
Medan, Sumatera Utara
Sore hari Qonita berkumpul bersama anak-anaknya di ruang keluarga. Ini adalah hari kedua suaminya tidak ada di rumah.
"Bunda, besok papi pulang, ya?" tanya Fuad pada Qonita.
"Iya, Sayang. InsyaAllah besok papi pulang," Qonita mengelus sayang kepala Fuad.
"Kog papi gak ada nelfon seh, Bun?" tanya Ichy.
"Telfon sekarang aja, Bun," pinta Fuad.
"Telpon papi." Nabil ikut-ikutan meminta agar menghubungi papinya.
Qonita berfikir sejenak. Selama ini dia tidak pernah menelfon suaminya duluan. Qonita hanya mengirimkan pesan saja jika ingin mengabari suaminya. Qonita khawatir mengganggu pekerjaan suaminya.
Qonita melihat jam di layar Hp. Pukul 5 sore. Sepertinya waktu yang cukup tepat untuk menghubungi suaminya.
"Bunda coba telfon, ya. Kalau gak diangkat nanti kita kirim pesan aja, gimana?" Qonita memberi usul pada anak-anak.
"Oke, Bun." Mereka kompak menjawab. Ketiga anaknya ini begitu kompak. Mereka bahkan mempunyai jawaban yang sama saat menjawab. Kedekatan mereka membuat mereka mempunya kalimat khas yang seolah-olah sudah mereka sepakati sebelumnya dalam menjawab pertanyaan.
Qonita mencoba menghubungi suaminya. Kali ini dia langsung melakukan video call. Dalam nada sambung ketiga sudah muncul wajah suaminya di layar HP nya. Qonita pun tersenyum cerah.
"Assalamu'alaikum, Istriku." Iman terlihat sedang duduk bersandar di headboard. Ia berusaha membuka kancing kemeja paling atas.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam, Papi." Anak-anak langsung menyerbu berdiri di depan layar menampakkan wajah, ingin berbicara dengan papinya.
"Wah, hahaha... Ada Jagoan dan Tuan Putri rupanya. Apa kabar kesayangan Papi?" Iman menanyakan kabar anak-anaknya.
"Alhamdulillah sehat, Pi." Sekompak itu mereka.
"Alhamdulillah. Ichy gimana tadi TK nya?" tanya Iman pada putrinya.
"Tadi Kakak lulus hafalan Surat Al Maun, Pi," seru Ichy senang.
"Alhamdulillah. InsyaAllah jadi anak sholehah seperti Bunda ya, Sayang."
"Aamiin." Mereka kompak menjawab, termasuk Qonita. Ikut meng-Aamiini do'a suaminya.
"Fuad gimana, bisa kan jagain Bunda, Kakak dan Adek selama Papi gak ada?" tanya Iman pada anak laki-laki tertuanya.
"Kalau Adek gimana? Ngapain aja hari ini?" Giliran Nabil, si anak bungsu yang ditanya.
"Belajar sama Kak Vivi. Terus dibolehin main, Pi." Iman tersenyum mendengar jawaban Nabil.
"Mantap. Semua udah pada mandi belum?"
"Udah, Pi." Ketiga anak itu menjawab dengan kuat.
"Papi kapan pulang?" tanya Fuad.
__ADS_1
"Besok sore, Sayang. Bunda mana? Papi kangen neh, sama Bunda." Qonita memang menyingkir saat anak-anak ingin berbicara pada papinya.
Ichy memberikan HP pada bundanya.
"Yok dek, kita main lagi." Ichy mengajak adiknya bermain. Ichy memang tampak lebih dewasa, dia mengerti papinya ingin berbicara berdua dengan bundanya.
"Ya, Bang?" ujar Qonita saat HP sudah ditangannya.
"Rindu, Sayang." Qonita tersenyum mendengar rayuan suaminya.
"Qonita juga rindu. Abang baru sampai, ya? Belum mandi?" Qonita bertanya karena suaminya masih menggunakan baju formal.
"Iya Sayang. Kamu nelfon pas Aku baru sampe hotel."
"Maaf ya, Bang. Tadi anak-anak minta Qonita hubungin Abang. Soalnya dari semalam Abang kan gak ada ngomong sama mereka."
"Gak apa, Sayang. Ntar malam Aku telfon lagi, ya. Aku mau mandi dulu. Gerah banget, Sayang."
"Iya, Bang. I love you."
"I love you too, sweety."
"Assalamu'alaikum, Suami Qonita."
"Wa'alaikum salam, Istriku."
__ADS_1
❤️❤️❤️