
Iman menyentuh pipi Qonita. Qonita membuka matanya.
"I love you." Mata penuh kabut ga!rah itu mendekati Qonita.
Cvp
Sebuah kecvpan kembali mendarat di bibir Qonita.
"So much."
Cvp
Qonita masih terlihat pasrah menerima kecvpan demi kecvpan itu.
"Like crazy." Suara Iman semakin terdengar lirih dan parau.
Cvp
Qonita yang mendapatkan beberapa kecvpan di bibirnya terlihat kaget saat kecvpan itu berubah menjadi lvmatan.
Bibir Iman sudah melvmat bibir atas Qonita. Dilepaskan lalu dilvmat kembali. Beberapa kali hingga bergantian dengan melvmat bibir bawah istrinya.
Setelah puas ia berhenti sejenak.
Ia tatap dalam-dalam mata istrinya. Qonita tidak membalas tadi, dia hanya menerima saja dengan pasrah.
Saat Iman memiringkan wajahnya hendak mendekati Qonita kembali, Qonita menahan tubuh suaminya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Iman heran.
"Baca doa dulu, Bang." Qonita yang khawatir terhanyut dalam arus gelombang cinta buatan suaminya, memilih untuk mengingatkan suaminya agar berdoa terlebih dahulu.
“Hem, doa?"
Qonita mengangguk.
"Allahumma baarik lanaa fiimaa..." Kalimat Iman terputus karena disanggah Qonita.
"Abang..." ucap Qonita manja.
"Lho, kenapa?"
"Doanya yang bener."
"Lho kan emang benar, Sayang."
“Kenapa doa mau makan?"
__ADS_1
"Kan mau makan Kamu, Sayang." Iman berbisik di telinga Qonita. Lalu menggigit manja telinga istrinya itu.
Qonita meremang, seketika ia meremas lengan Iman.
Iman yang merasakan tubuh Qonita menggeliat, tersenyum menggoda.
"Kenapa, suka, hum?"
Qonita menunduk malu. "Udah cepetan, baca doanya, Abang."
"Udah gak sabar, hum?" Iman menyeringai. Ia memang suka sekali menjahili istrinya.
“Bismillah, Allahumma jannibnaassyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."
Mata mereka kini bersitatap. Saling menyelami perasaan satu sama lain.
"Sayang, apa Kamu tau betapa Aku menginginkan mu saaat ini."
Qonita tersenyum mendengar perkataan suaminya. Kali ini ia tak mau menunduk, ia ingin ikut menyelam bersama suaminya.
Qonita teringat akan permintaan lain suaminya, selain memakai lingerie, suaminya dulu juga pernah memintanya agar dialah yang terlebih dahulu menggoda suaminya.
Qonita memberanikan diri duduk dipangkuan suaminya. Ia mendekati wajah sang suami.
Bukan nya memberikan kecvpan atau c!uman pada suaminya, tapi ia malah menjulurkan lidahnya lalu menyentuhkannya pada bibir atas dan bawah suaminya membentuk sebuah bulatan pipih.
Tentu saja perbuatan istrinya ini membuat Iman mendelik. Bukan matanya, melainkan hatinya.
Jiwa kelelakiannya terguncang.
Damn!
Bagaimana mungkin ia kalah dari istrinya.
Tak mau kalah telak dari sang istri, Iman akhirnya melakukan penyerangan.
Qonita meremas baju Iman saat lidah Iman menerjang masuk ke dalam mulutnya. Lidah Iman bermain liar di dalam mulut Qonita. Berusaha untuk menjilati lidahnya berulang kali dengan gerakan memutar, seolah ingin melilit lidahnya.
Qonita menarik nafas dalam saat Iman menyudahi aksinya. Qonita hendak mengungkapkan sesuatu. Tetapi belum sempat Qonita berbicara, Iman sudah memagvt kembali bibirnya.
Bibir serta lidah Qonita kini terasa kebas, terasa bengkak. Ulah dari bibir suaminya yang tak henti-hentinya menggigit bibirnya.
Ia bingung, suaminya ini menggigit bibirnya memakai apa? Gigi atau bibir? Jika memakai bibir, kenapa terasa sangat bengkak. Tetapi jika memakai gigi, kenapa tidak berdarah.
"Aaaahhh," jerit Qonita lirih, saat lidah suaminya ternyata sudah menjalar pada lehernya.
Tangan suaminya kini ikut membantu menyerangnya. Menjalar dari punggung, turun meremas bok0ngnya, lalu mulai melepas kimononya.
__ADS_1
Qonita menggeliat merinding kala dinginnya AC menyusuri tubuhnya yang hanya dibalut benda tipis ala kadarnya itu.
Iman dapat merasakan tubuh istrinya menggeliat tak tentu layaknya cacing kepanasan. Tetapi bagaimana mungkin istrinya merasa kepanasan, sementara AC sudah dinyalakan pada posisi paling terendah.
Sementara kegiatan mereka masih ditahap pendahuluan, belum sampai dibagian inti, dalam proses bakar-membakar.
"Mmpphh," lenguh qonita saat tangan suaminya sudah berpindah ke bagian depan tubuhnya. Mer3mas bagian paling padat dan kenyal dari tubuhnya.
Suara eksotis itu semakin menambah semangat Iman, untuk membuat istrinya itu meracau tak karuan, tak berdaya oleh setiap ken!kmatan yang diberikannya.
Serbuan suaminya yang tanpa henti menggerayangi setiap inchi tubuhnya membuatnya semakin mend3sah kuat. Qonita tak menahan suara-suara erot!s yang keluar dari mulutnya.
Ia tahu suara-suara mengerikan itu terlalu berharga untuk disimpan. Alangkah lebih baik jika suaminya dapat mendengarnya dengan jelas.
Bukankan ini dapat membuat suaminya merasa tangguh dan tak terkalahkan?
"Aaaaah," racau Qonita. Ia sudah pasrah kalah di medan juang.
Pertempuran kali ini adalah hak suaminya. Lagi pula ia tak yakin, jika melawan apa akan bisa menang dari The King of Sulaiman, suaminya.
Entah kapan dan bagaimana caranya, satu persatu pakaian yang melekat sudah tanggal begitu saja. Tidak susah dan repot membukanya, seolah-olah semesta mendukung, mempermudah segala urusan.
Situasi ini terlalu menggelikan. Bagaimana tidak. Dia awalnya tersipu malu sendiri hanya karna melihat ranjang. Dalam kesendirian, memikirkan apa yang akan mereka lakukan di atas ranjang ini saja, sudah membuat wajahnya merah merona.
Lalu kenapa kini ia malah terbawa arus memabukkan ini? Apa karena arus cinta ini begitu dahsyat dan juga berbahaya? Sehingga membuatnya masuk diantara kobaran api cinta yang menyala-nyala.
"Mmpphh," jerit Qonita lagi. Seluruh tubuhnya meremang, ada perasaan tak menentu yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Tapi satu hal yang pasti, ini terasa n!kmat. Begitu mengasyikkan.
Suaminya mampu membuat dirinya bagai berada di awang-awang. Di bawa terbang ke angkasa akibat buncahan bahagia yang melenakan.
Ada kepuasaan akibat sentuhan suaminya yang melewati seluruh bagian tubuhnya, luar dan dalam, goresan sentuhan itu terasa begitu sempurna.
Qonita tahu, ia tak boleh serakah. Ken!kmatan itu tak boleh menjadi miliknya saja. Suaminya harus merasakan hal yang sama.
Di tengah badan lemah terkulai tak berdaya ia mencoba bangkit. Ia kumpulkan segenap kekuatan untuk menangkis kenakalan sang suami.
Menyadari istrinya mulai mencoba melawan, di tengah kemeriahan ga!rah yang tak tertahan oleh buatannya, Iman membiarkan istrinya kini berada di atas tubuhnya.
Qonita membalas serangan demi serangan persis seperti yang ia lakukan tadi. Iman menutup matanya, menikmati setiap perlakuan istrinya.
Istrinya ini, entah kenapa selalu membuatnya tak tentu arah. Perasaannya kini mulai terombang ambing di udara lepas. Bagaimana mungkin ini terasa berbeda?
Kenapa dia lebih menyukai ini. Lebih terasa menyentuh, terasa menusuk hingga ke dalam. Padahal istrinya tak membelah dadanya untuk sekedar menyentuh hatinya.
Kenapa Iman merasa bagai seorang raja yang diagungkan. Disanjung oleh kemewahan rasa, seolah-olah sangat dibutuhkan dan didambakan.
Setelah merasa cukup menikmati setiap aroma kelezatan yang diciptakan sang ratu, Iman membalikkan keadaan kembali.
__ADS_1
Ia adalah rajanya. Sudah menjadi tanggung jawabnya untuk memimpin.
“Aaaahhh," desis Qonita kala tubuh mereka bercampur menjadi satu.