
Binjai, Sumatera Utara
Malam ini Mayang tak bisa tidur. Setelah menidurkan Yuna, Mayang memilih keluar kamar, duduk di depan televisi. Dia bolak-balik mengganti channel. Baginya tak ada tayangan yang tepat untuk ditonton.
"Belum tidur, Bu?" tanya Bik Yati pada Mayang.
Di rumahnya, selain tinggal bersama Yuna, dia juga tinggal bersama 3 orang yang membantunya.
Bik Yati, pekerjaan sehari-harinya adalah memasak, mencuci dan mensetrika. Suami Bik Yati, Mang Didi bekerja menjaga tanaman serta menjadi supir, serta keponakan mereka Mai, menjadi pengasuh Yuna serta membantu Bik Yati membersihkan rumah.
Bik Yati adalah mantan ART di rumah orang tua Mayang. Sejak kepindahan keluarga Mayang, Mayang meminta Bik Yati untuk ikut bersamanya.
Bik Yati, Mang Didi serta Mai, sudah paham akan kondisi Iman dan Mayang. Sehingga mereka mengerti harus bersikap bagaimana terhadap tetangga dan yang lainnya.
Mayang sudah menganggap mereka seperti saudara sendiri. Mayang hanya punya mereka saja saat ini, tidak ada yang ditutupi pada mereka termasuk pernikahan Iman dan Qonita.
Mayang menggeleng. "Gak bisa tidur, Bik."
"Mikirin Bapak?" tanya Bik Yati.
Mayang tak menjawab, karena jika ia berkata tidak, Bik Yati pasti tau dia berbohong.
"Jalani saja seperti biasa, Bu. Ini kan bukan kali pertama Ibu mengalaminya. InsyaAllah, semua akan terlewati seperti yang dulu."
"Iya, Bik. Tapi kali ini, Iman mencintainya, Bik."
Flash Back On
"Kenapa Im, kog wajahnya kusut gitu?" tanya Mayang pada Iman, saat Iman pulang kerumahnya.
"Pusing, mama mau jodohi Aku lagi," jawab Iman.
Mayang terkekeh. "Bukannya udah biasa dijodohin terus?" ledek Mayang.
Iman memang selalu menceritakan kepada Mayang setiap oma Herni, mamanya hendak menjodohkannya.
"Hem. Tapi kayaknya, mama kali ini serius."
"Gak pake cara biasa?" tanya Mayang.
Cara biasa disini adalah penolakan Iman kepada setiap gadis yang dijodohkan mamanya.
Iman kerap menolak dengan berbagai alasan. Ada saja kekurangannya, membuat oma Herni pusing dibuatnya.
"Udah, tapi kali ini mama gak mau tau. Mama pake ngancam Aku lagi," gerutu Iman.
"Orang penting?" Mayang heran, siapa perempuan yang dijodohkan pada suaminya itu, sehingga sang suami sulit menolak seperti biasanya.
"Malah nggak. Dari keluarga sederhana, dia Janda."
Mayang melotot mendengarnya. Pasalnya, selama ini hanya gadis saja yang hendak dijodohkan pada suaminya.
"Anaknya dua, laki-laki." Iman memperjelas status wanita yang dijodohkan padanya.
"Tumben banget. Mama kenal dimana?"
"Gak sengaja, Ichy suka sama dia."
__ADS_1
Mayang kaget mendengarnya. Ada kekhawatiran yang dirasakannya.
Mayang tau jika Ichy sulit menerima orang baru, apalagi perempuan. Dan sekarang, ada perempuang yang bisa mengambil hati anak tirinya itu.
Dari awal menikah tak ada kekhawatiran Mayang pada pernikahan pertama suaminya. Walau suaminya jarang berkunjung, namun ia menyadari hati suaminya hanya tertaut padanya.
Iman masih begitu mencintainya, walau dia telah menikah dengan Jihan, bahkan setelah mereka memiliki anak, Ichy.
Namun, dari curhatan Iman, dan naluri yang dirasakannya, ia jelas tau bahwa hubungan Iman dan Jihan hanya ibarat status saja.
Iman memang melaksanan kewajibannya sebagai seorang suami. Tapi ia tak bisa bersikap pada Jihan layaknya seperti pada Mayang.
Bahkan Mayang menyadari, Iman dan Jihan jarang melakukan rutinitas suami istri. Hal ini diperkuat dengan bagaimana Iman kerap menumpahkan ga!rah tertahannya pada Mayang setiap Iman pulang kerumahnya.
Jika Mayang sedang datang bulan pada saat Iman datang, maka Iman pasti akan terlihat frustasi. Padahal harusnya Iman bisa melakukannya dengan Jihan, saat Jihan masih ada.
"Kamu udah pernah ketemu dia, Im?" tanya Mayang.
"Udah. Dia berhijab."
Mayang semakin kaget mendengarnya. Ia menelan ludahnya.
"Cantik?" tanya Mayang ingin tahu.
"Hem, biasa aja. Sederhana, tapi..." Iman tak melanjutkan kalimatnya, ia malah tampak berfikir entah memikirkan apa.
"Tapi?" Mayang semakin penasaran akan sosok perempuan yang mungkin akan menjadi saingannya.
Iman masih saja diam, dia fokus pada fikirannya sendiri. Mayang yang merasa diabaikan kemudian bertanya lagi.
"Hum?" Iman tersentak dari lamunannya. "Kenapa, Yang?"
"Kamu mikirin apa?" Iman mengernyit akan pertanyaan Mayang.
"Kamu mikirin perempuan itu?" tanya Mayang lagi.
"Ha? Ck, Yang." Iman merasa jengah akan pertanyaan Mayang.
"Boleh lihat fotonya."
"Gak punya." Iman menghela nafas panjang.
"Bohong."
Iman berdecak. Mama bahkan gak tau apa-apa tentang dia, apalagi Aku.
"Pinjam HP." Mayang menyodorkan tangannya, meminta HP milik Iman.
Iman mengernyit.
"Aku mau lihat foto dia, Kamu punya nomor HP nya kan, Im? Aku mau lihat dari PP dia."
Iman terlihat malas meladeni. Ia langsung saja menyerahkan HP nya pada Mayang.
"Siapa namanya?" tanya Mayang sambil membuka aplikasi yang ada di HP Iman yang hendak dilihatnya.
"Qonita," ucap Iman datar tanpa melihata ke arah Mayang.
__ADS_1
Mayang menatap lama pada layar HP Iman.
"Manis," ucap Mayang dengan ekspresi datar.
❤️❤️❤️
Dua hari kemudian Iman datang lagi. Sama seperti kemaren, kali ini dia juga tidak menginap. Hanya berkunjung beberapa jam, lalu akan pulang.
"Ada yang perlu kita omongin," ucap Iman saat mereka sedang berdua di kamar.
"Tentang perempuan itu?" tebak Mayang.
Iman mengangguk. "Mama dan Ichy bener-bener menyukainya."
"Kamu, Im?" tanya Mayang ingin memastikan.
Iman mengernyit.
"Kamu juga menyukainya?" Iman menghela nafas mendengar pertanyaan istri sirinya itu.
"You know me so well, Yang." Iman mengusap wajahnya. "Aku gak bisa terus-terusan nolak. Apalagi, ini pilihan Ichy," ucap Iman datar.
"Lalu?" tanya Mayang.
"Apa?"
"Kamu dan dia? Bakal sama kayak Kamu dan Jihan dulu?"
"Aku gak tau. Jangan tanyakan itu, please."
"Kamu menyukainya." Tebakan Jihan bukan tak beralasan. Pasalnya kali ini suaminya seperti terlihat galau. Apalagi didukung oleh Ichy yang menyukai Qonita. Bagi Iman, kebahagiaan Ichy adalah prioritasnya. Mayang tahu betul akan hal itu.
"Yang..." ucap Iman tak setuju akan pernyataan Mayang.
"Benar, kan?" tanya Mayang. Saat ini, wajahnya sudah terlihat muram.
"Ck. Aku cinta Kamu, Yang." Iman sungguh-sungguh mengatakannya.
"Aku gak berhak cemburu, kan?" tanya Mayang lirih.
"Arrrghh!" Iman mengerang menahan kesal. Benci akan situasi yang dihadapinya kini. Jika boleh memilih, dia ingin membahagiakan semuanya.
"Aku udah kehilangan keluargaku, Im. Aku gak mau kehilangan Kamu," ucap Mayang perih. Kedua matanya sudah berair.
"Bahkan dari dulu, cuma Kamu yang milikin Aku, Yang. Setelah semua yang terjadi, Kamu meragukanku sekarang?" tanya Iman tegas.
Iman sedikit kecewa akan pernyataan Mayang. Bahkan hingga Mami dari anak pertamanya meninggal, cintanya hanya untuk Mayang.
"Maaf, Im. Maaf."
Iman mengangguk. Ia mencakup wajah Mayang lembut. Iman memilih mengakhiri pembicaraan yang tak mengenakkan ini.
"Kamu udah bersih?" Iman bertanya karena dua hari yang lalu ketika ia datang, Mayang sedang datang bulan.
Mayang mengangguk. Iman tersenyum menggoda. Iman mema gut dagu Mayang, menarik ke arahnya. Hidung mereka sudah bersentu han.
"Aku sangat menginginkanmu sekarang, Yang."
__ADS_1