
"Maaf, Yang. Gak sempat. Aku harus pulang. Lain waktu, oke." Iman mengusap lembut wajah Mayang. Lalu memberikan sebuah c!uman.
Ekspresi Mayang berubah murung setelah mendengar penolakan Iman. Ia menatap sendu bercampur marah pada suaminya.
"Pernahkah sekali aja Kamu mementingkan kami, Im?" Mata Mayang sudah terlihat berair.
"Yang, kumohon. Aku akan cari waktu yang tepat, oke." Iman menangkup wajah Mayang dengan kedua tangannya, berharap pengertian dari istrinya itu.
"Bahkan ketika Jihan udah gak ada, Kamu tetap sama aja, Im. Apalagi sekarang, ada istri baru Kamu itu. Dia udah banyak merubah Ka-" Kalimat Mayang terhenti karena Iman menyanggahnya.
"Jangan bawa-bawa Qonita dalam masalah kita, Yang." Iman memotong kalimat Mayang, tidak senang akan pernyataan istrinya itu.
"Dia bahkan gak tau apa-apa. Sama kayak Jihan dulu. Jadi tolong, Kamu jangan bawa-bawa mereka. Ini masalah kita." Iman berusaha bersikap tenang.
"Aku akan datang lagi, Yang. Bahkan Aku datang lebih cepat dari janjiku kemaren." Iman berucap lembut sambil mengelus pipi Mayang.
"Aku selalu berharap Kamu bisa berlaku adil pada kami, Im. Yuna selalu menanyakan Kamu," ucap Mayang lirih.
Iman terlihat frustasi. Ia menghela nafas berat. "Jangan berdebat lagi, Yang. Ini gak baik untuk kita."
"Oke, tapi Aku mau minggu ini Kamu nginap disini," ucap Mayang menatap tegas suaminya.
"Aku gak bisa, Yang. Aku baru dua minggu menikah, bagaimana mungkin Aku langsung bilang mau keluar kota." Iman terlihat gusar.
"Istri Kamu perempuan baik-baik, kan?Bukankah seharusnya dia mendukung pekerjaan suaminya dan percaya pada suaminya?" ucap Mayang sarkas.
Iman terlihat mengepalkan tangannya, berusaha menahan amarahnya.
"Qonita memang perempuan baik-baik, Yang. Tapi jangan lupa, yang dia tahu suaminya ini hanya miliknya seorang, berbeda dengan Kamu, Yang."
Air mata Mayang mengalir deras. Ini di luar ekspektasinya. Seharusnya mereka berpelukan mesra, bergulat dengan penuh ga!rah, untuk saling melepas rindu.
"Aku pulang, Yang," putus Iman tak ingin memperpanjang perdebatan mereka. "Jangan susahkan Jamal lagi. Dia udah banyak dibebani untuk urusan diluar pekerjaan. Jangan hubungi dia jika tidak ada alasan yang penting."
__ADS_1
Mayang merasakan sakit dihatinya. Bukannya membujuknya, suaminya malah ingin meninggalkannya dalam keadaan seperti ini. Amarahnya memuncak.
"Kalau gitu sampaikan pada istri Kamu itu kalau suaminya juga memiliki istri lain selain dirinya," teriak Mayang kala Iman sudah berada di depan pintu hendak keluar dari kamar mereka.
Yuna, Jamal dan Bik Yati bisa mendengar teriakan Mayang, walau mereka tak tahu jelas apa yang diucapkan Mayang.
Yuna berlari ke arah kamar orang tuanya. Jamal yang juga menduga ada sesuatu yang tidak beres mengikuti Yuna. Begitu juga dengan Bik Yati, ia mengkhawatirkan majikannya itu. Karena sebelumnya, tak pernah ia mendengar Iman dan Mayang ribut.
"Mami, Mami." Yuna menggedor-gedor pintu kamar.
Iman memilih membuka pintu kamar, karena ia takut jika semakin lama disitu, emosinya akan semakin naik.
"Udah selesai mainnya, Sayang?" tanya Iman pada Yuna sambil menggendongnya. Ia melihat Jamal serta Bik Yati dipenuhi rasa khawatir.
"Belum. Kenapa mami teriak-teriak?" tanya Yuna sedih bercampur takut.
"Gak apa-apa, Sayang. Mami cuma sedih, karena Papi udah harus pergi. Yuna anak pintar, kan?" tanya Iman dan Yuna mengangguk. "Kalau gitu Yuna temani Mami ya, biar Mami gak sedih lagi."
"Iya, Pi."
"Sama Om dulu ya, Sayang. Papi mau pamit sama Mami." Iman menyerahkan Yuna agar digendong oleh Jamal.
Iman mendekat pada Mayang yang masih duduk di atas tempat tidur sambil menangis. Iman menundukkan badannya agar bisa berbicara pelan pada Mayang.
"Apakah Aku yang amnesia sekarang? Bukankah dulu Kamu yang mengemis memohon padaku agar menikahimu secara siri dan tidak meninggalkanmu sendiri? Bukankah Aku sudah menolak tegas keinginanmu dulu? Sekarang, haruskah Aku menyesalinya?" bisik Iman di telinga Mayang.
Perkataan panjang suaminya itu membuat air mata Mayang kembali terurai. Iman sudah pergi meninggalkannya seorang diri di kamar mereka.
Ia menyesali perbuatannya. Salah, ya dia salah karena bersikap demikian. Tak ada satu kalimat pun dari suaminya yang salah. Iman memang sudah menolaknya dulu. Iman sudah memang sudah mengambil keputusan untuk menikahi Jihan saat itu.
Dan mereka berdua sebelumnya sudah sepakat untuk putus dan akan melanjutkan kehidupan masing-masing.
Kalah. Lagi-lagi Mayang kalah. Entah siapa pun lawannya. Dan kali ini, setelah menikah selama 7 tahun, baru kali ini dia melihat Iman marah padanya.
__ADS_1
Takut. Jelas Mayang takut. Bagaimana dengan nasib dia dan anaknya kelak? Menghubungi saja dia tidak bisa. Dan tadi, Iman bahkan sudah melarangnya untuk menghubungi Jamal.
Mayang menangis meraung, menyesali perbuatannya. Setelah 7 tahun sanggup menjalani hidup seperti ini, lalu kenapa kali ini dia terperosok.
Ia salah mengambil langkah. Langkah yang dipilihnya menjatuhkan dirinya dan anaknya ke dasar jurang. Akankah ada yang menolong mereka?
Jika Iman meninggalkannya dan anaknya, dari mana dia akan mendapatkan uang? Sementara hanya Iman saja lah sumber kehidupannya.
❤️❤️❤️
Iman duduk di depan, di samping Jamal yang sedang mengemudi. Iman memejamkan mata, wajahnya terlihat sangat kacau.
"Ada masalah apa, Bro?" tanya Jamal memutus keheningan di dalam mobil.
Iman membuka matanya. Matanya terlihat merah. ia menghela nafas dengan berat.
"Kamu benar, pada akhirnya, ini akan sulit untuk kami."
"Dia menuntut lebih?" tanya Jamal dan Iman mengangguk.
"Kamu bisa tunjukkan surat perjanjiannya kalau dia lupa." Jamal mengingatkan surat perjanjian yang sudah ditanda tangani Mayang dulu. Surat itu memang Jamal yang bersikeras agar mereka membuatnya. Jamal khawatir suatu saat masalah akan datang pada sahabatnya itu.
"Gak perlu, Mayang gak akan lupa itu." Iman memegang pelipisnya. Pertanda ia sedang dilanda pusing.
"Lalu?" tanya Jamal.
"Biarin aja," seru Iman datar.
Jamal melirik pada Iman. "Kamu gak bakal ninggalin Mayang, kan? Udah ada Yuna diantara kalian." Jamal mencoba mengingatkan sahabatnya agar tidak salah mengambil keputusan.
Mereka tak bisa berbicara bebas di kantor. Di mobil ini lah mereka bisa membicarakan Mayang secara bebas, tanpa takut di dengar atau diketahui orang lain.
"Biarin kami sama-sama memperbaiki diri. Mungkin hanya Aku yang akan disalahkan disini. Tapi siapa yang bisa melihat dari sisiku? Apa ada yang tahu kalau Aku menanggung rasa penyesalan seumur hidupku pada Jihan, pada Ichy." Iman menutup matanya kembali.
__ADS_1
Jamal sedikit banyak memahami isi hati sahabat nya itu. Ia tahu ada rasa sesak yang hingga kini masih menggerogoti hati bosnya itu, sejak kepergian Jihan.
Jamal tahu sekelumit rasa cinta bercampur rasa bersalah Iman pada Jihan, ada sampai sekarang. Rasa cinta yang terlambat disadari Iman. Rasa cinta pada Jihan yang hendak diungkapkan menunggu hari ulang tahun Jihan. Namun naas, Jihan meninggal beberapa hari sebelum hari ulang tahunnya.