PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 158 Pesona Agil


__ADS_3

Jakarta


"Mas, Aku mau jemput Yuna." Mayang berdiri mendekati Agil yang sedang duduk menandatangani berkas di kursi kebesarannya.


"Udah waktunya, ya?" tanya Agil pada Mayang sambil menarik lengan Mayang lalu mendudukkan Mayang di pangkuannya.


"Mas, malu," gerutu Mayang karena mereka sedang berada di kantor.


"Bantuin Aku bukain berkasnya, biar Aku tandatangani," ucap Agil.


"Tapi, Mas..." Mayang hendak protes tapi Agil langsung menyela.


"Gak sampe 10 menit, habis itu kita langsung jemput Yuna."


Mayang mengangguk mengerti. Dia membuka lembaran demi lembaran berkas-berkas itu. Saat ada nama Agil tertera di sana, Agil menandatangani berkas tersebut.


Benar yang dikatakan Agil, tidak sampai 10 menit, Agil sudah selesai menandatanganinya.


"Kita pergi." Kedua tangan Agil berada dipinggang Mayang, sedikit dia naikkan agar Mayang turun dari pangkuannya.


"Poppy, kami jemput Yuna dulu. Kamu bebas keliling di kantor ini," seru Agil.


"Tapi Mas, masa' Poppy ditinggal sendirian. Poppy ikut aja, ya," ujar Poppy.


"Katanya Kamu mau observasi. Udah disini aja. Nanti tanya sama sekretarisku apa yang Kamu perlukan. Kami pergi." Agil menggenggam tangan Mayang, menariknya keluar dari ruangan.


"Mas, malu nanti dilihatin karyawan Kamu." Mayang melihat ke kiri dan ke kanan.


"Biar mereka tahu kalau Aku udah ada yang punya." Agil tersenyum menyeringai.


Sesampainya di lantai 1, mereka keluar dari lift sambil berpegangan tangan. Benar saja kekhawatiran Mayang, mata karyawan Agil tak lepas memperhatikan mereka. Terlebih Mayang, mata mereka menatap Mayang dari kepala hingga ke ujung kaki.


Agil dan Mayang menaiki mobil Agil. Mereka hendak menjemput Yuna.


"Kamu beneran mau kerja di kantorku, Sayang?" tanya Agil sambil menyetir mobil.

__ADS_1


"Ya enggak lah, Mas. Tadi Aku kan cuma pura-pura aja. Habis dia tadi ngotot mau kerja sama Kamu. Ya udah Aku ikutin aja sekalian," imbuh Mayang.


Agil tersenyum mendengarnya. "Kamu cemburu sama dia?"


Mayang menatap ke arah Agil. "Mas benar. Mereka gak akan terima gitu aja. Alasan Poppy mau kerja di perusahaan Mas karena memang ingin mendekati Mas Agil. Aku gak tau ini namanya cemburu atau apa. Yang pasti Aku gak suka ada yang berusaha mendekati Mas Agil.


"Kamu tahu kenapa mereka masih berusaha mendekati Aku padahal mereka tahu Aku udah punya calon?" tanya Agil sambil melirik Mayang.


"Kenapa, Mas?" tanya Mayang penasaran.


"Karena kita belum resmi menikah. Kalau kita udah menikah, mereka pasti akan berhenti," ujar Agil.


Deg


Mayang menelan ludahnya.


Mayang menyukai Agil. Tetapi untuk menikah sebenarnya dia belum siap. Massa iddahnya baru saja selesai. Rasanya terlalu cepat jika harus langsung menikah lagi.


Tetapi untuk kehilangan Agil pun dia tidak mau. Nama Agil kini sudah bersemayam di hatinya. Jika boleh memilih, dia masih ingin menjalani seperti saat ini saja.


"Aku masih takut, Mas. Ini terlalu cepat. Tapi Aku juga gak bisa kehilangan Kamu. Aku cinta Kamu, Mas. Tapi Aku butuh waktu."


"Mayang, Aku mengerti ketakutan Kamu. Tapi Kamu juga perlu tahu, kalau kita begini-begini aja, Aku yang takut," ungkap Agil.


"Takut kenapa, Mas?" tanya Mayang heran.


"Takut gak bisa ngendalikan naf su ku. Aku lelaki normal, Mayang. Aku punya keinginan yang besar untuk melakukannya. Apalagi Aku dan Kamu sama-sama saling mencintai." Agil menatap dalam pada Mayang.


Deg


Mayang terkejut mendengarnya.


Selama ini Agil memang sering mencum bunya. Dan Mayang sendiri tak kuasa menolaknya.


"M-mas. Kasih Aku waktu untuk berfikir, ya," sahut Mayang.

__ADS_1


Agil mengangguk. "Jangan lama-lama. Masa' iya Aku harus hamili Kamu dulu baru Aku nikahi Kamu."


"Mas..." Mayang protes mendengarnya.


"Hahaha." Agil malah tergelak. "Aku cuma mengantisipasi kemungkinan terburuknya aja. Dari pada begitu kan mending kita nikah aja. Kalau udah nikah kita bebas mau kapan pun melakukannya. Bukan begitu?" Agil tersenyum nakal.


"Mas, Kamu tuh ya, mikirnya kesana aja," gerutu Mayang.


"Kamu gak akan bisa nolak Aku Mayang saat Aku ingin melakukan itu padamu. Atau Kamu perlu bukti?" Agil sampai meminggirkan mobilnya lalu ia berhentikan laju mobilnya itu.


"M-mas." Mayang sudah ketakutan. Dia sendiri ragu apa bisa menolak keinginan Agil itu seandainya Agil melakukan aksinya.


Agil mendekati Mayang. Dia tarik dagu Mayang agar wajah Mayang menghadap ke arahnya. Kini wajah mereka sudah berhadap-hadapan.


Agil mendekatkan wajahnya pada wajah Mayang. Mayang tahu apa yang akan dilakukan Agil. Saat bibir mereka sudah hampir bertemu, Mayang menutup wajahnya. Agil dapat melihat itu, dia tersenyum sesaat. Lalu dia satukan bibir mereka.


"Kamu gak akan bisa nolak Aku, Mayang," ucap Agil saat telah melepas pautan bibir mereka.


Mayang hanya diam mendengarnya. Bibirnya dalam kondisi sedikit terbuka. Dia tatap mata Agil. Agil kembali mendekati Mayang. Spontan saja Mayang menutup matanya kembali. Agil kembali tersenyum melihatnya.


Lalu dia lu m4t bibir pujaan hatinya itu. Lalu dia lepas kembali.


"Kita sama-sama udah dewasa, Mayang. Terlalu sulit untuk mengendalikan rasa cinta ini agar tetap berada dalam koridornya. Untuk itu mari kita menikah," seru Agil.


"Mas, kita udah terlambat jemput Yuna," ungkap Mayang.


"Hahaha." Agil tertawa keras.


Dia sedang berupaya membujuk Mayang agar bersedia menikah dengannya. Bagaimana dia tidak tergelak mendengar jawaban Mayang seperti itu.


Agil mengacak rambut Mayang. Lalu dia jalankan kembali mobilnya untuk menjemput Yuna. Tentu saja dia masih terus tertawa.


Sementara Mayang merasa bersalah pada Agil.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2