PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 77 Sakit


__ADS_3

Medan, Sumatera Utara


Qonita sudah bersiap untuk kerja. Sebelum pergi dia menemui Ichy di kamarnya.


"Assalamu'alaikum, Sayang. Wah, udah mandi ternyata," ucap Qonita berjalan mendekati Ichy yang sedang memakai pakaiannya.


"Wa'alaikum salam, Bunda." Ichy tersenyum manis. "Kakak baru siap mandi, Bunda. Bunda udah mau pergi kerja?" tanya Ichy ikut duduk di samping Qonita dibatas tempat tidur.


"Maaf, Bu. Saya permisi ke dapur." ART yang biasa mengurus Ichy izin meninggalkan kamar.


"Silahkan, Mba."


"Sayang, kalau misalnya bunda lanjut pendidikan di luar kota, boleh gak?" tanya Qonita pada Ichy. Dia sengaja bertanya seperti itu, ingin melihat reaksi Ichy.


Qonita masih penasaran dengan mimpinya tadi malam. Serta agar dia tidak salah dalam mengambil langkah untuk kedepannya. Banyak hati yang harus dipertimbangkan, termasuk putrinya ini.


"Ke luar kota kayak papi pergi kerja ya, Bun?" Raut wajah Ichy yang semula ceria berubah datar.


"Iya, Sayang. Cuma agak lama. Kalau S2 kira-kira 2 tahun, Sayang."


"Lama," protes Ichy. "Bunda pergi sendiri?"


Qonita terdiam. "Kalau Bunda bawa adek, gimana menurut Kakak, Sayang. Adek kan belum TK jadi bisa Bunda bawa."


"Adek Fuad juga?" tanya Ichy dengan raut wajah sedih.


Qonita terdiam. Tidak mampu menjawab karena sudah melihat raut wajah sedih di wajah putri nya yang cantik itu.


"Sayang..." Qonita berucap lirih. Sementara Ichy sudah menunduk dengan bibir gemetar menahan tangis.


"Sayang..." Qonita meraih Ichy dan memeluknya.


"Huaa.." Ichy menangis dalam dekapan Qonita. "Bunda jangan pergi. Kakak gak mau Bunda pergi." Ichy sudah terisak, tangisannya terlihat pilu.


"Maafin Bunda, Sayang. Bunda cuma nanyak aja. Bunda gak pergi, kog." Qonita merasa sangat bersalah. Belum pernah dia melihat Ichy menangis sebelumnya. Kecuali dalam mimpinya tadi malam.


"Kakak gak mau sendiri. Bunda jangan pergi." Ichy mengusap air matanya.


"Kan ada papi, Sayang. Kakak gak sendiri."


Ichy menggeleng. "Kakak ikut Bunda pergi aja." Nafas Ichy masih terengah-engah akibat tangisannya tadi.


"Bunda gak jadi pergi kog, Sayang. Nanti Bunda kuliah di Medan aja. Biar gak jauh dari Kakak dan adek-adek. Jangan nangis lagi, ya." Qonita kembali memeluk Ichy.


"Bunda janji gak pergi?"


Qonita tersenyum tipis. "InsyaAllah, Sayang."


❤️❤️❤️


Qonita berada di ruang UKS saat jam istirahat. Dia merasa badannya tidak enak, terasa agak panas. Dia merebahkan badannya disana.


Pulang sekolah dia merasa bimbang. Dia ingin sekali ziarah ke kuburan Jihan. Tapi kondisi tubuhnya tidak memungkinkan.


"Apa Kamu tahu kalau Abang menikah lagi, Mba. Jika memang Kamu mengetahuinya, sungguh luar biasa Kamu mampu bertahan dengan sikap cuek Abang kepadamu, Mba. Sedangkan Aku saja yang selama ini menerima sikap manis Abang, masih ragu apakah mampu menerimanya. Apa semua ini demi Ichy, Mba?" Qonita berbicara dalam hatinya.


Akhirnya Qonita memutuskan pulang ke rumahnya.


❤️❤️❤️

__ADS_1


Binjai, Sumatera Utara


"Tumben jam segini Kamu udah mau pulang, Im. Emang Kamu bilang ambil keberangkatan jam berapa?" tanya Mayang pada suaminya yang sedang bersiap-siap mau pulang.


"Siang, Yang. Di jadwal jam 4 lewat udah sampai Medan." Iman menyampaikan jadwal keberangkatan Bandung-Medan. Walaupun dia tidak sungguhan pergi ke Bandung, tapi tentu saja dia harus mengikuti jadwal yang sesungguhnya agar terlihat nyata, bukan.


"Ada masalah? Dari semalam Kamu terlihat gak tenang."


Iman menoleh pada Mayang. "Gak ada. Seharusnya gak ada masalah."


Mayang terdiam. Tetapi wajahnya tampak murung.


"Kenapa, hem?" Iman mendekati Mayang. Duduk tepat disamping Mayang.


"Sebesar itu cintamu padanya, Im?" tanya Mayang sendu.


"Ketulusannya gak bisa membuat Aku mengatakan bahwa Aku gak mencintainya, Yang. Iya, Aku mencintainya. Cintaku padamu pun masih tetap sama, Yang." Iman mengelus pipi istri sirinya itu.


"Yang Aku tanya hatimu, Im." Mayang menyentuh dada suaminya. Menunjuk ke dada suaminya itu.


Iman mengernyit bingung.


"Jika Kamu mencintainya karena dia adalah istrimu, kenapa dulu Kamu gak bisa mencintai Jihan? Malah Jihan lebih dulu mencintaimu bahkan sebelum kalian menikah."


"Itulah kesalahanku, Yang. Aku terlambat menyadarinya. Aku mencintainya, Yang. Tetapi Aku menghindarinya. Aku menolak mengakui perasaan itu. My honey," ucap Iman dalam hatinya.


"Kenapa Kamu diam, Im?" tanya Mayang karena Iman tak kunjung menjawab pertanyaannya. "Kamu mencintainya bukan karena dia istrimu. Tetapi karna Kamu benar-benar jatuh cinta padanya."


Iman dan Mayang saling menatap. Lalu Iman berpaling dan menghela nafas panjang.


"Entahlah. Yang Aku tahu kalian berdua adalah istriku, dan besar cintaku sama pada kalian berdua," ucap Iman tegas.


❤️❤️❤️


Medan, Sumatera Utara


"Assalamu'alaikum." Iman mengucap salam , anak-anaknya sedang berada di ruang tengah, sedang belajar mengaji.


"Wa'alaikum salam, Papi." Ketiga anaknya berdiri dan berlari kearahnya.


Iman jongkok merentangkan kedua tangannya, menyambut anak-anak dalam pelukannya.


"Apa kabar Jagoan dan Putri Papi yang cantik ini?" tanya Iman pada Fuad, Nabil dan Ichy.


"Alhamdulillah sehat, Pi," ucap mereka kompak.


"Bunda dimana, Sayang?"


"Di kamar lagi istirahat, Pi. Bunda demam." Ichy menerangkan.


Iman terkejut. "Sakit?"


"Iya, Pi," jawab Fuad dan Ichy.


"Badan bunda panas," ucap Nabil perlahan.


"Papi lihat bunda dulu, ya. Lanjut belajar ngajinya ya, Sayang."


"Iya, Pi."

__ADS_1


Iman menganguk pada guru ngaji yang dibalas anggukan juga. Iman berjalan menuju kamarnya.


Iman masuk ke kamar. Dia melihat Qonita sedang tidur. Iman memegang dahi istrinya. Dia terkejut karena panasnya cukup tinggi.


"Sayang." Iman membangunkan istrinya


Qonita membuka matanya perlahan.


"Assalamu'alaikum, bidadariku." Iman mengecup dahi istrinya.


Qonita tersenyum. "Wa'alaikum salam, Imam Qonita. Udah lama?


Iman menggeleng. "Aku baru sampai, Sayang. Kita ke rumah sakit, ya. Badan Kamu panas gini."


"Disini aja, Bang. Qonita udah minum obat, kog. InsyaAllah segera sembuh."


Iman mengambil thermometer yang ada di meja. Mungkin tadi Qonita menggunakannya sehingga ada disana. Lalu meletakkan pada tubuh Qonita.


Thermometer tersebut berbunyi. Iman melihat angka yang tertera disana.


"39. Ini terlalu tinggi, Sayang. Kita berobat, ya," pinta Iman.


"Qonita istirahat aja, Bang."


"Sayang, Kamu kenapa?" tanya Iman sendu.


"Cuma butuh istirahat aja ko, Bang."


"Aku mandi bentar, ya." Qonita pun mengangguk.


Setelah selesai mandi, Iman hanya memakai celana pendek. Dengan bertelanjang dada, dia ikut berbaring mendekap Qonita, berharap agar panas berpindah kepadanya.


"Panas banget, Sayang. 30 menit gada perubahan kita berobat."


Setelah suhu tubuh Qonita dicek ulang dan tidak ada perubahan, Iman memaksa Qonita untuk berobat. Iman menyuruh Vivi untuk mempersiapkan keperluan Qonita, siapa tahu harus opname.


"Papi dan Bunda mau kemana?" tanya Fuad karena melihat Iman memapah bundanya.


"Papi bawa Bunda berobat dulu ya, Sayang."


"Iya, Pi."


❤️❤️❤️


Iman dan Qonita duduk di belakang supir. Iman minta diantar oleh Mang Adi.


"Ke rumah sakit A, Mang," ucap Iman.


Qonita terkejut. Itu rumah sakit paling mahal di Medan. Andai ia dalam keadaan yang lebih baik mungkin Qonita akan protes agar berobat ke rumah sakit X yang juga cukup bagus dan menerima BPJS.


Tetapi tidak dilakukan, karena seluruh badannya terasa nyeri. Dia tidak punya energi yang cukup untuk berdebat dengan suaminya.


Qonita disuruh rawat jalan. Dan beristirahat yang cukup. Iman sudah meminta surat keterangan sakit untuk dikirimkan besok ke sekolah tempat Qonita mengajar.


Sesampai di rumah Iman terus menemani Qonita. Setelah makan dan minum obat, Qonita kembali beristirahat. Iman mendekap tubuh perempuan yang ia cintai itu.


"Apa ada yang Kamu fikirin, Sayang?" tanya Iman dalam hatinya.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2