
..."Cinta itu saling menyukai, saling menyayangi, dan bukan saling melukai. Kualitas cinta bukan dilihat dari besarnya kasih sayang, melainkan dari besarnya pengorbanan."...
Iman dan Jamal dalam perjalanan pulang menuju Medan. Jamal yang mengendarai mobil bertanya pada sahabatnya cerita di balik pertengkaran Iman dan istri sirinya itu. Iman pun menceritakan permasalahannya.
"Gimana caranya hilangin bekas gigitan ini?" tanya Iman pada Jamal.
"Coba Lo ambil semut merah, trus Lo letak dibagian yang digigit Mayang tadi, nah kan jadi bengkak tuh, trus Lo bilang karena Lo garuk jadinya berbekas gitu." Jamal memberi usul absurd.
"Ck. Lo gak punya ide yang lebih gelap gulita lagi?" sindir Iman.
"Oh, gini aja. Gimana kalau bilang Lo dihajar orang tak dikenal. Ntar Gue kasih satu pukulan di dada Lo. Beres, kan?"
"Br3ngs3k! Jangan-jangan Lo dari dulu udah niat ngehajar Gue tapi gak bisa kesampean, kan?" umpat Iman.
"Hahaha... Lo tau aja." Jamal tertawa puas.
"S!al. Bukannya nolongin Gue, Lo malah puas lihat penderitaan Gue."
"Lah habis, Gue kira Lo dan Mayang masuk ke kamar buat seneng-seneng. Eh, gak taunya buat berantem. Hahaha..." Jamal kembali tertawa.
"Br3ngs3k bener Lo emang."
"Santai, Bro. Dari pada wajah Lo kusut gitu, dibawa santai lah."
"Ya Lo enak tinggal bilang santai. Pulang-pulang Lo bisa tidurin tuh si Ria. Nah Gue, harus puasa berapa hari untuk nutupin ini biar Qonita gak bisa lihat."
"Hahaha... Kalau Lo gak mau puasa ya pilih salah satu dari yang Gue bilang tadi. Pukulan atau digigit semut? Hahaha..." Jamal tertawa puas.
"S!al!"
❤️❤️❤️
Medan, Sumatera Utara
__ADS_1
Iman pulang ke rumah menjelang magrib. Qonita yang melihat suaminya pulang dengan wajah kusut mengikuti suaminya ke kamar setelah menyalam dan memeluk anak-anaknya. Qonita meminta anak-anak untuk sholat bersama Vivi.
"Ada masalah apa, Bang?" tanya Qonita pada suaminya.
Iman duduk di tepi tempat tidur. Lalu dia tarik tangan istrinya agar mendekat padanya lalu dia dudukkan dipangkuannya.
"Biasalah, Sayang. Kamu sholat duluan aja, ya. Aku mau mandi, dulu." Iman menyatukan wajah mereka. Lalu dia tenggelamkan wajahnya di leher istrinya.
"Hem. Wangi," ucap Iman. Iman mengangkat wajahnya. "Ambil Wudhu, Sayang. Habis itu Aku mau mandi."
"Iya, Bang." Qonita pun masuk ke kamar mandi.
❤️❤️❤️
Setelah Sholat Magrib, mereka makan malam bersama. Lalu menikmati waktu di ruang keluarga. Memasuki waktu Isya, mereka Sholat berjamaah, tentu saja Iman yang menjadi imam.
Pukul 9 malam anak-anak sudah tidur. Iman berbaring dengan memeluk istrinya.
"Cuma masalah kecil, Sayang. Gini aja, cukup berpelukan dengan Kamu, udah membuatku nyaman dan tenang, Sayang." Iman semakin mendekap erat Qonita.
"Terserah Abang aja. Cuma ingat pesan Qonita, jangan ragu kalau mau cerita ke Qonita. Qonita siap jadi pendengar budiman. Karena terkadang, yang kita perlukan bukan solusi dari orang lain, melainkan orang yang siap mendengar keluh kesah kita." Qonita melirik suaminya.
"Iya, Sayang. Makasih. InsyaAllah Aku masih bisa ngatasinnya. Kamu tenang aja, ya. Yang Aku butuhkan cuma bersama Kamu, memeluk Kamu," ujar Iman.
"Iya, Bang. Mungkin Qonita gak bisa 24 jam mendampingi Abang, tapi saat kita tidak sedang bersama, Ingatlah Abang akan selalu ada, tepat dalam hati Qonita."
"Iya, Sayang. Aku tahu. Cinta dan ketulusanmu, Aku dapat merasakannya. Aku pun mencintaimu. Tolong jangan pernah ragukan itu." Iman mengecup kepala istrinya.
❤️❤️❤️
"Jadi Qonita gak melihat bekas itu?" tanya Jamal pada Iman ketika mereka sedang di dalam mobil hendak menuju tempat meeting.
"Hem."
__ADS_1
"Kalian gak berhubungan sama sekali?" tanya Jamal heran.
"Aku memang sengaja gak mengajaknya selama 2 hari ini. Tapi g!lak masa' Aku puasa terus. Tadi malam ya Ku embat juga lah. Mana tahan Aku nganggurin dia berhari-hari."
"Trus?" tanya Jamal penasaran.
"Ya Lo tahu lah lanjutannya apa." Iman menyeringai memasang muka m3sum.
"Ck. Maksud Gue, Qonita lihat gak bekas gigitan cinta itu?"
"Nggak. Gada komen dianya."
"Lo tuh selalu beruntung. Mencurigakan banget," guman Jamal tanpak berfikir.
"Semesta mendukung Gue." Iman tersenyum bangga.
"Hem, ya ya ya. Terserah Lo aja," ucap Jamal. "Trus gimana dengan Mayang?"
"Nanti kalau ada waktu Aku kesana." Jamal menoleh setelah mendengar perkataan Iman.
"Lo udah maafin dia?"
"Gue belajar dari Qonita. Dia gak suka ribut. Katanya memaafkan itu membuat hati kita tenang dan damai."
"Memang Lo buat salah apa ke dia?"
"Bukan Aku. Pas kami cerita tentang banyak hal. Dia bilang gitu ke Gue. Katanya kalau dunia kita mau damai, ya harus mendamaikan hati kita dulu."
Jamal hanya manggut-manggut.
❤️❤️❤️
..."Cinta tidak pernah menuntut, cinta selalu memberi. Cinta selalu menderita, tanpa pernah meratap, tanpa pernah mendendam."...
__ADS_1