PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 32 Pernikahan Suamiku


__ADS_3

Binjai, Sumatera Utara


Mayang POV


Hari ini, Aku harus merasakan hal yang sama. Menerima dengan ikhlas bahwa orang yang aku cintai harus menikahi perempuan lain.


Jika kalian bertanya kenapa Aku harus merelakan suamiku menikah lagi? Jawabannya adalah karna itu keputusan yang Aku buat sendiri. Keputusan 7 tahun yang lalu.


Tujuh tahun yang lalu, Aku dicampakkan oleh keluargaku, hanya karena Aku mencintai anak dari musuh papaku.


Saat Aku memilih kabur dari rumah, ternyata namaku sudah dikeluarkan dari Kartu Keluarga. Miris, begitulah kehidupan yang aku jalani.


Tujuh tahun lamanya Aku bersembunyi. Menjadi istri siri yang tidak punya keluarga sama sekali.


Beberapa hari setelah kaburnya diriku, seluruh keluargaku pindah entah kemana. Tak ada sekalipun aku mendengar kabar mereka.


Yang aku punya hanya suami, anak tunggalku, dan 3 ART. Bahagiakah Aku? Ya, karena itu adalah pilihanku.


Suamiku? Apakah dia baik padaku? Ya, dia sangat sayang padaku dan anak kami. Walau sebulan hanya 4 kali dia mengunjungi kami.


Walau selama dia tak bersama kami, tak pernah dia menghubungi kami.


Bukan karna dia lupa pada kami, bukan. Tapi karena seperti itulah kesepakatan yang telah kami buat, demi menjaga agar rahasia kami tak terbongkar. Pernahkan kalian mendengar, bahwa dinding saja bisa menjadi saksi.


Flash back on


Aku sedang menunggu pacarku, lebih tepatnya mantan pacarku. Kami baru putus 5 hari yang lalu. Keputusan yang kami ambil karena tak ada yang merestui hubungan kami.


Aku kalah. Aku gak sanggup bila jauh darinya. Dua hari berpisah dengan laki-laki yang sangat Aku cintai, Aku jadi gila, gila karna kehilangan dirinya. Aku memutuskan kabur.


Namun sayang, Aku tak bisa menghubunginya. Aku memutuskan menginap di hotel sambil menunggu no. HPnya aktif kembali.


Hari ke 3 kabur, baru Aku bisa menghubunginya.


"Im," ucapku saat melihat dia datang. Im adalah panggilan sayangku untuknya. Aku berlari dan langsung memeluknya.


"Yang," ucapnya datar. Aku senang dia masih memanggilku dengan yang. Aku yang menyuruhnya memanggilku begitu.


Dia mengajakku untuk duduk ditaman. Aku memang mengajaknya bertemu di taman ini, agar kami lebih leluasa.


"Ada apa?" tanyanya meminta penjelasan kenapa aku meminta bertemu dengannya.


"Aku gak bisa jauh dari Kamu, Im. Aku sayang Kamu. Aku gak bisa hidup tanpa Kamu." Air mataku mengalir deras. Aku melihatnya menghela nafas berat.


"Kamu harus bisa, Yang. Kita udah sepakat, bukan?"


"Gak, Im. Aku gak bisa. Aku cinta banget sama Kamu. Aku mau nikah sama Kamu," ucapku dengan tersenggal-senggal karena sambil menangis.

__ADS_1


"Kita gak bisa nikah, Yang. Kedua keluarga kita gada yang setuju. Kamu tau jelas ini gak akan terjadi."


"Kawin lari, ayo kita kawin lari."


Dia terkejut. Lalu mengumpat dengan sangat keras. "S1al!" Dia meremas rambutnya kasar.


"Kenapa, Im? Kamu masih cintakan sama Aku?"


"Maaf, Yang. Aku gak bisa. Aku udah menerima permintaan papa. Aku dijodohkan dengan Jihan. Dua minggu lagi pertunangan kami."


Air mataku tak berhenti mengalir. Bagaimana Aku bisa menerima semua ini.


"Im," desakku menggeleng.


"Yang, maaf. Kita gak bisa sama-sama."


"Gimana dengan Aku, Im?" Air mataku tak berhenti mengalir.


"Pulanglah, Yang. Lanjutkan hidup Kamu, sesuai kesepakatan kita!"


"Aku kabur dari rumah, Im. Udah 3 hari. Aku terus hubungi Kamu, tapi gak bisa."


"S1al. Arrrrggghh... Yang, kenapa Kamu berbuat nekat?"


"Aku cinta Kamu, Im." Tersedu aku mengucapkannya. Tidak sedetik pun airmataku berhenti mengalir. Sakit, hatiku rasanya bagai ditikam belati.


Ditolak oleh orang yang aku cintai, entah seperti apa rasanya. Jiwaku mati. Aku mengikutinya ke dalam mobil.


Ya, dia akan mengantarku pulang ke rumah orang tuaku. Sesampainya di gerbang rumah orang tuaku, satpam menghampiri mobil.


"Maaf, mau berjumpa siapa, Pak?" tanya Satpam pada Iman.


"Pak No," ucapku berusaha menampakkan diri dari dalam mobil.


Pak Yono terkejut. "Mba Mayang?"


"Buka pintunya, Pak. Kami mau masuk."


"Maaf, Mba. Tapi dirumah tidak ada orang. Dan, em, ma-af Mba, Mba Mayang dilarang masuk," ucap Pak Yono segan.


Akhirnya Iman keluar dari mobil, aku mengikutinya.


"Apa maksudnya, Pak?" tanya Iman pada Pak Yono.


"Seluruh keluaga Mba Mayang udah pindah, Mas. Dan pesan Bapak jika Mba Mayang pulang, suruh bilang bahwa Mba Mayang sudah tidak menjadi bagian keluarga Erlangga lagi. Maaf, nama Mba Mayang sudah dicoret dari KK."


Iman langsung menendang mobil. Ia menyuruhku masuk.

__ADS_1


Tak jauh dari rumah, Iman menghentikan mobil. Ia meminta penjelasan padaku kenapa keluargaku sampai berbuat demikian.


Akhirnya aku menjelaskan padanya bahwa sebelum kabur, aku meletakkan surat dikamarku. Surat yang berisi bahwa Aku memilih kawin lari bersamanya.


Iman marah. Wajahnya memerah, entah menahan amarah atau kekecewaan.


Akhirnya Aku beranikan diri berbicara padanya. Aku katakan bahwa Aku tak melarangnya memenuhi janjinya pada papanya, asalkan dia mau menikahiku, walaupun hanya nikah siri.


Aku berjanji tak akan mengganggu keluarganya. Tak akan pernah menghubunginya, apalagi menampakkan diriku di hadapan keluarganya. Hanya menunggu jika dia datang. Entah kapan pun itu.


Flashback Off.


❤️❤️❤️


"Mami mikirin apa? Dari tadi kog melamun aja?" tanya Yuna pada maminya.


Mayang tersenyum pada Yuna, anak semata wayangnya. "Gapapa, Sayang. Mami gak mikirin apa-apa, kog."


"Mami rindu sama papi, ya?"


Mayang hanya tersenyum, mengabaikan pertanyaan anaknya itu.


"Kenapa seh Mi, papi kog gak bisa dihubungi? Kawan-kawan Yuna bilang, kalo papinya kerja keluar kota, mereka masih bisa video call sama papinya. Kenapa kita gak bisa, Mi?"


Mayang terdiam sesaat mendengar pertanyaan putrinya itu. Pertanyaan ini sudah beberapa kali dilontarkan Yuna padanya.


Sebenarnya Yuna sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Tetapi kadang, ketika teman-temannya membicarakan orang tua mereka, ia menjadi bertanya-tanya, kenapa papinya berbeda.


"Sayang, kan Mami udah sering bilang. Papi itu kerjanya gak sama kayak papinya teman Yuna. Di tempat kerja papi gada sinyal, Sayang." Mayang mengelus rambut Yuna.


"Kita harusnya bersyukur, Sayang. Karena papi beberapa minggu sekali bisa pulang. Teman mami, suaminya malah setahun sekali baru bisa pulang, Sayang."


"Lama banget ya, Mi?" tanya Yuna yang tak mengerti tentang minggu dan tahun.


"Iya, Sayang. Lama banget, kayak bang Toyib," ucap Mayang mencandai anaknya.


Yuna terkekeh mendengarnya.


"Mi, kapan Yuna punya adek?"


"Doain aja ya, Sayang. Biar Mami bisa cepat hamil,” ucap Mayang sendu.


"Iya, Mi."


Tak hanya Yuna yang berharap dia bisa memiliki adek. Mayang pun demikian. Mayang pernah hamil lagi ketika Yuna berusia 2,5 tahun. Sayang, ia mengalami flek, dan beberapa hari berikutnya mengalami pendarahan sehingga harus dikuret.


Riwayat keguguran yang pernah dialaminya, ditambah frekuensi pertemuannya dengan Iman yang sangat jarang, menjadi alasan hingga kini dia belum bisa menambah anak lagi.

__ADS_1


__ADS_2