PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 122 Nafkah 10 M?


__ADS_3

..."Sadarkah kau jika kita sedang di arah yang berbeda, mungkin aku yang berjalan menjauh, atau kamu yang sedang menyimpang?,” anonim...


Jakarta


Iman sudah berada di Jakarta. Dia merental mobil dengan bantuan rekan bisnisnya. Saat telah menemukan rumah papanya Mayang, dia melihat Mayang dan Yuna baru turun dari sebuah mobil.


Istrinya itu sedang menggendong seorang bayi. Ada raut bahagia di wajah Mayang. Berbeda sekali dengan raut wajah kesedihan saat petemuan terakhir mereka.


Iman tersenyum miris. "Semoga Kamu terus berbahagia seperti ini, Yang." Iman berbicara sendiri.


Mobil Iman memasuki halaman rumah. Dia turun dan mengucap salam.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


Papa, mama, Mayang, Yuna, Agil dan Rangga ada di ruang tamu. Tadi Agil memang membawa Mayang dan Yuna berjalan-jalan. Dia hendak pamit pulang pada Pak Erlangga.


"Papi," teriak Ichy berlari memeluk papinya. Iman memeluk dan menci um putrinya.


Agil melirik pada Mayang. Demikian halnya dengan Mayang, juga sekilas melirik Agil.


"Maaf sudah sore, kalau begitu Saya permisi pulang." Agil pamit undur diri.


"Mas Agil," panggil Mayang.


Agil sedikit tersentak. Ini pertama kalinya Mayang memanggilnya. Ada sedikit kebahagian dalam hati Agil. Meski dia tahu Mayang sengaja melakukannya karena ada suaminya.


"Mungkin Mas bisa menjadi saksi kala suamiku menjatuhkan talak padaku," ungkap Mayang.


Agil dan kedua orang tua Mayang terkejut.


"Agil gak punya urusan dengan hubungan kalian berdua, urusannya denganmu nanti setelah Kamu bercerai dengan suamimu," ucap Pak Erlangga pada Mayang.


Deg

__ADS_1


Agil, Mayang serta Iman terkejut akan keterus terangan papa Mayang.


"Pulanglah dulu, Nak Agil. Kasihan Rangga juga butuh istirahat," sahut Bu Irma.


Agil dan Rangga pun pulang.


"Silahkan duduk." Pak Erlangga mempersilahkan Iman untuk duduk.


Iman pun duduk.


"Yuna, mandi dulu, ya. Udah sore," ucap Bu Irma pada cucunya.


"Tapi Oma, Yuna rindu sama Papi," rengek Yuna.


"Papi pulangnya nunggu Kamu mandi, Sayang. Sekarang mandi dulu, ya," pinta Mayang pada putrinya.


"Yuna mandi dulu ya, Pi. Ingat jangan pulang."


Iman tersenyum pada putrinya. "Iya, Sayang."


"Maaf, maksud kedatangan Saya kesini ingin membicarakan hubungan Saya dengan Mayang," ucap Iman pada orang tua Mayang.


Pak Erlangga mengangguk. "Seberapa kuat kalian bertahan, gak akan baik untuk semua. Karena terkadang bukan bertahan yang membuat keadaan menjadi lebih baik, melainkan melepaskan."


Deg


Walau Mayang sudah mengetahui akhirnya akan seperti ini, tetapi hatinya tetap merasa sakit mendengar penuturan papanya.


"Kamu kesini untuk menceraikan Mayang, bukan?" tanya Pak Erlangga.


Iman pun mengangguk. "Maaf. Maaf untuk kekurangan dan kesalahan Saya selama ini."


Air mata Mayang menetes. Dia usap air matanya itu, mencoba untuk tetap tegar.


"Kamu udah siap, Nak?" tanya papa Mayang pada anaknya.

__ADS_1


"Mayang punya syarat, Pa," ucap Mayang.


"Apa itu?" tanya papa Mayang.


"Iman harus memberikan nafkah pada Yuna. Mayang gak menginginkan nafkah bulanan. Cukup sekali kasih aja. Setelah itu kita gak perlu bertemu lagi," ujar Mayang.


Deg


Iman terkejut mendengarnya.


"Yuna itu darah dagingku, Yang. Gimana mungkin Kamu meminta Aku untuk gak menemuinya lagi?"


"Iman benar Nak. Kamu gak bisa melarangnya bertemu dengan Yuna," ucap Pak Erlangga.


"Mayang gak bisa bertemu lagi dengannya, Pa. Sakit jika harus mengingat semua kenangan di antara Kami. Mayang takut gak kuat." Mayang menangis.


"Kamu gak perlu bertemu dengannya nanti. Cukup Yuna aja yang menemuinya," ujar Pak Erlangga.


"Tapi, Pa..." seru Mayang.


"Udahlah Yang. Biarkan Yuna tetap bertemu dengan papanya," imbuh Pak Erlangga.


Mayang pun terpaksa mengangguk.


"Berapa jumlah yang Kamu inginkan, Yang?" tanya Iman pada Mayang.


"10 M."


Deg


Bukan hanya Iman yang terkejut. Papa dan Mama Mayang pun ikut terkejut."


❤❤❤


“Dan kenyataannya kita hanya bertegur sapa, padahal dulu pernah sedekat nadi, hingga akhirnya hujan membawamu pergi,” anonim.

__ADS_1


__ADS_2