PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 46 Rumah Nenek Tari


__ADS_3

Sudah 6 hari Iman menghabiskan waktu bersama istri dan anak-anaknya. Iman merasa sangat bahagia atas kehangatan dalam keluarganya ini. Apalagi sekarang Ichy senantiasa terlihat ceria dan gembira.


Seminggu ini Ichy diantar dan dijemput TK oleh papi, Bunda dan kedua adiknya. Hari ini hari Sabtu, sepulang menjemput Ichy, mereka akan langsung menuju rumah neneknya Fuad dan Nabil, mama dari Qonita.


"Assalamu'alaikum, Bunda," ucap Ichy begitu melihat Qonita datang menjemputnya.


"Waalaikum salam, Sayang. Kakak sama papi dulu ya, Nak. Bunda mau ngomong sama Miss Yola," ujar Qonita.


"Iya, Bunda." Ichy berlari menemui papinya yang sedang bersama kedua adiknya.


Qonita masuk ke dalam, menjumpai guru Ichy yang bernama Miss Yola.


"Assalamu'alaikum, Miss. Maaf mengganggu, Saya mau bertanya tentang Ichy. Bagaimana Ichy selama 6 hari ini Miss, apa ada perubahan?" tanya Qonita pada Miss Yola.


"Waalaikum salam, Bu. Alhamdulillah Ichy perubahannya sangat banyak, Bu. Jauh semakin baik. Dia sekarang mudah bergaul bersama teman-temannya. Nilai-nilainya juga semakin membaik," jawab miss Yola.


"Sekarang wajahnya selalu nampak ceria, Bu. Kalau saya sedang mengajar, dan bertanya pada mereka, dia udah mulai berani angkat tangan untuk menjawab, Bu. Walaupun tidak terlalu sering," ungkap Miss Yola.


"Alhamdulillah. Terima kasih banyak ya, Miss. Boleh Saya minta nomor HP Miss?"


"Boleh, Bu. Saya juga akan menyimpan nomor Ibu. Jika ada info atau hal yang perlu disampaikan biar saya kirim ke nomor Ibu."


Miss Yola dan Qonita saling bertukar nomor Hp.


"Maaf Bu, jika saya lancang. Apakah Ibu masih ada hubungan saudara dengan Ichy? Soalnya saya lihat, dia dekat sekali sama Ibu." Miss Yola terlihat sungkan, tetapi rasa penasaran membuatnya tetap mempertanyakan hal tersebut.


"Tidak, Miss. Saya dan Ichy tidak sengaja bertemu di wahana permainan anak. Beberapa hari kemudian kami bertemu lagi, Ichy sedang bersama omanya. Dan akhirnya, Saya berkenalan dengan papinya," ucap Qonita tersipu malu.


"MasyaAllah, luar biasa jalan Allah mempertemukan ya, Bu. Saya pribadi sangat senang akan perubahan Ichy. Yang paling saya salut adalah, perubahan pembawaan Ichy, Bu. Alhamdulillah dia tidak menyendiri dan pendiam seperti dulu."


Qonita mengangguk tersenyum. Puas, itulah kata yang paling tepat untuk apa yang dirasakan Qonita saat ini. Bersyukur atas nikmat Allah, yang bisa membuat Ichy menjadi lebih baik melalui dirinya.


"Terima kasih banyak ya, Miss. Saya permisi, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam, Bu."


Qonita dan keluarganya menuju rumah nenek Tari. Mereka membawa bekal makanan, kue, serta buah.


Sesampainya di rumah nenek Tari, mereka disambut hangat. Fuad dan Nabil sangat senang bisa datang ke rumah neneknya.


Di rumah neneknya ada beberapa mainan yang memang disediakan nenek Tari, untuk cucunya jika mereka datang. Jika mereka pulang, mainan itu tidak dibawa pulang.


Seperti sekarang, Fuad dan Nabil langsung mengambil mainan mereka, karena mereka memang tahu dimana nenek menyimpan mainannya.

__ADS_1


"Ini, Kak. Ada boneka," ujar Fuad pada Ichy.


"Lho kog ada boneka, dek?" tanya Ichy bingung.


"Iya, nenek nyiapin kalau kak Syaquina datang," ucap Fuad.


"Syaquina siapa, Dek?" tanya Ichy.


"Itu lho, anaknya Tulang Fiqri. Pas Bunda hantaran sama pas di rumah nek Jelia kan ada, Kak."


"Oh, Kakak gak ingat."


Ichy memang belum berkenalan dengan mereka. Karena saat di rumah Bujing Jelia dan ketika hantaran, Ichy hanya bersama Qonita saja.


Sore hari, Fiqri datang bersama istri dan ketiga anaknya. Mereka semua bersalaman.


"Siapa namanya?" tanya Ichy pada anak perempuan berhijab.


"Syaquina. Nama Kamu, siapa?" tanya anak bungsu Fiqri itu. Usianya 1 tahun di atas Ichy.


"Ichy. Kita main boneka, Yok. Kita buat rumah-rumahannya," ajak Ichy bersemangat.


"Ayok." Syaquina juga terlihat antusias.


Anak-anak pun langsung bermain bersama.


Qonita tertegun kala ia menghadap ke kanan. Suaminya ternyata sedari tadi melihat kearahnya sambil tersenyum.


"Kenapa, Bang?" tanya Qonita bingung.


"Makasih ya, Sayang. Bersedia gabung di kehidupanku. Makasih udah buat satu-satunya permataku bersinar lagi," ucap Iman lembut dan bersungguh-sungguh.


Qonita tersenyum malu. Ia ketahuan memperhatikan Ichy. Qonita menggenggam tangan suaminya. Ketika hendak berbicara, Fiqri berdehem.


"Ehem." Fiqri sengaja berdehem agak keras, ketika melihat adik semata wayangnya menggenggam tangan suaminya. Hanya bermaksud menjahili saja.


Qonita langsung melepaskan tangan suaminya, karena kaget.


"Aku sama Abang dulu ya, Sayang," ujar Iman pada Qonita. Iman berjalan dan duduk di kursi di sebelah Fiqri.


Fiqri dan Iman bercerita berdua di ruang tamu. Anak-anak sibuk bermain. Riuh, begitulah jika mereka sudah bergabung.


Qonita masuk ke kamar mamanya. Ada mama dan Zuraidah disana.

__ADS_1


"Gimana kabar Kamu, Dek?" tanya kakak iparnya itu.


"Alhamdulillah sehat, Kak."


"Anak-anak bisa menyesuaikan diri di rumah baru?"


"Alhamdulillah bisa, Kak.'


"Kamu sendiri gimana? Kelimpungan gak dampingi suami tajir begitu?"


"Kalau sekarang ya masih biasa aja, Kak. Gak tau nanti kalau ada acara kantor, ya. Intinya anak-anak bisa nerima Abang sebagai papi mereka. Fuad dan Nabil juga udah akrab ama Ichy. Alhamdulillah mereka selalu akur."


"Sikap suami Kamu?"


"Abang baik."


"Cuek?"


"Sama Qonita seh malah nggak, Kak. Gak tau ya kalau sama yang lain."


"Keras, sama Kamu?"


Qonita mengernyit.


"Suka ngatur mungkin, suka nyuruh ini itu."


"Nggak, Kak. Alhamdulillah abang baik."


"Mesra ke Kamu, Dek?"


Sebuah pertanyaan yang mampu membuat wajah Qonita merona kemerahan. Ia tertunduk menahan malu. Entah apa yang ada dalam fikirannya, begitu pertanyaan itu terucap, dia malah tersipu sendiri.


Berbeda dengan pertanyaan bertubi-tubi yang dilontarkan kepadanya sebelumnya. Jika sebelumnya ia mampu menjawab dengan cepat dan padat, tetapi kali ini tidak.


"Romantis ya orangnya?" tanya Zuraidah kembali karena tidak mendapatkan jawaban dari adik iparnya itu.


"Iya, Kak." Qonita tersenyum malu.


"Alhamdulillah kalau dia memperlakukan Kamu dan anak-anak dengan baik. Kalau ada apa-apa, cerita ya, Dek. Abang dan Kakak akan selalu ada untuk Kamu dan anak-anak, jadi tolong jangan menganggap kami tidak ada ya, Dek."


"Iya, Kak. Makasi ya, Kakak Sayang." Qonita memeluk kakak iparnya itu.


Sementara mama tercintanya, sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka tanpa ikut campur sama sekali. Pendengar budiman, mungkin seperti itu julukan untuk nenek Tari.

__ADS_1


Mereka makan malam bersama di rumah nenek Tari. Bukan hanya Qonita, ternyata Zuraidah pun membawa bekal makanan. Kebiasaan yang Zuraidah dan Qonita terapkan jika sedang mengunjungi nenek Tari. Agar nenek tidak merasa repot harus menyediakan ini dan itu.


Anak-anak walaupun tidak tidur siang, tetapi tidak kelihatan lelah sama sekali. Jam 8 malam, baik Fiqri maupun Qonita, pamit pulang.


__ADS_2