PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 117 Apa, Bercerai Dengan Qonita?


__ADS_3

Mata Iman membelalak mendengar penuturan mantan kakak iparnya. Apa maksudnya dia dan Mayang menjadi penyebab meninggal istri pertamanya.


Iman semakin terkejut tatkala dia melihat papanya sedang menatapnya dengan wajah tidak suka.


Deg


Mayang berada disini. Di kantor yang didirikan papanya. Iman menelan ludahnya.


Sementara Mayang bingung harus melakukan apa. Tatapan bermusuhan papa dari suaminya itu serta tuduhan dari Desy semakin memojokkannya.


Dia memilih kabur. Tidak akan ada yang mendukungnya jika berlama-lama disana.


"Jangan pernah injakkan kakimu lagi disini," ucap opa Pras penuh penekanan pada Mayang.


Mayang tidak menjawab. Dia berlari pergi.


"Gara-gara Kamu adikku meninggal. Dia pasti mengetahui kebusukanmu. Makanya dia mengajakku ke Binjai. Dan pulang dari sana dia mengalami kecelakaan." Desy semakin terisak.


Opa Zul memegang dadanya. Merasa sakit harus mengungkit kembali kematian putri bungsunya itu. Mereka sudah mengikhlaskan kepergiannya sejak lama.


"Sudahlah, Nak. Jangan diungkit lagi. Lupakanlah semuanya," seru opa Zul pada Desy.


"Desy juga bersalah karena nggak menemaninya, Pa. Dia meminta Desy untuk menemaninya. Tapi Desy gak bisa karena lagi ngurus proyek." Desy menangis dalam pelukan papanya.

__ADS_1


"Lupakan ya, Nak. Jangan diingat lagi. Dan jangan kasih tau mamamu." Opa Zul memperingatkan putrinya. Istrinya adalah orang yang paling bersedih atas kepergian anaknya itu.


"Ayo masuk, Zul. Kita bicara di dalam." Opa Pras mengarahkan agar mereka masuk ke dalam ruangan Iman.


Mereka berlima duduk di sofa.


"Maafkan atas kesalahan putraku. Kami pun baru mengetahuinya. Itulah yang menyebabkan mantuku masuk rumah sakit." Opa Pras memohon maaf pada opa Zul.


Opa Pras dan opa Zul memang janjian bertemu di kantor Iman. Ada proyek yang akan mereka kerjakan bersama.


"Sudahlah. Aku gak mempermasalahkannya. Tolong agar istriku jangan sampai mengetahuinya," ujar opa Zul.


"Ini juga salah kita. Memaksa anak-anak mengikuti keinginan kita untuk menikahkan mereka. Ah, ternyata Aku sudah tua. Jantungku bahkan nggak sanggup menerima hal kecil seperti ini." Opa Zul kembali memegang dadanya.


"Sudahlah, lupakan. Qonita istri yang baik, Nak. Jangan sampai Kamu kehilangan dia. Jagalah dia. Jaga hatinya." Opa Zul menepuk pelan pundak Iman.


"Makasi, Pa," ucap Iman pada opa Zul.


"Aku minta maaf, Kak." Iman memohon maaf pada Desy.


Desy membuang muka. Dia masih marah pada mantan adik iparnya itu.


"Duduklah kembali, Man," ujar opa Zul karena Desy tidak mau memaafkan Iman.

__ADS_1


Setelah selesai berbincang mengenai kerja sama yang akan mereka lakukan, opa Zul dan Desy akhirnya pulang.


"Itulah akibat Kamu gak mendengarkan ucapan Papa," seru opa Pras pada Iman.


Iman hanya bisa menunduk. Sejak mendengar penuturan Desy, wajah Iman berubah murung.


"Berani kali dia datang kesini. Kamu gak akan menceraikannya?" tanya opa Pras pada anaknya itu.


Iman tidak menjawab. Dia hanya melirik papanya.


"Biar Papa yang mengurus perceraian Kamu dan Qonita."


Deg


Iman dan Jamal terkejut mendengar pernyataan opa Pras.


"Kamu gak pantas untuk mantuku." Opa Pras berlalu pergi hendak keluar dari ruangan Iman.


"Pa," panggil Iman memohon. Opa Pras tidak menghiraukan panggilan anaknya.


"Iman sangat mencintai Qonita, Pa." Iman menjatuhkan tubuhnya di sofa karena papanya sudah tidak terlihat lagi.


Dia memejamkan matanya. Wajahnya menghadap ke atas. Jelas sekali dia menyimpan kesedihan yang mendalam.

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2