
Kantor Iman
"Yang, Kamu pulang dulu, ya. Aku gak mau kita buat keributan di kantor. Aku lagi kerja." Iman memilih menyuruh istrinya pulang karena keberadaan Mayang malah membuatnya bertambah pusing.
"Kamu ngusir Aku? Pasti dia pernah kemari dan Kamu gak usir dia, kan?" Pertanyaan Mayang membuat Iman mengusap wajahnya kasar.
Memang benar Qonita pernah datang ke kantornya. Dan dia pasti menahan istrinya pulang, karena mereka harus menikmati kebahagian berdua di kamar kecil itu terlebih dahulu. Kedatangan Qonita memang nenambah semangatnya. Semangat untuk melakukan 'itu' dan 'anu'. Ah, Iman semakin rindu pada istrinya yang satu lagi.
"Sekarang Kamu mau apa, Yang?" tanya Iman pada Mayang, sudah malas meladeni istrinya itu. Semakin cepat istri sirinya itu pulang, semakin baik bagi kewarasannya.
"Kamu harus membagi waktu, materi, perhatian dan yang lainnya secara adil pada Aku dan dia. Dan Kamu harus mengesahkan pernikahan kita secara hukum." Mayang menatap tajam pada suaminya.
"Aku gak bisa melakukannya. Aku cuma bisa kasih materi yang sama untuk kalian. Lebihnya Aku gak bisa kasih. Sekarang mau Kamu gimana?" tanya Iman tegas.
"Im, Kamu..." ucap Mayang lirih. "Kamu gak bisa seperti itu sama Aku, Im. Sekarang semua udah tahu tentang pernikahan kita. Jadi Kamu harus bisa berlaku adil sekarang."
"Justru karna udah pada tahu, baik keluarga Aku maupun keluarga Kamu gak ada yang setuju. Dan mereka meminta kita untuk berpisah, Yang," ungkap Iman terpaksa.
__ADS_1
Deg
Mayang kaget mendengarnya.
"Kamu udah janji gak akan menceraikan Aku, Im."
"Iya benar, Aku janji gak akan menceraikan Kamu. Tapi Aku gak ada janji semua akan berubah sesuai permintaan Kamu tadi, Yang. Maaf Aku gak bisa kasih lebih ke Kamu."
Deg
Air mata Mayang kembali menetes.
Iman menghela nafas panjang. "Jangan berfikiran buruk pada Qonita, Yang. Dari semua orang yang menentang pernikahan kita, hanya dia yang bisa menerimanya walau hatinya merasa sakit, Yang," imbuh Iman.
"Bahkan dia yang memohon pada Papa agar Aku gak harus memilih antara Kamu dan dia. Karena andai itu terjadi, Aku pasti akan memilihnya," sambung Iman.
Deg
__ADS_1
Mayang terdiam mendengarnya. Hatinya merasa sakit. Tega sekali suaminya ini berkata demikian padanya.
Bukannya membujuk merayunya, malah berkata akan memilih perempuan lain. Jelas sekali dirinya kalah dari perempuan yang bahkan belum setahun mendampingi suaminya. Dia yang sudah bersama suaminya selama 8 tahun bahkan sudah memiliki seorang anak, tidak ada artinya di mata suaminya.
"Aku pulang, Im. Makasi untuk 8 tahun penderitaanku. Maaf udah mengganggu pekerjaanmu." Mayang berlari pergi sambil menangis.
Di depan ruangan Iman ada dua orang yang sudah menunggu. Mayang melewati kedua orang tersebut.
"Maaf, Nak. Kenapa Kamu menangis?" tanya pria paruh baya yang menunggu tadi.
"Kamu Mayang mantan pacar Iman?" tanya seorang perempuan cantik yang bersama laki-laki paruh baya itu.
"Saya bukan mantan pacarnya. Saya istrinya," ucap Mayang pada kedua orang tersebut.
Deg
Keduanya terkejut mendengar penuturan Mayang.
__ADS_1
❤️❤️❤️