PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 29 Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Dua minggu lagi adalah hari hari pernikahan Iman dan Qonita.


Qonita tak banyak bekerja dalam mempersiapkan pernikahannya, dia hanya disuruh mengemukakan keinginannya mau seperti apa, selebihnya sudah ada yang mengurus. Seperti hari ini, pihak WO baru saja pulang dari rumahnya.


"Kalau memang semua sudah Abang bayar, kenapa masih mengirim banyak uang kasih sayang, Bang?" tanya Qonita.


Pihak WO dan Iman tadi datang ke rumah Qonita setelah ia pulang mengajar.


Iman tersenyum. "Gapapa lah, Sayang. Untuk Kamu, kalau bisa bintang pun akan Aku gapai."


Qonita mencebik mendengar selorohan Iman. Calon suaminya itu, semakin hari semakin sering menggodanya.


"Haha..." Iman terkekeh sendiri akan kata-katanya. "Mau honeymoon kemana, Sayang?" lanjut Iman.


Qonita menoleh. "Memangnya Abang maunya kemana?"


"Terserah Kamu, Sayang. Aku ikut pilihan Kamu. Kamu pengennya kemana? Paris?"


"Em, apa harus honeymoon, Bang?"


Lipatan di kening Iman terlihat, alis mata kiri dan kanannya hampir menyatu. "Lho, kenapa? Gak mau honeymoon?" tanya Iman heran.


"Gini Bang, paling lama cuti 2 minggu. Qonita dan anak-anak kan bakal ikut Abang. Kami kan harus menyesuaikan diri di tempat yang baru. Belum lagi urusan pindahannya."


"Maksud Qonita, biar aja masa cutinya dihabiskan di rumah dengan anak-anak, agar terbiasa ditempat yang baru dengan situasi yang juga baru. Jadi pas masa cuti Qonita habis, anak-anak udah bisa ditinggal," ujar Qonita.


"Beneran gak mau, Sayang? Yang dekat aja, gimana? Bali?"


"Abang pengen honeymoon?"


"Semua tergantung Kamu, Sayang. Kalau Kamu pengen ke suatu tempat, Aku turutin. Kalau nggak, juga gak masalah. Aku cuma pengen bahagiain Kamu aja."


Qonita tersenyum, sangat manis. "Bahagia itu sederhana Bang, cukup kita bersama orang-orang yang kita sayang."


Iman tersenyum lebar. "Jadi, sedari kapan Kamu sayang sama Aku?" Iman mengerling.


"Nanti, pas Abang udah sah jadi suami Qonita."


"Hahaha..." Iman tertawa sangat keras.


"Sebegitunya, Sayang. Bahkan 2 minggu lagi, kita nikah lho."


Iman semakin mendekat pada Qonita, lalu berbisik. "Jujur ama Aku, Sayang, kita memiliki rasa yang sama, kan? Dan kamu udah lama memendamnya." Iman tersenyum menggoda.


"Abang, apaan seh." Qonita merajuk.


“Hahaha... Kamu gak pande berbohong, Sayang. Jadi, apa yang Kamu suka dari Aku, hm?" ucap Iman dengan senyum menggoda.


"Abang, udah ih. Beneran Bang, gada yang perlu Qonita urus untuk pernikahan kita?" tanya Qonita mengalihkan.


"Ada. Kamu cukup persiapkan 1 hal aja," seru Iman lalu memasang wajah datar.


"Apa, Bang?" tanya Qonita serius.


"Persiapkan diri Kamu untuk malam pertama kita. Hahaha..." Tawa Iman menggelegar di rumah Qonita.


Qonita mendengus.


"Seperti yang Kamu bilang Sayang, begitu kita udah sah, Kamu jangan malu-malu lagi sama Aku. Aku mau, Kamu yang goda Aku, saat malam pengantin nanti." Iman tersenyum, sebelah kiri bibirnya naik.


"Haa..?" Qonita terbelalak.


"Kan udah sah, Sayang. Gada alasan nolak lagi, kan?" Iman tersenyum menggoda. "Gimana, Sayang?"


"Iya... iya..." seru Qonita terpaksa.


"Iya apa, Sayang? Yang jelas donk."


"Ck." Qonita berdecak.

__ADS_1


"Ok. Aku tunggu saat dimana Kamu duluan yang ium-ium eluk-eluk Aku, lagi pake lingerie.


❤️❤️❤️


Hari ini, Qonita datang ke Sekolah tempat ia bekerja, dengan membawa kartu undangan pernikahannya.


Ia hendak membagikan kartu undangan, pada rekan kerjanya sekaligus mengurus cuti pernikahannya.


"Alhamdulillah, selamat ya, Qonita. Selama ini diam-diam aja, eh tiba-tiba langsung bagi undangan," seru salah satu temannya.


"Wah, jadi semingu lagi Kamu nikah, Qonita? Selamat ya, Dek," ucap temannya yang lain.


"Makasih, Kak," jawab Qonita.


❤️❤️❤️


Qonita melihat ponselnya. Sudah banyak pesan yang masuk di grup alumni kuliahnya dulu. Nama grup itu dibuat 'Genks'.


Qonita tadi bertemu dengan Yuli. Dia menitipkan undangan buat teman-temannya. Ternyata Yuli menshare kartu undangan tersebut di grup.


Arya : "Selamat ya, Qonita. Akhirnya."


Putri : "Yah, ada yang patah hati untuk yang kedua kalinya neh."


Dina : "Wah, jadi juga sama Bang Iman ya, Kak. Patah hati lah Dina ini, Kak."


Mila : "Hahaha... Ngarep banget, Dek. Macam bisa aja Kamu buat duren kayak Iman, kecantol sama Kamu."


Dina : "Ya mana tahu Bang Iman malah suka sama Aku, jatuh cinta pada pandangan pas ketemu kemaren. Hahahha..."


Ozy : "Wouw, ada yang bakal jadi Nyonya Boss neh. Selamat ya, Kak Qonita. Nanti bisalah cincai-cincai lanjutin proyek dengan kantorku ya Kak, itung-itung mempererat silaturahmi diantara kita."


Tia : "Huuuu..."


Fadil : "Nepotisme."


Ozy : "Sekalian, Bro. Hahaha..."


"Aamiin." Dibalas oleh belasan anggota grup.


Qonita : "Aamiin. Terima kasih, Teman-teman. Maaf ya, gak bisa kasih undangannya langsung. Ditunggu kehadirannya, ya."


❤️❤️❤️


Sudah seminggu Qonita tak bertemu dengan Iman. DIPINGIT. Itulah alasan bahwa Iman tak boleh menjumpai Qonita.


Suara ponsel Qonita berdering. Ia melihat nama Iman tertera disana.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam, Sayang. Rindu."


Qonita tersenyum, tak dapat dilihat oleh Iman, karena mereka tak melakukan Video Call.


"Abang lagi apa?"


"Mikirin Kamu, Sayang. Seminggu gak ketemu Aku, pasti Kamu kangen banget kan, Sayang?"


"Helleh, padahal Abang yang rindu. Tapi malah nuduh Qonita," ejek Qonita.


"Iya... iya. Aku yang rindu. Aku udah gak sanggup menahan rasa rindu ini. Aku pengen ketemu Kamu. Puas Kamu, Sayang?"


"Hehhe..." Terdengar tawa Qonita.


"Puas banget ketawanya, Sayang. Awas Kamu, ya. Ketemu nanti, Aku balas."


"Balas gimana, Bang? Ketemunya paling pas selesai akad besok, Bang."


"Yah, lama," gerutu Iman.

__ADS_1


"Lho, kan besok, Bang. Paling tinggal beberapa jam lagi."


"Bagi Aku, lama banget, Sayang."


"Hem. Oh ya, hapalin kalimatnya Bang, jangan sampe ngulang, ya. Awas lho!"


"Iya, sekali aja langsung sah, Sayang. Tenang aja. Kamu udah gak sabar, ya?"


"Abang ih, dasar."


"Hahaha... Besok Kamu mulai panggil Aku 'Sayang', ya. Kan besok udah sah."


"InsyaAllah, calon Imam Qonita."


Deg


Iman terdiam. Hening beberapa detik.


"Sayang..."


"Ya, Bang."


"Tadi Kamu bilang apa?"


"Yang mana?"


"Yang tadi."


"Udah lupa, tuh. Hahaha..."


"Aargh, Sayang. Beneran Aku kesana sekarang, ya."


"Ha?"


"Jangan tidur dulu. Aku kesana sekarang."


"Bang..."


"Ya, Sayang."


"Jangan aneh-aneh."


"Aneh gimana, Sayang?"


"Bang, ih..."


"Apa, Sayang?"


"Udah tidur. Kan besok harus datang pagi."


"Wah, udah gak sabar ya, jadi istri Aku?"


"Iya, puas?"


"Hahaha..."


"Udah malam. Udah dulu ya, Bang."


"Gak mau. Kasih kiss dulu. Kalo gak, Aku kesana ini."


"Bang..."


“Kiss, Sayang."


Terdengar tarikan nafas Qonita.


"Mmuuuaanch." Terdengar berat Qonita untuk melakukannya.


"Mmmuuaaaaach. Makasi,Sayang. Mimpi indah, Calon istriku. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikum salam."


__ADS_2