PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 105 Superior room


__ADS_3

..."Dia mengajariku bagaimana caranya mencintai, tapi bukan bagaimana berhenti." -anonim....


Medan, Sumatera Utara


Qonita sebenarnya dibolehkan untuk pulang. Tapi mama mertuanya khawatir terjadi sesuatu padanya. Apalagi ditambah kondisi tidak menyenangkan yang sebelumnya terjadi. Lebih aman jika Qonita diopname di RS dulu.


Oma Herni sudah mewanti-wanti anak dan keluarganya agar tidak membahas masalah pernikahan Iman dan Mayang. Walau flek yang dialami Qonita tidak perlu dikhawatirkan, tetapi dokter menyarankan agar Qonita jangan sampai stres karena bisa berdampak pada kondisi janin dan diri sendiri.


"Apa yang Kamu butuhkan, Sayang?" tanya Iman kala Qonita sudah dipindahkan ke ruangan.


"Kenapa harus opname seh, Bang? Gimana anak-anak nanti?" Bukannya menjawab, Qonita malah bertanya pada suaminya.


"Hust. Jangan fikirin yang lain. Fokus aja ama kesehatan Kamu, Sayang. Dan oh iya, sama calon anak kita," ujar Iman menantap sendu Qonita.


"Qonita gak sakit, pingsannya cuma akting aja kog, Bang. Biar gak ribut-ribut, pusing liat marahan gitu," imbuh Qonita.


"Akting gimana, sampe rumah sakit aja masih pingsan. Itu akting apa ketiduran?"


Qonita terkekeh kecil mendengar cibiran suaminya.


"Qonita semalam gak bisa tidur," ucap Qonita manja.


"Pantesan tensi Kamu rendah banget, Sayang. Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Iman khawatir.


Qonita menggeleng. Dia mengambil tangan suaminya lalu meletakkan ke atas perutnya. "Anaknya pengen dielus sama abang."


"Anaknya apa bundanya?" goda Iman.


"Dua-duanya," Qonita tersenyum malu.


"Hahaha..." Iman tergelak mendengarnya. "Kenapa gak kasih tahu Aku sayang? Aku kan bisa pulang." Iman mengelus perut istrinya.


"Takut ganggu Abang."


Iman hanya terdiam. Ingin meminta maaf, tetapi takut membuat Qonita malah jadi kefikiran. Orang tuanya sudah berpesan jangan membuat stres istrinya. Jika sampai terjadi sesuatu pada istri dan calon anaknya, orang tuanya tidak akan memaafkannya.


"Lain kali bilang aja. Udah jadi tanggung jawabku menjaga Kamu dan anak-anak kita." Qonita pun mengangguk.


"Masih sakit?" Qonita mengelus pipi suaminya, bekas tamparan dari mertuanya.

__ADS_1


"Nggak."


"Bang..."


"Ya, Sayang."


"Ini di rumah sakit mana? Kog pake superior room?"


"RS. XXX."


"Astagfirullah. Kenapa ke rumah sakit ini seh, Bang? Kog nggak ke rumah sakit yang nerima BPJS aja? Tiap bulan udah dipotong, sayang nggak dipakek."


"Sayang... Hust. Kamu lagi sakit. Jangan fikirin itu."


Dibawa ke rumah sakit mahal dan ditempatkan di superior room membuat Qonita mengeluh pada suaminya.


Pintu kamar Qonita terbuka. Kedua mertua, adik ipar serta Jamal masuk ke dalam. Mereka tadi sedang berdiskusi diluar. Opa Pras meminta penjelasan tentang hubungan Iman dan Mayang kepada Jamal.


Untuk malam ini, Iman yang akan mendampingi istrinya. Anak-anak akan tinggal di rumah opa Pras untuk sementara. Nana sudah menghubungi ART di rumah Iman untuk menyediakan keperluan Iman dan Qonita selama di rumah sakit, serta pakaian anak-anak untuk dibawa ke rumah opa Pras.


"Sayang, kami pulang dulu, ya. Besok pagi Mama datang lagi. Gimana sama keluarga Kamu Sayang, siapa yang harus dikabari kalau Kamu masuk rumah sakit?" tanya oma Herni lembut.


"Tapi, Sayang. Gak enak donk kalau kami gak ngabarin mereka sementara Kamu lagi opname gini. Abang Kamu aja ya, kalau takut buat khawatir Mama Kamu?" Oma Herni memberi saran.


"Gak usah, Ma. Jangan."


"Ya udah gak apa, Ma. Yang penting Kamu harus segera sembuh ya, Nak," ujar opa Pras.


"InsyaAllah, Pa."


"Bilang kalau ada yang pengen Kamu makan ya, Sayang. Kata dokter Kamu gak ada pantangan. Paling makanan yang harus dihindari Ibu hamil aja."


"Iya, Ma."


"Ya udah, kami pulang ya, Kak. Cepat sembuh," ucap Nana.


"Aamiin. Makasi, dek. Hati-hati, ya." Qonita tersenyum pada adik iparnya.


"Pa..." Panggil Qonita pada opa Pras.

__ADS_1


"Ya," sahut opa Pras.


"Tolong jangan kasih tahu keluarga Qonita ya, Pa. Cukup Qonita aja yang tahu. Keluarga Qonita nggak perlu tahu," pinta Qonita.


Opa Pras dan yang lainnya saling melirik. Mereka tahu yang dimaksud Qonita adalah tentang suaminya yang memiliki istri selain dia.


"Cepat sembuh, Nak." Hanya itu jawaban opa Pras.


"Pa. Papa buat Qonita kepikiran kalau gini. Tolong, Pa," ucap Qonita lirih.


Opa Pras menghela nafas. "Ya," ujar opa Pras terpaksa.


"Kami pulang ya, Qonita," ucap Jamal. Ingin sekali dia meminta maaf pada Qonita karena turut membantu sahabatnya itu menutupi kebohongannya. Namun tidak dapat dia lakukan.


"Hati-hati, Bang."


"Sayang, Aku antar ke depan pintu, ya."


"Iya, Bang."


Sesampai di depan pintu. Opa Pras menatap tajam putranya.


"Jaga mantu dan calon cucuku."


"Iya, Pa," jawab Iman menunduk.


Setelah opa Pras, oma Herni, Nana dan Gagah pergi. Tinggallah Iman dan Jamal berdua.


"Maaf udah melibatkan, Kamu," ujar Iman pada Jamal.


"Oh, ayolah Bro. Kita bukan orang lain," seru Jamal. "Tapi Bro, Mayang dari tadi terus nanyain Kamu. Katanya ada yang penting."


Iman menghela nafas panjang.


❤️❤️❤️


...“Kau mungkin sudah menghancurkan hati ini hingga tak tersisa, namun aku akan tetap berjuang dengan sisa kepingan yang ada.”...


...- anonim....

__ADS_1


__ADS_2