PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 95 Anting Siapa Ini?


__ADS_3

Medan, Sumatera Utara


Kantor Iman


"Lah, kenapa itu wajah, Bos? Bukannya kita gak lembur ya, semalam? Atau lembur bareng istri, ya?" Jamal menggoda bosnya yang memasang raut wajah datar, tetapi matanya terlihat sayu dan lelah.


"Aku gak bisa tidur semalam. Istirahat nanti kita keluar." Hanya itu yang diucapkan Iman. Jamal sudah dapat mengerti. Pasti ini berhubungan dengan istri siri bosnya itu, sehingga tidak dapat diceritakan di kantor ini.


"Siap, Bos," sahut Jamal.


Saat jam makan siang, Iman dan Jamal keluar. Di dalam mobil Iman menceritakan permasalahan semalam sore pada Jamal, sahabatnya.


"Lo curiga Mayang sengaja melakukannya?" tanya Jamal.


"Entahlah. Tapi bukannya malah berbahaya untuknya kalau Qonita mengetahui hubungan kami? Keluargaku jelas gak ada yang mendukungnya. Lalu kenapa dia melakukannya?" Iman terlihat bingung dengan kondisi ini.


"Dan Qonita sama sekali nggak menaruh curiga sama Lo?" tanya Jamal lagi.


Iman mengangguk.

__ADS_1


"Aneh. Untuk perempuan yang pernah diselingkuhi sebelumnya, Aku rasa aneh kalau Qonita bersikap santai. Sekalipun bisnis Kamu lagi jaya-jayanya, dan mungkin lawanmu yang melakukannya, seenggaknya dia harusnya bersedih dan menaruh rasa curiga," ungkap Jamal.


"Aku cuma khawatir dia memendamnya sendiri. Aku gak mau dia sakit lagi," ucap Iman menghela nafas panjang.


"Dia bilang percaya padamu tapi tidak pada perempuan lain. Apa artinya dia merasa orang lain yang sengaja melakukan ini untuk merusak hubungan kalian? Dan dia tidak mau masuk dalam jebakan tersebut? Luar biasa hebat istrimu."


"Nanti kalau ke Binjai, Kamu ikut Aku," pinta Iman pada asprinya itu.


"Ck. Nungguin Lo senang-senang ama istri Lo? Br3ngs3k!" umpat Jamal.


"Lo bantuin Gue siap itu, lihat ada lagi gak yang nempel di baju Gue. Kalau ada lagi dan Qonita tahu bisa habis Gue."


"Trus, apa Lo bakal nanyak ke Mayang tentang anting itu?" tanya Jamal.


"Kalau bukan punya Mayang, lalu punya siapa? Bukannya semalam Lo cuma ke Binjai dan sisanya ada di kantor? Tapi tunggu di kantor kita juga ada nerima 2 tamu, kan?" selidik Jamal.


"Hem, makanya Qonita nyuruh Aku letak anting ini di meja kantorku, yang bisa dilihat orang kalau datang. Jadi mana tau ada yang merasa itu punyanya, bisa dikembalikan."


"Ide yang bagus. Lebih bagus lagi jika memang ada yang mengaku itu miliknya, seenggaknya bukan Mayang yang melakukannya."

__ADS_1


"Aku juga berharap seperti itu," ucap Iman.


"Ini, nanti Lo letak di meja Gue." Iman mengeluarkan anting dari kantong kemejanya.


Jamal mengulurkan tangan kirinya, dia melirik sebentar anting itu."


"Bagus. Gimana kalau seandainya anting ini memang milik Mayang?" tanya Jamal menoleh pada bosnya.


"Entahlah. Belakangan memang Mayang mengeluh padaku. Katanya Aku hanya memperdulikan Qonita. Huft, kog bisa banget ya, orang poligami sampe 4. Aku dua aja udah pusing," keluh Iman.


"Bisa jadi Mayang yang melakukannya, biar Lo ribut ama Qonita. Lo cerita tentang alasan perceraan Qonita ke Mayang, kan?"


"Hem." Iman mengangguk.


"Lo nggak ingat apa, pernah lihat Mayang pakek anting ini?"


"Ck. Mana gue ingat sampe kesitu."


"Lo ingatnya saat dia gak pake apa-apa, kan?" sindir Jamal.

__ADS_1


"S!al," umpat Iman.


❤️❤️❤️


__ADS_2