PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 59 Happy-happy


__ADS_3

Qonita dan keluarganya puas berenang hari ini. Anak-anak sudah tidur. Tidak tidur siang ditambah kelelahan berenang membuat tubuh mereka lelah, sehingga 1 jam setelah makan malam mereka pun tidur.


Pakaian yang akan dibawa Iman keluar kota sudah disediakan. Kini sepasang suami istri itu tengah berada kamar mereka.


Selesai menunaikan sholat Isya berjamaah, Iman mengambil posisi rebahan di tempat tidur. Sementara istrinya menuju kamar mandi.


Ceklek


Terdengar pintu kamar mandi terbuka. Iman melihat ke arah pintu.


Deg


Iman terperangah melihat istrinya kini begitu sexy. Lingerie hitam yang kini tengah dipakai istrinya itu belum pernah ia lihat sebelumnya. Qonita mendekat ke arahnya.


"Baru, Sayang?" tanya Iman menyentuh pakaian tipis yang membalut tubuh Qonita. Mungkin fungsinya hanya sebagai hiasan saja, karena sama sekali tak bermanfaat sebagai penutup tubuh.


"Iya, Bang. Kemaren beli online," jawab Qonita tersenyum malu.


"Kog tadi Aku gak lihat Kamu bawa gaun malam ini ke kamar mandi?" Iman menaikkan alisnya.


"Gaun malam?" tanya Qonita heran.


"Iya, ini." Iman menunjuk lingerie yang dipakai Qonita.

__ADS_1


Qonita tersipu malu. Suaminya itu memang berbeda. Suka sekali membut sensasi. "Gaun malam berserta pendukungnya udah Qonita siapkan di kamar mandi sebelumnya, Bang," ucap Qonita cengengesan.


"Hem, udah direncanakan rupanya. Pantesan Aku tadi disuguhi telur ayam kampung setengah matang 2 biji." Iman menyeringai.


Tadi sebelum masuk ke kamar, Qonita memberikan suaminya puding telur ayam kampung. "Biar besok Abang vit." Seperti itu tadi kata istrinya.


"Tadi siang Kamu bilang akan buat Aku kenyang kan, Sayang? Mulai donk, Aku udah laper, neh." Iman mengerling pada istrinya.


Qonita merapatkan tubuhnya pada bidang suaminya. Mereka duduk berhadapan. Paha kanan Qonita menimpa paha suaminya. Sementara tangan kirinya memegang tengkuk suaminya. Jemari tangan kanannya menangkup rahang suaminya.


Qonita mulai mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya. Pandangannya menuju bibir suaminya.


Cvp


Qonita memberikan sebuah kecvpan singkat sebagai pembukaan.


Mereka saling melvmat secara perlahan-lahan. Tempo c!uman yang pelan malah terasa begitu dalam dan penuh cinta.


Qonita kembali melepas bibir mereka. Ia tersenyum menatap suaminya.


"I love you." Qonita mengungkap cinta pada suaminya.


Iman tersenyum hangat. "I love you too so much, my queen."

__ADS_1


Qonita bergerak hendak duduk dipangkuan suaminya. Bersamaan dengan itu Iman memegang pinggang Qonita dengan kedua tangannya. Tanpa aba-aba dan tanpa komando, pasangan suami istri itu melakukan gerakan yang seirama, sepemikiran.


Benarkah apa yang dikatakan orang, bahwa bahasa tubuh mampu menerjemahkan semua keinginan? Dan pasangan suami istri itu kini sedang berbicara melalui bahasa tubuh mereka.


Saling menyambut, saling membalas dan saling merasakan manisnya rasa dari bibir mereka. Kedua insan itu kini mulai dibakar ga!rah. C!uman yang tadinya berjalan dengan pelan kini berubah berkecepatan tinggi.


Mesin sudah mulai terasa panas, Qonita mulai memasuki bagian inti dari kegiatan panas mereka. Ia membuka kaus yang dipakai suaminya. Bibirnya sudah berkelana disepanjang tubuh suaminya. Seperti tak tau arah, tersesat dalam setiap lekuk bidang suaminya.


Iman menutup matanya. Menikmati sensasi menyenangkan yang diciptakan istrinya. Setiap kali istrinya mengecup dan memainkan lidah di bagian tubuhnya, Iman meracau pelan.


'"Ah..." Iman setengah berteriak kala merasa sebuah gigitan yang agak kuat di bahunya.


"Emph." Iman meracau saat sapuan lidah istrinya membasahi bahu yang tergigit tadi.


"You're hot like a vampire, baby." Iman menatap tajam pada istrinya.


Tak kuat menahan ga!rahnya, Iman kini membalas perlakuan melenakan istrinya. Ia mulai menjelajah seluruh permukaan kuliat istrinya. Badan Qonita mulai meliuk-liku bagai cacing kepanasan. D3sahan-d3sahan kecil mulai keluar dari mulut Qonita.


Badannya membusung kala bibir suaminya turun ke bagian dadanya. Bibir suaminya betah bermain disana. Lama berkeliling disana seolah-olah ingin tetap tinggal disana.


"Bang." Qonita melenguh tak tertahan. Sorot matanya memohon.


"Kamu yang pimpin, Sayang. Puasin Aku malam ini," ucap Iman parau.

__ADS_1


Qonita mengerti kemauan suaminya. Ia menyingkir sesaat agar suaminya bisa memposisikan diri tidur telentang.


Qonita menaiki tubuh suaminya, kembali menggerayangi tubuh berotot itu. Merasa cukup, Qonita mulai menyatukan tubuh mereka. Menunggangi kuda dengan kecepatan tinggi agar segera mencapai finish.


__ADS_2