PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 44 Ziarah


__ADS_3

Seperti hari sebelumnya, hari ini Ichy berangkat TK ditemani oleh keluarganya. Iman dan yang lain turun saat sudah sampai di TK. Berpegangan tangan dengan sang bunda, Ichy menunjukkan senyum cerahnya.


Berhenti sebelum memasuki gerbang, Qonita menahan tangan Ichy.


"Semangat belajarnya ya, Sayang. Selamat bermain bersama teman-teman." Qonita memeluk Ichy. Ichy pun membalas lalu menyalam Qonita.


"Kakak masuk ya, Pi, Dek Fuad dan Dek Nabil." Ichy menyalam papi dan kedua adiknya.


"Da daag, Kak."


Da daag, Dek."


Setelah Ichy masuk ke dalam, mereka beranjak pulang.


"Jadi nanti, Sayang?" tanya Iman pada Qonita.


"Jadi, Bang. Kuburan mami Ichy di dekat rumah?"


"Nggak, Sayang. Mama Jihan minta dikuburkan di daerah rumah mereka. Alasannya biar Mama bisa sering ziarah. Aku gak bisa nolak." Wajah Iman terlihat datar.


Qonita mengangguk. "Kalau gitu, sore aja kita kesana, ya. Ziarah dulu, baru ke rumah oma Ichy."


"Oke, Sayang." Iman tersenyum lembut pada Qonita.


❤️❤️❤️


"Assalamu'alaikum, Cantik Bunda. Gimana belajarnya?" tanya Qonita saat menjemput Ichy pulang TK.


"Wa'alaikum salam, Bunda. Hari ini praktek membuat bunga, Bunda. Ini dia bunganya, Bunda." Ichy menunjukkan setangkai bunga pada Qonita.


"Wah, ini Kakak yang buat?"


"Iya, Bunda."


"Bagus banget, Sayang. Gimana kalau bunganya nanti Kakak kasih sama oma? Pasti Oma senang banget, Sayang."


"Oke, bunda. Oh iya, Bunda. Kakak punya kawan baru, lho. Ada tiga Bunda, namanya Maya, Tantri sama Lula." Ichy terlihat gembira mengungkapkannya.


"Alhamdulillah, Bunda seneng dengarnya. Besok, temannya nambah lagi. Wah, jadi banyak donk."


Ichy mengangguk senang. "Iya, Bunda."


Sesampai di mobil, Ichy menyalam papi dan adik-adiknya.


"Kita mau kemana, Pi?" tanya Ichy pada papinya.


"Pulang, Sayang. Nanti sore, kita ziarah tempat mami, ya. Habis itu ke rumah oma Wina."


"Bener, Bunda?" tanya Ichy pada Qonita untuk memastikan.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Udah lama kan, gak ziarah dan ke rumah oma? Nanti, Kalau Bunda dan Papi lupa, Kakak tolong ingatkan ya, Sayang. Harus sering lihat oma, ya Sayang."


"Oke, Bunda."


Anak-anak dibelakang sudah asyik bermain sambil bercerita. Iman mendekatkan badannya pada Qonita.


"Aku bingung sekarang, Sayang. Sejak nikah sama Kamu, Aku udah gak dianggap lagi, Sayang," ucap Iman seolah-olah dia paling menderita.


Qonita mencebik. "Apaan seh, Bang?"


"Tuh tadi buktinya, Ichy gak percaya sama Aku. Malah nanyak sama Kamu, 'bener Bunda'?" Iman mencontohkan gaya bicara Ichy.


"Hihihi..." Qonita terkekeh, geli melihat tingkah lucu suaminya.


"Ck. Anak Aku gak percaya, sekarang ditambah istriku malah ngetawain." Iman menggelengkan kepalanya, seolah tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Abang tuh kadang becandanya suka kelewatan, makanya Ichy gak percaya. Hihihi..." Qonita masih terus terkekeh.


Iman mencubit pelan pipi Qonita karena gemas.


❤️❤️❤️


Sore hari, Iman dan keluarganya sudah berada di pemakaman. Membersihkan dedaunan dan rumput kecil di makam mami Ichy. Setelah itu Iman memimpin doa.


"Assalamu'alaikum Jihan. Aku datang." Iman terdiam sesaat. "Aku bersama Ichy. Dia tumbuh menjadi anak yang baik dan cantik seperti Kamu." Iman menelan ludahnya. Ia menarik nafas panjang. "Aku..." Iman tak mampu melanjutkan perkataannya. Suaranya seperti tercekat.


Tak ingin membuat anak-anak bingung dan merasa canggung, Qonita akhirnya bersuara.


"Assalamu'alaikum, Mba Jihan. Saya Qonita. Saya dan dua anak saya ikut datang, bersama Ichy dan papinya. Anak saya bernama Fuad dan Nabil," ucap Qonita.


"Maaf, tolong jangan marah, sekarang Saya sudah menjadi Bunda sambung bagi Ichy. Saya gak bisa menjanjikan apapun. Saya cuma bisa bilang, bagaimana Saya menyayangi kedua anak Saya, maka begitu juga Saya akan menyayangi Ichy," lanjut Qonita.


"Saya gak akan menghapus posisi Mba Jihan dihati Ichy. Sampai kapanpun, Mba akan selalu ada. Gak akan terganti. Karena kasih sayang Mba Jihan, akan selalu melekat di hati Ichy," sambung Qonita.


"Ichy tumbuh dengan sehat, InsyaAllah dia akan menyebut nama Mba dalam setiap doanya. Bantu Saya ya Mba, mendapingi Bang Iman dan membesarkan anak-anak kita." Qonita mengakhiri ucapannya.


"Bang," Qonita menyentuh bahu suaminya.


Iman mengangguk mengerti.


"Aku pulang, Han. Maaf untuk setiap kesalahanku dan kesedihanmu, My Honey," ucap Iman dalam hatinya.


Sesak, Iman merasakan sesak dihatinya.


"Mami, Kakak pulang dulu, ya. Mami, sekarang Kakak gak sedih lagi. Udah ada Bunda, Adek Fuad dan Adek Nabil yang nemani Kakak," ucap Ichy.


"Oh iya, teman Kakak juga udah banyak lho, Mi. Terus, Bunda udah ajarin Kakak cara mendoakan Mami. Nanti Kakak setiap hari akan mendoakan Mami. Assalamu'alaikum, Mi."


Mata Iman sudah basah. Tapi tentu saja dia tak menangis.

__ADS_1


❤️❤️❤️


Mereka lanjut mendatangi rumah orang tua Jihan. Tampak sepasang paruh baya sedang berada di halaman rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap mereka serempak


"Wa'alaikum salam," jawab Sepasang paruh baya. Mereka adalah orang tua Jihan, oma Wina dan opa Zul.


"MasyaAllah, Iman, Ichy," ucap oma Wina bahagia melihat mereka.


Iman langsung menyalam orang tua Jihan. Oma Wina terlihat memeluk Iman dan Ichy lama.


Qonita dan anak-anak pun lanjut menyalam oma Wina dan opa Zul. Sambil menyerahkan buah dan kue yang mereka bawa. Oma Wina mengucapkan terima kasih.


"Masuk, Man, Nak," ucap opa Zul pada Iman dan Qonita.


Mereka semua masuk dan duduk di ruang tamu. Seperti biasa, Ichy lebih senang berada di pangkuan Bundanya. Sedangkan Nabil dipangku Iman. Dan Fuad duduk diantara mereka.


"Opa sama Oma sehat?" tanya Ichy.


Opa Zul dan oma Wina terlihat kaget, begitu juga dengan Iman. Cucu mereka terlihat sangat pintar dan bahagia.


"Alhamdulillah, sehat Sayang."


"Sehat, Sayang."


Dijawab serentak oleh oma Wina dan opa Zul.


Tak lama seseorang datang membawa minuman serta makanan ringan. Mungkin dia adalah ART oma Wina.


"Diminum, Nak, Man," ucap oma Wina.


"Makasih, Bu," ucap Qonita.


"Makasih, Ma," ucap Iman.


"Opa dan oma jaga kesehatan, ya. Nanti Kakak sering main kesini," ujar Ichy.


"Iya, udah lama kita gak jumpa, Sayang. Oma Rindu. Sini, sama Oma." Ichy beranjak mendekati oma Wina. Oma Wina memeluk Ichy lagi, lalu mendudukkan Ichy di pangkuannya.


"Siapa nama Kamu, Nak? Kamu seorang guru?" tanya opa Zul pada Qonita.


"Nama Saya, Qonita, Pak. Benar, saya guru, Pak," jawab Qonita.


"Pantes guru disebut yang profesi paling mulia," ucap opa Zul.


Iman dan Qonita sama-sama mengernyit.


"Jasamu langsung kelihatan, Nak. Harus menikahi guru dulu, baru Iman bisa datang kesini," sindir opa Zul.

__ADS_1


__ADS_2