PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 109 Temui Keluargamu


__ADS_3

..."Setiap kali orang bertanya apakah aku baik-baik saja, hal ini semakin mengingatkan bahwa aku tidak baik-baik saja." - anonim....


Binjai, Sumatera Utara


Karena Qonita sudah terlihat baikan, Iman akhirnya memutuskan bekerja. Namun sebelum pergi ke kantor, Iman terlebih dahulu menemui Mayang di Binjai.


"Assalamu'alaikum," ucap Iman memasuki rumah Mayang. Pintu rumah yang tidak ditutup membuat Iman langsung menuju ruang tengah.


"Wa'alaikum salam," ucap Mayang lalu berdiri dan memeluk suaminya. Iman memberikan ciuman di kepala istrinya.


"Masih ingat kalau punya anak dan istri disini," sindir Bu Irma.


"Maaf, Ma." Iman mendatangi mama mertuanya lalu menyalam ibu kandung dari Mayang itu. Ini pertama kalinya Iman memanggi 'mama' pada Bu Irma. Iman lalu duduk dihadapan mama mertuanya.


"Mama gak terima atas apa yang Mayang rasakan selama 8 tahun ini. Mama fikir kalian udah hidup bahagia bersama, itu makanya kami membiarkan Mayang pergi dan menjauh dari kami, keluarganya," ucap Bu Irma.


"Tetapi apa, bisa-bisanya Kamu hanya menikahi Mayang secara siri dan menutupi keberadaannya, bahkan Kamu juga menikahi perempuan lain," sambung Bu Irma tanpa basa-basi.


"Dari awal Mayang udah tahu kondisinya jika tetap bersikeras mau menikah dengan Iman, Ma," sahut Iman.


"Tapi ini gak adil untuk Mayang dan Yuna. Kalian harus segera mengurus pernikahan kalian secara hukum," desak Bu Irma.


"Maaf, Ma. Iman gak bisa melakukannya."

__ADS_1


Prang


Bu Irma memukul meja karena tidak terima akan penolakan mantunya itu.


"Kalau Kamu gak bisa memberikan kebahagiaan pada anak Saya, kembalikan dia kepada Kami. Biar kami yang mengurus dan membahagiakannya," bentak Bu Irma.


"Ma..." ucap Mayang protes akan penyataan sikap mamanya.


"Iman udah berjanji gak akan menceraikan Mayang, Ma," ungkap Iman.


"Kalau begitu berikan hak yang sama besar pada Mayang dan Yuna seperti hak yang Kamu berikan pada istri dan anak Kamu yang lain."


"Maaf, Ma. Iman gak bisa memberi lebih."


"Ceraikan Mayang sekarang juga!"


"Ma..." Mayang menangis mendengar permintaan paksa mamanya. Mayang memang ingin agar Iman berlaku adil padanya, tapi dia sama sekali tidak ingin berpisah dari suaminya.


Iman menghela nafas panjang. Dia sudah tidak tahu harus berbuat apa. Memenuhi permintaan mama mertuanya itu tentu saja tidak bisa dia lakukan. Keluarganya saja bahkan sudah mewanti- wanti bahwa hanya Qonita lah mantu dari keluarga opa Pras, tidak ada yang lain.


Sementara jika menenuhi permintaan opa Pras dan keluarganya agar menceraikan Mayang, dia juga tidak mampu. Mayang dan Yuna sudah banyak menderita selama ini. Dan dia juga sudah berjanji pada Mayang tidak akan menceraikan Mayang jika bukan Mayang yang menginginkannya.


"Kamu berhak bahagia, Yang. Dan suamimu ini gak bisa memberikannya. Gak ada orang tua yang sanggup melihat anak kesayangannya menderita dan disia-siakan seperti ini."

__ADS_1


"Ceraikan Mayang sekarang!" bentak Bu Irma.


"Mayang gak mau berpisah sama Iman, Ma." Mayang terisak mengucapkannya.


Bu Irma menghela nafas berat. "Apa yang Kamu harapkan dari suami yang gak pernah memikirkan perasaanmu, Yang? Kalau begitu, Kamu dan Yuna ikut dengan Mama ke Jakarta. Kita tanya pendapat papa."


Bu Irma pergi meninggalkan Mayang dan Iman berdua. Dia memasuki kamar Yuna. Selama tinggal di rumah Mayang, Bu Irma tidur bersama Yuna.


"Aku harus gimana, Im?" tanya Mayang pada suaminya. Mayang terisak dalam pelukan suaminya.


"Pergilah dulu jumpai keluargamu, Yang. Udah 8 tahun Kamu gak bertemu mereka. Kamu pasti sangat rindu." Iman mengelus rambut istrinya.


"Bagaimana jika mereka tetap menyuruh kita berpisah, Im?"


"Nanti kita fikirkan jalan keluarnya, ya." Iman mencoba menenangkan hati istrinya.


"Apa Kamu akan mempertahankan Aku, Im?" tanya Mayang lirih.


"Aku akan menepati janjiku, Yang."


"Apa Kamu mencintaiku, Im?"


Iman tersenyum lalu mengelus pipi istrinya. "Iya, Aku mencintaimu, Yang." Lalu Iman mengecup singkat bibir istrinya.

__ADS_1


❤️❤️❤️


..."Proses pendewasaan dalam hidup ini adalah melalui ujian-ujian yang terjadi dalam hidup." - anonim....


__ADS_2