udak Zardi aja. Yang lain ada dikampung."
__ADS_1
"Jadi kapan mau pergi?"
"Terserah Abang, bisanya kapan?"
"Ini maksudnya, kita pergi berdua atau bawa anak-anak?"
"Berdua aja dulu, Bang. Ngenalin Abang sama udak dan nanguda dulu. Biar bisa cerita-cerita. Kalo bawa anak-anak, nanti yang ada malah fokus ke anak-anak."
"Pulang kerja Kamu aja gimana?"
"Abang, gak sibuk?"
"Kan udah dibilang, untuk Kamu, Aku selalu siap, Sayang. Besok pulang Kamu kerja, Aku jemput kita langsung ke rumah udak Kamu."
"Iya, Bang."
"Kereta Kamu, gapapa ditinggal di sekolah?"
"Besok perginya naik ojol aja, Bang."
"Bener gapapa? Atau Aku antara aja, ya."
"Helleh, gaya." Qonita mencebik.
"Lho, beneran Sayang, besok Aku jemput pagi."
"Nggak Bang, gak usah," ucap Qonita manja.
Iman tersenyum. "Hantarannya jadi minggu ini, kan?"
"Iya."
"Nikahnya 2 minggu kemudian, kan?"
"Mungkin, liat aja nanti Bang, paling kan dibahas pas hantaran."
Iman tersenyum lebar. "Makasi, Sayang. I love you so much."
Qonita tersenyum. Tapi tak mengucapkan apapun.
"Kog gak dibalas, Sayang?"
"Kan belum sah, Bang."
"Ya Allah, Sayang. Aku kan gak nidurin Kamu Sayang, sampe harus nunggu sah dulu."
"Astagfirullah Abaaang! Ngomongnya ih..."
"Tinggal bilang love you too doank. Ribet amat."
"Hehehe..." Qonita malah terkekeh sambil menutup mulutnya dengan jari-jarinya.
"Sayang, Kamu ngeselin gini tapi Aku kog makin cinta, ya."
"Udah ah, mau tidur."
"Kiss dulu, Sayang."
"Males."
"Mmmuaaah..."
"Assalamualaikum, Abang."
"Waalaikum salam, Sayang."
__ADS_1