PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 30 Sah Euy


__ADS_3

Selesai Subuh, Qonita langsung berangkat ke gedung tempat akad dan resepsi pernikahannya digelar. Ada beberapa mobil yang standby, disediakan khusus untuk Qonita dan keluarganya.


Ruangan sudah tertata rapi, elegan, mewah, dan pasti sangat indah. Qonita takjub memandang dekorasinya. Tatanannya sungguh rapi dan berkelas.


“MasyaAllah, indahnya. Hamba gak pernah memimpikan yang seperti ini Ya Allah, semoga keindahan seperti ini juga bersemayam dalam rumah tangga kami kelak, Aamiin," ucap Qonita dalam hatinya.


Qonita menuju ruang rias, dia akan dirias disana, pakaian pertama yang dipakai untuk akad adalah kebaya putih modern.


"Maaf Bu, make up nya minimalis aja ya, Bu. Tolong jangan terlalu tebal ya, Bu," ucap Qonita pada sang MUA.


Sang MUA tersenyum mendengarnya. "Tenang aja, Mba. Dijamin Mba bakal suka. Takut kelihatan menor, ya?"


Qonita mengangguk. Sang MUA malah tertawa.


"Udah dibayar mahal ini lho, Mba. Kualitasnya pasti beda. Gak akan mengecewakan. "


❤️❤️❤️


Sementara di kediaman Opa Pras, telah berkumpul keluarga besar Iman. Iman, Ichy, Nana dan keluarganya menginap dirumah orang tua mereka.


"Tegang banget, Bro," ucap Jamal pada sahabatnya itu.


"Entahlah, menikahi Qonita sama horornya kayak mau sidang S3 didepan penguji killer." Iman mengusap wajahnya kasar.


"Hahaha..." Jamal malah tertawa kuat.


"Ck." Iman berdecak.


"Kenapa, Man? Papa lihat dari tadi Kamu serius banget mukaknya. Kayak yang pertama kali aja," ungkap opa Pras.


"Huffft... Auranya beda Pa." Iman duduk sambil memejamkan matanya.


"Minum dulu, Sayang. Mama gak pernah lihat Kamu setegang ini. Dulu waktu mau sidang S1 dan S2, Kamu biasa aja. Pas mau nikah dulu, juga biasa aja, kan?" ucap oma Herni.


Iman menerima minuman yang diberikan oma Herni. Sekali teguk, minuman itu telah habis.


❤️❤️❤️


Qonita telah selesai dirias. Dia memperhatikan dirinya pada cermin besar yang ada dihadapannya.


"MasyaAllah, cantiknya Kamu, Dek," ucap Zuraida.


"Bener kata orang ya, Kak. Ada harga, ada rupa," ucap Qonita berbisik pada Zuraida, malu didengar oleh periasnya.


Zuraida tersenyum mengangguk. "Pihak pengantin pria udah datang, Dek. Bentar lagi Kamu disuruh keluar."


Qonita mengangguk. "Iya, Kak."


❤️❤️❤️

__ADS_1


Ditengah ruangan, telah duduk masing-masing keluarga dari pihak laki-laki maupun perempuan.


Di meja depan sudah duduk Tuan kadi, calon pengantin pria, Fiqri sebagai wali Qonita, udak Zardi sebagai saksi dari pengantin perempuan, serta om Ferdi sebagai saksi dari pengantin laki-laki.


Tuan kadi menyuruh agar calon mempelai wanita dipanggil.


Qonita akhirnya keluar, semua mata menatap pada Qonita. Berjalan dari ruang rias menuju meja akad, terasa panjang bagi Qonita.


Memakai high heels serta songket span, agak sedikit menyulitkan pergerakan Qonita.


Sejak Qonita dipanggil, Iman hanya menatap kedepan dengan raut wajah datar. Ketika keberadaan Qonita tak jauh darinya, baru dia melihat pada Qonita.


Iman sedikit terkejut. "Bidadari syurga." Bathinnya dengan senyum tertahan.


Qonita telah duduk disebelah Iman. Qonita tak berani menatap ke arah Iman. Ia hanya menunduk saja.


Emas yang menjadi mahar sudah ada ditengah meja. Tuan kadi sudah membuka pembicaraan. Kini waktunya ijab kabul dimulai.


Fiqri sudah berjabatan tangan dengan Iman. "Saudara Sulaiman, Saya nikahkan dan kawinkan Engkau dengan adik kandung Saya Qonita Yasmin Siregar dengan mas kawin 3 kg emas dibayar tunai."


“Saya terima nikah dan kawinnya Qonita Yasmin Siregar binti Muhammad Idris Siregar dengan mas kawin tersebut, tunai." Lantang Iman menyebutkan ucapan kabul tersebut.


"Bagaimana, Saksi?"


"SAH."


"SAH."


Iman sudah bernafas lega. Kali ini senyuman hadir di wajahnya. Sementara Qonita tersenyum sambil menunduk. Bersyukur dalam hati, atas kemudahan dan kelancaran proses pernikahannya.


Tuan kadi melanjutkan prosesi akad nikah. Pembacaan doa, penandatanganan berkah nikah, serta penyerahan mahar.


Prosesi akad nikah telah selesai. Tuan kadi juga sudah pulang. Qonita dan Iman sedang berfoto berdua.


Fotografer mengarahkan mereka berdua dengan posisi yang sangat dekat. Iman mengambil kesempatan untuk berbicara pada Qonita. Karena sejak tadi, dia tak sempat menyapa Qonita, walau hanya 1 kata saja.


"Assalamualaikum, Istriku," ucap Iman di telinga Qonita.


Qonita tersenyum. "Waalaikum salam, Suamiku, Imamku," ungkap Qonita.


Iman sangat senang mendengarnya. Mungkin karena sudah sah, Qonita tak terlihat malu mengucapkannya.


Tangan Iman masih berada pada pinggul Qonita. Sedangkan tangan Qonita berada pada dada Iman. Iman dan Qonita saling menatap sambil tersenyum.


Fotografer sudah mengambil foto mereka. "Sekarang kita ganti gaya dulu." Sebuah kalimat yang memutus pandangan Iman dan Qonita.


Mereka tersenyum malu.


❤️❤️❤️

__ADS_1


"Bunda," teriak 3 anak bersamaan. Ichy, Fuad dan Nabil berlarian menuju Iman dan Qonita.


"Bunda cantik banget," ucap Ichy.


Qonita tersenyum. "Ichy juga cantik banget, Sayang. Kayak Cinderella," ucap Qonita, sambil memegang kedua bahu Ichy.


Kali ini, Qonita tak bisa jongkok memeluk Ichy, pakaiannya tak memungkinkan untuk melakukan itu. Hanya Iman yang menggendong Nabil.


"Bunda, kata nenek mulai sekarang Fuad dan adek panggil Om jadi Papi," ucap Fuad.


"Iya, donk. Kan Papi udah nikah sama Bunda. Nanti pulang dari sini juga kita tinggal sama-sama." Iman langsung bersuara mendengar ucapan Fuad.


"Nanti kita tinggal dimana, Om?" tanya Fuad.


"Lho, kog panggil om, panggil papi donk," seru Iman.


"Oh iya, lupa Om, eh Papi." Fuad tertawa.


"Nanti kita tinggal di rumah Papi," ungkap Iman.


"Ada kolam renangnya, Om?" tanyak Nabil.


Iman tersenyum. "Panggil Papi, Sayang. Papi. Coba sekarang bilang Pa-pi." Iman sengaja mengeja kata papi agar anak-anak terbiasa memanggilnya papi.


"Papi," ucap Nabil.


"Bagus, sekarang coba ulang lagi pertanyaannya. Ada kolam renangnya gak, Papi?" Iman berusaha mencontohkan kalimat pertanyaan yang tadi Nabil pertanyakan.


“Ada kolam renangnya gak, Om Papi?" ucap Nabil.


Qonita tertawa geli mendengarnya. Ichy dan Fuad ikut tertawa, entah mereka mengerti apa yang ditertawakan Qonita, ataukah hanya sekedar mengikuti tawa Qonita saja.


Iman menghela nafas. Merasa bingung harus bagaimana menjelaskan pada Nabil agar Nabil mengerti.


"Ga ada, Sayang. Nanti kalau mau berenang, kita ke kolam renang aja, ya," ucap Iman.


"Mulai sekarang, om nya diganti jadi papi, Sayang. Biar panggilannya sama kayak Kak Ichy. Kak Ichy kan panggil om dengan papi. Nabil juga gitu. Panggil Papi, biar sama. Jangan om lagi, jangan om papi, tapi pa-pi. Sekarang coba panggil papi," perintah Qonita.


"Papi," ucap Nabil melihat pada Iman.


"Sekali lagi, Sayang," pinta Qonita pada Nabil.


"Papi."


"Nah, sekarang coba rame-rame," seru Iman pada ketiga anaknya.


"Papi," teriak Ichy, Fuad dan Nabil. Semua mata pun melihat kearah mereka.


Iman dan Qonita saling melempar senyum.

__ADS_1


__ADS_2