PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 26 Berdua Lagi


__ADS_3

Selesai berkunjung ke rumah Udak Zardi, Iman dan Qonita kini berada di dalam mobil.


"Langsung pulang ini, Sayang?" tanya Iman pada Qonita.


"Iya, Bang. Abang pulang atau ke kantor lagi?"


"Pulang, Sayang. Gak mau jalan dulu? Nonton mungkin?" Iman mengerling.


"Em, gak usah aja ya, Bang. Gapapa, kan?"


"Hahaha... Kamu masih takut sama Aku?"


"Bukan gitu, Bang. Kasian Vivi dan anak-anak."


"Bukan karna Aku ajak nonton, kan?"


Qonita menggeleng sambil mengernyit.


"Gak bakal Aku apa-apain kali, Sayang. Ditempat umum, gak mungkin lah Aku lakuin itu?" Iman tersenyum nakal.


"Ngelakuin apa, Bang?"


"Hahaha..." Iman malah tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Yang Kamu takutin, mungkin."


Qonita menatap Iman yang menatap kedepan, namun sesekali calon suaminya itu melirik kearahnya dengan senyum menggodanya.


"Jadi kalo gak ditempat umum, bisa jadi Abang melakukannya?"


"Melakukan apa, Sayang?" Iman malah pura-pura bertanya.


Qonita menelan ludahnya. "Jadi selama ini, Abang sebebas itu?" tanya Qonita dengan suara suara lirih.


"Eiiitsss... Sebebas apa ini maksudnya, Sayang?" Iman melirik pada Qonita yang wajahnya sudah berubah, antara wajah marah, kesal dan sedih.


Iman yang menyadari suasana sudah tak menyenangkan akhirnya meminggirkan mobilnya lalu memberhentikannya.


"Qonita, Sayang. Aku gak munafik gak pernah sentuh perempuan sebelum menikah. Tapi Aku gak pernah maksa, ya karna mau sama mau. Tapi Aku juga gak seburuk yang Kamu fikir, Sayang."


Qonita kembali menelan ludahnya mendengar penuturan Iman. Sesungguhnya ia tak mengharapkan pernyataan yang seperti itu.


"Sejauh apa, Bang?"


"Iyum-iyum, eluk-eluk," jawab Iman jujur.


Qonita menghela nafas. "Bibir?" tanyanya memastikan.


"He em."

__ADS_1


Qonita memalingkan wajahnya mendengar pengakuan Iman. Ia menejamkan matanya sesaat. Tak siap menerima jawaban Iman.


Bukankah menjelang pernikahan, ada saja masalah yang muncul. Mungkin, ini lah masalah yang dihadapi Qonita, menjelang pernikahannya.


"Sering?" tanya Qonita menatap tajam pada Iman.


"Sesekali, Sayang. Pas momennya aja," jawab Iman setenang mungkin.


"Ngeraba, juga?"


"Nggak. Bisa bablas kalo pake acara ngeraba, Sayang. Paling jauh aku ya CB aja, Sayang."


"Sama berapa banyak perempuan?"


"Cuma satu, Sayang. Pacar Aku, dulu."


"Mayang?"


Iman tersentak. "Kamu, tau?" tanya Iman terkejut karena Qonita mengetahui nama Mayang.


"Bu Herni pernah cerita. Tapi Abang gak boleh gitu ke Qonita." Qonita memasang raut wajah serius, memicingkan matanya tajam pada Iman.


"Iya, Sayang. Iya... Aku tau. Makanya Aku ajak cepat nikah."


"Selama Abang menduda, apa pernah..." Kalimat Qonita terhenti karena Iman langsung menyanggahnya.


"Iyum-iyum dan eluk-eluk yang Aku lakukan pun, cuma pernah sama Mayang. Itu pun karna Aku pacaran sama dia," ucap Iman tegas dan pasti.


"Maaf, kalau masa lalu Aku buat Kamu sedih. Tapi itu cuma masa lalu Aku, Sayang." Iman menatap sendu pada Qonita.


“Apa Abang cium pipi kanan dan kiri kalo sama temen atau rekan kerja Abang?"


Iman mengernyit. "Maksudnya, Sayang?"


"Ya mana tau karna rekan kerja Abang dari luar, terbiasa dengan budaya barat, kalo jumpa pake cipika cipiki?"


"Nggak Sayang, nggak. Seperti yang pernah Aku bilang Sayang, setelah menikah Aku malah menghindar dari yang namanya perempuan. Dan gak pernah lah Aku gitu, ketemu ya jabatan tangan aja kali, Sayang," jawab Iman lugas.


"Mulai sekarang, Abang harus bisa batasi diri. Gak menyentuh perempuan lain, paling cuma karna salaman aja. Selain itu gak boleh!" ujar Qonita tegas.


"Dan hindari curhat-curhatan sama lawan jenis. Apalagi sama mantan!" Qonita berucap penuh penekanan.


"Iya, Sayang. Aku ngerti. Kamu beneran cemburuan ternyata, ya." Iman menaikkan bibir kanannya.


Qonita mengangguk. "Bukan karna cemburuannya, Bang. Tapi karna memang gak boleh. Mungkin curhat-curhatan terkesan gak masalah. Ah kan cuma cerita ke temen aja. Gak masalah donk," Qonita mempraktekkan kalimat yang mungkin ada dalam fikiran orang.


"Tapi kebersamaan itu bisa buat sayang, Bang. Yang semula temen jadi demen. Rumput tetangga terlihat lebih hijau dari rumput sendiri. Apalagi iblis paling senang merusak hubungan suami dan istri. Makanya kita harus sama-sama menjaga," tuntut Qonita.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Aku janji, akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Kamu. Em, kalo kayak gini momennya pas lho Sayang, ngomongnya sambil genggam tangan Kamu, trus cium jemari Kamu, lalu... Hahahaa..." Iman tertawa melihat Qonita yang sudah melotot marah.


Qonita heran, calon suaminya ini cenderung sering terlihat jahil padanya, berbanding terbalik dengan sikapnya di awal perjumpaan mereka. Qonita fikir, jabatan bagus yang Iman pegang, membuatnya akan terlihat serius dan kaku, tapi ternyata tidak.


"Em, apalagi Sayang? Ngomong donk. Aku seneng bisa cerita-cerita gini ke Kamu. Setidaknya, Aku lebih banyak tau dari sudut pandang Kamu."


"Bang..."


"Hem..."


"Nanti kalau kita udah nikah, Qonita mau kita membiasakan beberapa hal."


"Apa, Sayang?"


"Kalau salah satu dari kita ada yang mau pergi, Qonita cium tangan Abang, dan abang harus cium kening Qonita. Soalnya cium kening itu menambah rasa sayang, Bang," imbuh Qonita.


"Wah, kalau itu Aku setuju, Sayang. Bahkan Aku kasih lebih dari itu." Iman memajukan bibirnya, mengusili Qonita, menandakan bahwa bukan hanya cium di kening saja yang akan diberikannya tetapi juga di bibir.


Qonita berdecak. "Terus, sebelum kita tidur, Qonita bakal minta maaf ke Abang, semoga Abang ridho 100% pada Qonita untuk hari yang kita lewati bersama. Karna Ridho seorang istri ada pada suaminya."


Iman terdiam sejenak. "Apa Kamu selama menikah, selalu melakukannya?"


Qonita menggangguk. "Dari awal menikah Bang, sampai..." Qonita terdiam sejenak dan memasang wajah sendu, teringat akan masa lalu pahitnya pernikahannya.


Iman langsung bersuara. "Ok, kita lakukan itu setiap malam, Sayang. Ada lagi?"


"Kita harus saling terbuka Bang. Komunikasi itu sangat perlu. Jangan membiarkan masalah kecil tanpa diselesaikan, ujung-ujungnya nanti akan menumpuk dan menjadi masalah besar."


Iman mengangguk. Tapi ekspresinya datar, dan seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kalau Abang pengennya gimana?" tanya Qonita.


"Em, kalo tiap malam sebelum tidur, Aku minta kamu pake lingerie, Kamu mau, gak? tanya Iman asal.


Qonita menunduk. Malu mendengar permintaan Iman.


"Kalau Kamu gak mau, jangan dipaksain, Aku cuma..." Kalimat Iman terhenti seiring Qonita mengeluarkan suaranya.


"Qonita gak punya Bang, tapi nanti akan Qonita beli beberapa," tutur Qonita.


Iman menelan ludahnya. "S!al. Bisa gak kuat Aku," umpat Iman dalam hati.


"Ada lagi, Bang?"


Iman menoleh pada Qonita. "Untuk sementara ini gada, Sayang. Lebih aman kalo kita pulang deh kayaknya, Sayang?" ungkap Iman dengan suara serak.


Qonita mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2