
..."Perlu waktu sebentar untuk Anda menyatakan cinta kepada seseorang, tetapi perlu seumur hidup untuk membuktikannya." – Erich Fromm...
Medan, Sumatera Utara
Sudah 2 hari Iman pulang malam. Qonita memaklumi pekerjaan suaminya. Anak-anak selalu menanyakan keadaan papinya. Qonita menjelaskan bahwa papi mereka sedang banyak pekerjaan.
"Bun, ke kantor Papi, yok," ajak Fuad. "Fuad udah lama gak ke kantor papi. Mumpung guru ngajinya gak datang." Guru mengaji mereka permisi tidak datang karena sedang ada urusan.
"Iya, Bun. Kita antar makan malam sekalian," sahut Ichy.
"Papi lagi banyak kerjaan, Sayang. Kasihan nanti kalau kita datang, kerjaan papi makin lama siapnya," ungkap Qonita.
"Habis antar makanan, kita pulang aja, Bun. Kita keliling, jalan-jalan sore." Ichy memberikan usul.
"Adek mau ketemu papi," seru Nabil.
Padahal ketiga anaknya berjumpa dengan papi mereka di pagi hari. Tapi kebiasaan berkumpul di sore dan malam hari membuat anak-anaknya merasa kehilangan.
"Ya udah, Fuad, Ichy dan Nabil mandi dulu, ya. Bunda mau nyiapin bekal untuk makan malam papi." Anak-anak pun menuju kamar mereka masing-masing guna mengambil pakaian.
Qonita meminta bantuan ART di rumahnya untuk nembantunya memasak agar lebih cepat selesai. Setelah selesai, Qonita dan anak-anak bergerak menuju kantor suaminya.
Membawa bekal yang bisa dimakan untuk sekitar 7 orang. Qonita sengaja melebihkan, yang dia tahu biasanya suaminya lembur hanya berempat atau berlima orang saja.
Sesampai di kantor suaminya, Qonita langsung menuju ruangan suaminya. Beberapa pegawai yang mengenal Qonita sebagai istri dari bos mereka, menegur hormat dan ramah pada Qonita.
Tepat di depan ruangan suaminya, anak-anak mengetuk pintu dan mengucap salam. Mereka membuka pintu setelah terdengar suara dari dalam yang menyuruh masuk.
"Assalamu'alaikum, Papi." Ketiga anaknya mengucap salam dan bergantian mencium tangan papinya. Mereka juga menyalami Jamal dan dua pegawai Iman yang ada disana. Iman dan ketiga anggotanya sedang bekerja di sofa, banyak berkas dan ada laptop disana.
Iman berdiri mendekati istrinya yang sedang meletakkan bekal makanan di meja suaminya. Qonita lalu menyalam suaminya.
__ADS_1
"Kami bawa bekal buat makan malam Abang, cukup untuk 7 orang, Bang. Abang masih lembur, kan?"
"Iya, Sayang. Makasi." Iman menjatuhkan kepalanya di leher istrinya. "Maaf, kali ini kita gak bisa gunakan kamar buat yang enak-enak, Sayang. Lain kali gak apa, ya." Iman berbisik pada istrinya.
Qonita mendelik. "Anak-anak mau lihat Abang. Mereka yang minta bawain makan malam untuk Abang."
"Hahaha, Aku pikir Kamu rindu Aku, Sayang. Sama rindu perbuatan kita yang melenakan di ruangan itu," goda Iman.
"Wah, anak-anak pada kemari ada gerangan apa? Papinya jadi bang Toyib, ya? Gak pulang-pulang," selidik Jamal menggoda ketiga anak itu.
"Papi pulang kog, Om. Tapi pulangnya malam. Kalau pagi baru ketemu," ungkap Fuad.
"Jadi ini kemari mau jemput papi, ya?" tanya Jamal berpura-pura.
"Bukan, Om. Mau kasih bekal makan malam untuk Papi," ujar Nabil.
"Untuk Om ada, gak? Kan Om ikut lembur juga?"
"Ada kog, Om. Bunda bawa banyak. Ya kan, Bun?" Ichy bertanya pada Bundanya.
"Oke, Bun."
"Kami pulang ya, Bang," ucap Qonita pada suaminya.
"Iya, Sayang. Aku antar sampe bawah," seru Iman.
"Gak usah, Bang," tolak Qonita.
"Ya udah, hati- hati ya, Sayang. Makasi udah bawain makan malam untukku."
Qonita dan anak-anak berpamitan pada Jamal dan 2 pegawai yang ada disana. Iman mengecup kepala istrinya ketika sudah di depan pintu. Qonita dan anak-anak menyalam suaminya.
__ADS_1
❤️❤️❤️
Binjai, Sumatera Utara
Iman mengunjungi Mayang dan Yuna. Setelah beberapa hari tidak ke Binjai karena banyaknya pekerjaan, kali ini Iman menyempatkan mengunjungi istri siri dan anaknya.
Yuna masih berada di TK. Iman dan Mayang berada di ruang tamu.
"Tumben agak lama Kamu baru kemari, Im." Mayang bertanya pada suaminya karena sudah hampir seminggu tidak datang berkunjung.
"Maaf, Yang. Aku lagi banyak pekerjaan. Beberapa hari ini Aku lembur. Ini baru agak lempang waktunya."
"Oh. Ke kamar yuk, Im," ajak Mayang.
Iman jelas tahu apa yang diinginkan istrinya itu. Iman tentu tidak bisa menolak, apalagi sebentar lagi anaknya, Yuna akan pulang. Sudah pasti dia akan menghabiskan waktu bersama putrinya itu.
Setelah melakukan hubungan suami istri, mereka menjemput Yuna. Seperti biasa, Yuna selalu bahagia saat papinya pulang. Mengajak papinya bercerita serta bermain bersama
❤️❤️❤️
Mayang POV
Iman gak ada membicarakan masalah pakaiannya. Apa istrinya tidak melihat lipstik serta mencium aroma parfun yang sengaja Aku buat di pakaian Iman.
Huh, rencanaku tidak berhasil. Kufikir itu bisa membuat kecurigaan pada istrinya.
Banyak jalan menuju roma. Aku sudah menjalankan rencana yang lain. Semoga kali ini berhasil.
Maaf, Im. Aku gak bisa mengalah terus. Bersikap manis seolah-olah perasaanku gak ada artinya, gak perlu dijaga. Andai Kamu mengetahui aksiku ini, Kamu gak mungkin meninggalkan Aku kan, Im?
Nggak, Kamu gak boleh tahu kalau Aku sengaja melakukannya. Aku gak bakal ngaku.
__ADS_1
❤️❤️❤️
..."Cinta itu seperti perang; mudah memulainya, sulit mengakhirinya." – Ann Brashares...