
Medan, Sumatera Utara
Iman pulang lebih cepat hari ini. Nanti jam 5 sore dia akan menemani istrinya untuk periksa kehamilan bulanan.
"Sayang, ayo kita tidur dulu. Nanti jam 5 kontrol ke dokternya, kan?" Iman mengajak Qonita untuk istirahat sebentar.
"Iya, Bang. Kaki Qonita juga terasa pegal," ujar Qonita.
"Aku pijat ya, Sayang." Iman merasa kasihan pada istrinya yang sedang hamil anak kembar, masih harus mengajar dari pagi sampai siang.
"Gak usah, Bang. Kita istirahat aja. Tapi tangan Abang letak di perut Qonita, ya," pinta Qonita pada suaminya.
"Mau di elus, Sayang?" tanya Iman. Qonita pun mengangguk.
Qonita memang paling suka jika perutnya dielus. Bukan hanya dielus oleh suaminya, Qonita juga suka jika Fuad, Ichy dan Nabil juga mengelus perutnya.
"Yang lain mau dielus juga gak, Sayang?" goda suaminya.
"Nggak, Bang. Qonita capek, mau istirahat aja." Qonita langsung memejamkan matanya.
"Hahaha, Kamu tuh dah pinter akting ya, Sayang. Pake pura-pura tidur segala." Iman mencubit manja pipi istrinya.
"Qonita capek, Bang. Mau istirahat. Bukan mau main." Qonita mencebik manja.
"Tumben banget nolak, capek banget ya, Sayang? Aku pijat aja, ya." Iman menawarkan diri untuk memijat istrinya.
"Gak usah, Bang. Balurin baby oil aja."
__ADS_1
Iman pun mengambil baby oil di meja. Lalu ia membalurkannya pada kaki Qonita.
Mereka pun lalu tidur dengan saling berpelukan.
❤️❤️❤️
Tepat pukul 5 sore, Iman dan Qonita berangkat untuk memeriksakan kehamilan Qonita. Hanya mereka berdua yang pergi. Anak-anaknya tidak ikut karena sedang belajar mengaji.
Setelah sampai, Qonita duduk di ruang tunggu, sementara Iman sedang mendaftarkan Qonita. Setelah selesai mendaftar, Iman duduk di sebelah istrinya.
"Antrian ke 2, Sayang," ujar Iman pada istrinya.
"Alhamdulillah, Bang. Antrian 1 udah masuk, Bang?" tanya Qonita pada suaminya.
"Udah, Sayang. Lagi di dalam."
"Bu Qonita, timbang dan tensi dulu, Bu." Perawat meminta Qonita mengukur berat badannya, setelah itu perawat memasangkan tensimeter padanya.
Setelah selesai, Qonita kembali duduk di sebelah suaminya.
15 menit kemudian.
"Bu Qonita Yasmin Siregar." Panggil perawat.
"Ya, Saya," ujar Qonita.
"Silahkan masuk, Bu," sahut perawat.
__ADS_1
Iman dan Qonita pun memasuki ruangan pemeriksaan.
"Gimana kondisinya, Bu?" tanya dokter.
"Gampang lelah sama gampang lapar, Dok," seru Qonita.
"Iya masih wajar ya, Bu. Mengingat sekarang Ibu membawa dua anak dalam perut Ibu. Makan makanan sehat ya, Bu. Sama istirahat yang cukup."
"Iya, Dok," imbuh Qonita.
"Kalau begitu kita periksa dulu, ya. Silahkan, Bu."
Qonita pun menaiki tempat tidur, dibantu oleh suaminya. Perawat mengoleskan gel pada perut Qonita.
"Wah, anaknya aktif ya, lagi main bola. Tapi pada gak ada yang nampak ini jenis kelaminnya," ungkap dokter.
Iman dan Qonita tersenyum mendengar ucapan dokternya.
"Gak apa, Dok. Yang penting sehat," sahut Qonita.
"Ini detak jantungnya ya." Dokter pun mendengarkan suara jantung anak-anak Qonita.
Setelah selesai perawat membantu membersihkan sisa gel di perut Qonita dengan tisu. Lalu Iman membantu Qonita untuk turun. Mereka duduk kembali di kursi di depan dokter.
"Usia kehamilannya 21 minggu. Ini Saya resepkan vitaminnya, ya." Dokter menyerahkan foto hasil USG serta resep untuk ditebus di apotek.
"Trima kasih, Dok," ujar Iman dan Qonita bersamaan.
__ADS_1
❤️❤️❤️